“My Enemy’s Enemy”: The Rise of Korea

Chip War 
Bab 23
“My Enemy’s Enemy”: The Rise of Korea

#1: Transformasi dari Ikan Kering ke Teknologi Tinggi (1938 - 1980-an)
Lee Byung-Chul, pendiri Samsung yang lahir pada tahun 1910, memulai karir bisnisnya pada Maret 1938 dengan menjual ikan kering dan sayuran ke China yang diduduki Jepang.

Meskipun memulai dari komoditas sederhana, Lee memiliki ambisi membangun bisnis yang "besar, kuat, dan abadi." Setelah berhasil menavigasi kekacauan politik pasca-perang dan kudeta militer tahun 1961 dengan memposisikan Samsung sebagai alat pengabdi negara, Lee melihat peluang besar dalam industri semikonduktor pada awal 1980-an, terinspirasi oleh kesuksesan Toshiba dan Fujitsu serta kunjungan "mencerahkan" ke fasilitas Hewlett-Packard di California pada musim semi 1982.

#2: Dukungan Negara dan Taruhan $100 Juta (1983)
Pada Februari 1983, setelah pertimbangan panjang dan malam tanpa tidur, Lee menelepon kepala divisi elektronik Samsung dan mendeklarasikan: "Samsung akan membuat semikonduktor."

Keputusan berisiko ini didukung oleh komitmen pribadi Lee untuk berinvestasi setidaknya $100 juta dan dukungan masif pemerintah Korea Selatan yang telah menjanjikan investasi $400 juta untuk pengembangan industri chip. Mengikuti model Jepang, Samsung bertransformasi bukan dari garasi, melainkan sebagai konglomerat raksasa (chaebol) yang didukung oleh pinjaman bank murah dan proteksi negara untuk melompat dari perakitan dasar ke manufaktur canggih.

#3: Strategi Silicon Valley: "Musuh dari Musuhku"
Kebangkitan Samsung tidak lepas dari perhitungan strategis Silicon Valley. Bob Noyce dan Jerry Sanders melihat Korea sebagai alat untuk mematahkan dominasi Jepang.

Logika mereka sederhana: "musuh dari musuhku adalah temanku." Produsen chip AS percaya bahwa dengan membantu Korea—yang memiliki upah lebih rendah—mereka dapat menciptakan pesaing harga murah yang akan memukul produsen Jepang. Oleh karena itu, Intel dan perusahaan lain rela melakukan usaha patungan (joint venture) dan menjual chip buatan Samsung di bawah merek mereka sendiri demi merusak monopoli Jepang.

#4: Transfer Teknologi Micron dan Penyelamatan Finansial
Dalam kondisi industri AS yang sekarat, transfer teknologi terjadi dengan mudah. Micron, startup Idaho yang sangat butuh uang tunai, setuju melisensikan desain DRAM 64K mereka kepada Samsung.

Bagi Micron, suntikan dana dari Samsung ini "hampir krusial" untuk bertahan hidup dari kebangkrutan. Namun, langkah ini secara efektif mengajarkan Samsung cara memproduksi memori canggih, sebuah transfer pengetahuan yang dikhawatirkan Gordon Moore sebagai tindakan putus asa menjual aset berharga, namun dianggap masuk akal oleh perusahaan yang sedang berjuang untuk tetap hidup.

#5: Keuntungan Tak Terduga dari Perang Dagang (1986)
Ironisnya, kebijakan perdagangan AS justru menguntungkan Korea. Ketika Washington memaksa Jepang untuk membatasi ekspor dan menaikkan harga chip pada tahun 1986 (untuk menghentikan dumping), celah pasar terbuka lebar bagi Korea.

Dengan chip Jepang yang menjadi mahal dan terbatas, pembeli AS beralih ke Samsung yang menawarkan harga lebih kompetitif. Tanpa disengaja, upaya AS untuk menghukum Jepang justru memberikan karpet merah bagi Samsung untuk menguasai pangsa pasar global dan menjadi superpotensi semikonduktor baru.

Leave a Comment