Motivation Crowding

The Art of Thinking Clearly 
Bab 56
Motivation Crowding

1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Motivation Crowding (Penggerusan Motivasi / Efek Desakan Motivasi).
Deskripsi Judul: "Bagaimana Bonus Menghancurkan Motivasi" (How Bonuses Destroy Motivation).

2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Motivation Crowding? Ini adalah fenomena di mana pemberian insentif uang (ekstrinsik) justru mengurangi atau menghilangkan motivasi murni non-moneter (intrinsik) seseorang untuk melakukan sesuatu. Ketika orang melakukan sesuatu karena kebaikan hati, semangat, atau kewajiban sosial, pembayaran uang justru merusak niat tersebut karena mengubah hubungan antarmanusia menjadi transaksi komersial semata.

Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan Motivation Crowding karena insentif finansial datang dan "mendesak keluar" (crowd out) jenis motivasi lain yang lebih luhur. Uang mengikis keinginan tulus seseorang untuk berkontribusi.

3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Kesalahan Umum Manajemen)
Alasan: Banyak manajer dan orang tua beranggapan bahwa uang adalah motivator universal. Mereka lupa bahwa dalam pekerjaan berbasis misi (seperti nirlaba) atau hubungan sosial, uang kecil justru dianggap sebagai penghinaan atau suap yang menurunkan kinerja.

4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Penitipan Anak (Denda Keterlambatan): Untuk mengurangi orang tua yang telat menjemput, penitipan anak memberlakukan denda uang. Hasilnya? Keterlambatan justru meningkat. Denda mengubah hubungan sosial (rasa bersalah pada guru) menjadi hubungan moneter (membayar untuk boleh telat). Orang tua merasa sah untuk telat asalkan membayar.

- Limbah Nuklir di Swiss: Awalnya 50,8% warga desa setuju menampung limbah nuklir demi kewajiban negara. Ketika pemerintah menawarkan imbalan $5.000 per warga, persetujuan justru anjlok menjadi 24,6%. Uang tersebut dianggap sebagai suap dan merendahkan semangat patriotisme mereka.

- Bantuan Pindahan Teman: Penulis membantu temannya memindahkan barang antik yang berharga karena peduli. Temannya kemudian mengirim uang $50 sebagai terima kasih. Penulis justru tersinggung. Uang itu merusak niat baiknya dan menodai persahabatan, mengubah bantuan tulus menjadi "upah buruh murah".

5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Kenali Jenis Pekerjaan: Bonus uang bekerja baik untuk pekerjaan yang membosankan dan tidak inspiratif (di mana karyawan bekerja hanya demi gaji). Namun, untuk start-up, LSM, atau pekerjaan berbasis passion, hindari bonus transaksional karena akan membunuh antusiasme.

- Jangan Bayar Anak Per Tugas: Jangan membiasakan membayar anak untuk setiap PR atau pekerjaan rumah tangga. Berikan uang saku tetap mingguan. Jika dibayar per tugas, mereka akan belajar mengeksploitasi sistem dan menolak bekerja tanpa bayaran.

- Hargai Niat Tulus: Jika seseorang membantu Anda karena kebaikan hati, jangan balas dengan uang kecil. Balaslah dengan hadiah non-moneter atau budi baik lainnya agar tidak merendahkan motivasi mereka.

Leave a Comment