Not Wild About Wild

ASML's Architects 
Bab 46
Not Wild About Wild

#1: "Cinta Segitiga" Zeiss dan Keputusan Gila Smit (Akhir 1985)

Zeiss menolak memberikan eksklusivitas kepada ASML karena mereka sedang sibuk melayani banyak "pelamar" lain: ASET, Hitachi, Perkin-Elmer Censor, dan tentu saja GCA (yang mencoba bangkit dengan divisi optik Tropel).

- Keputusan Smit: Frustrasi dengan eksekutif Zeiss ("jas hitam di menara"), Smit melakukan langkah yang dianggap "gila" secara finansial: mendekati Olympus (Jepang) dan Wild Heerbrugg (Swiss) secara bersamaan.
- Risiko: Ini berarti ASML harus membiayai tiga jalur pengembangan optik sekaligus saat kas perusahaan sedang kritis.

#2: Proyek "Europa" dan Kegagalan Olympus (1986)

Sementara mencari alternatif, hubungan dengan Zeiss tetap berjalan untuk proyek spesifik.

- Lensa Europa: Pada Maret 1986, Zeiss mulai mendesain lensa i-line bernama "Europa". Ini pesanan khusus Philips dan Siemens untuk Proyek Megachip, yang rencananya akan dipasang di mesin ASML model PAS 2500/40.
- Kegagalan Olympus: Upaya kerja sama dengan Olympus mati dini. Masalahnya sederhana namun fatal: hambatan bahasa. Rapat teknis harus menggunakan penerjemah, membuat kolaborasi mustahil.

#3: Korban Pertama: Kepergian Herman van Heek

Proyek dengan Wild Heerbrugg memakan korban manajemen.

- Herman van Heek: Awalnya ia yang memimpin proyek Wild. Namun, tekanan kerja yang gila ("pressure cooker") membuatnya tidak tahan. Ia menyerahkan tongkat estafet kepada Martin van den Brink dan "melarikan diri" pindah ke Philips CFT.
- Ketidakinginan Martin: Martin van den Brink (29 tahun) dan Frits van Hout sebenarnya membenci proyek ini ("Wild tidak akan menghasilkan apa-apa"), tetapi dipaksa oleh Smit dan Evert Polak untuk melanjutkannya.

#4: Pertarungan Kontrak: "Pisau di Leher"

Martin van den Brink terbang ke Swiss bersama ahli optik Natlab, Joseph Braat.

- Intimidasi: CEO Wild, Dr. Schwarzmüller, mengancam membatalkan proyek jika Martin tidak menandatangani kontrak saat itu juga.
- Bluffing Martin: Martin menolak ditekan ("Saya tidak pernah menandatangani kontrak"). Ia menelepon Smit dan berkata kasar tentang Wild.
- Klausul Penyelamat: Martin akhirnya mau tanda tangan dengan satu syarat: penambahan rumus matematika spesifik tentang kedalaman fokus (depth of focus). Klausul ini kelak menjadi "pintu darurat" yang menyelamatkan ASML.

#5: Duel Matematika: Kartu Punch Braat vs Arogansi Hildebrand

Bab ini memberikan latar belakang kredibilitas Joseph Braat.

- Sejarah Braat: Di Natlab, Braat menulis sendiri kode perangkat lunak optiknya (yang berkembang dari 500 menjadi 40.000 kartu punch) untuk mendesain optik Video Long Play (pendahulu CD).
- Kesalahan Hildebrand: Braat menemukan bahwa Klaus Hildebrand (matematikawan jenius Wild) menggunakan perhitungan aberasi sinar (ray aberrations)—cocok untuk peta, tapi tidak cukup akurat untuk chip. Litografi butuh aberasi muka gelombang (wavefront aberrations).
- Arogansi: Hildebrand awalnya meremehkan Braat, namun akhirnya terpaksa mengakui kesalahannya dan merevisi perangkat lunaknya. Meski begitu, desain dasar lensa Wild tetap memiliki toleransi produksi yang terlalu ketat (3x lebih kecil dari yang wajar).

#6: Kegagalan Helium dan Akhir Cerita

Prediksi Martin terbukti benar setahun kemudian.

- Sensitivitas Cuaca: Lensa Wild ternyata sensitif terhadap tekanan udara. Bidang fokusnya melengkung tergantung cuaca.
- Gagal Tambal: Upaya mengisi lensa dengan helium gagal karena lensa terus bocor.
- Putus Hubungan: Berkat klausul "kedalaman fokus" yang dipaksakan Martin di awal, ASML bisa membatalkan kontrak tanpa kerugian besar. Ini menjadi pelajaran mahal bahwa hanya Zeiss yang benar-benar bisa membuat lensa litografi.

Leave a Comment