ASML's Architects
Bab 67
O-Lab
#1: Krisis Jari Emas & Perburuan Global (1990-1992)
Produksi lensa PAS 5500 macet total.
Ketergantungan pada Pengrajin: Pada 1990, Zeiss hanya punya 6 orang dengan "jari emas" (golden fingers) yang bisa memoles lensa i-line secara manual. Kapasitas mereka hanya 10 sistem/tahun.
Kebutuhan Mendesak: Untuk memenuhi pesanan ASML, Zeiss butuh setidaknya 40 pengrajin tambahan.
Perburuan Sia-sia: Zeiss berkeliling dunia mencari spesialis iniādari Eropa Timur, Amerika, hingga membeli perusahaan pertahanan di Afrika Selatan demi mendapatkan 5 pengrajin. Hasilnya nihil karena butuh 6-10 tahun untuk melatih satu orang.
#2: Ketakutan Manajemen Zeiss
CEO Jobst Herrmann dan dewan direksi Zeiss enggan berinvestasi.
Aversion to Risk: Di tengah krisis reunifikasi dengan Jena dan penurunan penjualan ASML (dari 74 mesin di '89 menjadi 36 di '91), mereka ingin membubarkan divisi optik semikonduktor atau hanya merekrut pekerja temporer. Mereka tidak melihat masa depan di bisnis ini.
#3: Awal Digitalisasi O-Lab (Optik-Labor)
Di sisi lain, laboratorium riset Zeiss (O-Lab) mulai bereksperimen.
Awal Primitif: Awalnya data interferometri masih analog (kertas/pita magnetik). Jika kereta api lewat di luar pabrik, getarannya merusak data pengukuran.
Komputer Lambat: Menggunakan PC 286, butuh semalaman hanya untuk memproses data satu lensa.
#4: Pertarungan Ideologi Otomatisasi (Beckstette vs Lichtenberg)
Terjadi perdebatan sengit tentang cara mengotomatisasi produksi:
Kubu Konservatif (Klaus Beckstette): Ingin membuat mesin tradisional menjadi lebih kokoh dan kaku (rigid), menggunakan basis granit dan kontrol CNC. Ini pendekatan mahal ($2-4 juta per mesin) dan masih butuh banyak intervensi manusia.
Kubu Robotik (Claus Lichtenberg): Insinyur muda lulusan Universitas Stuttgart ini percaya pada sistem fleksibel menggunakan robot murah ($70 ribu) yang dipandu data digital.
#5: Eksperimen Robot & Sinar Ion (1993)
Lichtenberg, dibantu Hermann Gerlinger dan Winfried Kaiser, bereksperimen diam-diam di pojokan bengkel.
Closed-Loop System: Mereka menghubungkan interferometer (pengukur) langsung ke robot pemoles. Komputer memetakan "bukit dan lembah" di permukaan lensa dalam nanometer, lalu memerintahkan robot untuk menggosok bagian yang menonjol saja.
Ion Beam Figuring: Terinspirasi ilmuwan Martin Weiser, Lichtenberg menggunakan sinar ion untuk menembak atom satu per satu. Ini lambat tapi presisinya ekstrem (di bawah 10 nanometer), jauh melampaui kemampuan tangan manusia atau mesin tradisional.
#6: Kemenangan Logika Ekonomi
Lichtenberg membuktikan pendekatannya jauh lebih realistis.
Biaya: Solusi robotik membutuhkan biaya per lensa sekitar $2.500 - $3.000.
Perbandingan: Solusi mesin kaku Beckstette membutuhkan biaya 10 kali lipat lebih mahal dan investasi modal puluhan juta dolar yang tidak mungkin disetujui manajemen.
Kesimpulan: Revolusi robotik dan ion beam inilah yang akhirnya memungkinkan Zeiss memproduksi lensa super-presisi secara massal untuk ASML, melepaskan ketergantungan pada "jari emas".