Morris Chang’s Grand Alliance

Chip War 
Bab 37
Morris Chang’s Grand Alliance

#1: Transisi ke Era CEO MBA (Awal 2000-an)
Pada tahun 2000-an, terjadi pergeseran budaya kepemimpinan di Silicon Valley. Generasi pendiri "koboi" seperti Jerry Sanders yang romantis terhadap pabrik digantikan oleh eksekutif berlatar belakang MBA yang rasional dan berbicara bahasa metrik keuangan.

Perubahan ini mendorong keputusan strategis untuk memisahkan desain dari manufaktur (fabless) demi profitabilitas. Lima tahun setelah Sanders pensiun, AMD memutuskan untuk melepaskan pabrik-pabriknya (spin-off) menjadi entitas terpisah bernama GlobalFoundries yang didanai oleh Mubadala (Uni Emirat Arab), menandai berakhirnya era "Real Men Have Fabs" dan dimulainya dominasi model foundry.

#2: Tantangan Fisika Hukum Moore (Akhir 2000-an)
Seiring Hukum Moore terus berjalan (180nm di 1999 hingga 45nm di akhir 2000-an), industri menghadapi tembok fisika. Pengecilan transistor secara 2D menjadi tidak layak karena masalah "kebocoran" listrik dan efek kuantum (tunneling) akibat lapisan isolator yang hanya setebal beberapa atom.

Untuk mengatasi ini, industri memperkenalkan arsitektur transistor 3D revolusioner bernama FinFET (transistor bersirip) pada node 22nm. Desain ini memungkinkan kontrol elektron yang lebih baik dari tiga sisi, namun pembuatannya membutuhkan presisi manufaktur yang jauh lebih tinggi dan biaya yang sangat mahal, meningkatkan risiko bagi produsen yang gagal beradaptasi.

#3: Peluang dan Ancaman GlobalFoundries (2009)
Ketika GlobalFoundries berdiri sebagai perusahaan independen pada tahun 2009, analis melihatnya sebagai penantang serius bagi TSMC. Dengan pabrik di Jerman, New York, dan kemitraan teknologi bersama IBM/Samsung, GlobalFoundries menawarkan alternatif manufaktur canggih di luar Asia yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan desain fabless.

TSMC bahkan merasa terancam, terutama karena saat itu mereka sedang berjuang mengatasi masalah teknis pada proses 40nm mereka. Selain itu, Samsung juga muncul sebagai pesaing foundry, meskipun terhambat oleh konflik kepentingan karena mereka juga memproduksi perangkat konsumen sendiri yang bersaing dengan pelanggan potensial mereka (seperti Apple).

#4: Krisis Finansial dan Kembalinya Morris Chang (2009)
Di tengah krisis finansial global 2008-2009, CEO TSMC Rick Tsai melakukan langkah standar: memecat karyawan dan memotong biaya. Morris Chang, yang saat itu berusia 77 tahun, melihat langkah ini sebagai kekalahan ("defeatist") dan stagnasi yang berbahaya di saat peluang smartphone sedang meledak.

Chang memecat Rick Tsai dan kembali mengambil alih kendali. Melawan arus pasar, ia mempekerjakan kembali karyawan yang di-PHK dan menggandakan investasi belanja modal (capex) di tengah resesi. Logikanya sederhana: lebih baik punya kelebihan kapasitas daripada kekurangan saat pasar pulih, terutama untuk merebut kontrak iPhone dari Samsung.

#5: Konsep "Grand Alliance" TSMC (2010-an)
Chang merumuskan strategi "Grand Alliance": sebuah ekosistem netral di mana TSMC menjadi pusat gravitasi yang mengoordinasikan puluhan perusahaan desain, penyedia IP, dan pembuat alat.

Karena TSMC tidak bersaing dengan pelanggannya (berbeda dengan Samsung atau Intel), mereka bisa menetapkan standar industri yang diikuti semua orang. Chang membanggakan bahwa gabungan dana R&D TSMC dan 10 pelanggan terbesarnya melebihi gabungan R&D Intel dan Samsung. Aliansi ini menciptakan kekuatan kolektif yang sulit dikalahkan oleh model terintegrasi vertikal lama, mengukuhkan TSMC sebagai penguasa mutlak era smartphone.

"Grand Alliance" TSMC bukanlah sebuah organisasi formal dengan keanggotaan kaku, melainkan sebuah ekosistem kolaboratif raksasa yang menyatukan seluruh rantai pasok semikonduktor dengan TSMC sebagai pusat gravitasinya. Di garis depan aliansi ini terdapat para raksasa fabless seperti Apple, NVIDIA, AMD, Qualcomm, dan MediaTek. Perusahaan-perusahaan ini berperan sebagai "penulis" yang merancang chip canggih dan menyediakan volume pesanan masif yang mendanai belanja modal (capex) TSMC. Hubungan ini bersifat simbiosis; investasi dari penjualan iPhone Apple atau GPU AI NVIDIA membiayai transisi TSMC ke teknologi fabrikasi terdepan (seperti 3nm), yang pada gilirannya memberikan kinerja terbaik bagi produk-produk klien tersebut.

Di belakang layar, aliansi ini diperkuat oleh para mitra infrastruktur yang sangat vital. Ini mencakup penyedia perangkat lunak desain (EDA) seperti Cadence dan Synopsys, serta penyedia kekayaan intelektual (IP) seperti Arm, yang memastikan desain arsitektur mereka kompatibel dengan proses pabrik TSMC sejak hari pertama. Tak kalah penting adalah hubungan simbiosis dengan pemasok peralatan seperti ASML (Belanda), Applied Materials, dan Lam Research. Mesin-mesin litografi canggih (seperti EUV) dan alat fabrikasi lainnya sering kali dikembangkan berdasarkan spesifikasi dan umpan balik langsung dari TSMC, menciptakan siklus inovasi yang saling mengunci antara pembuat alat dan pembuat chip.

Kekuatan pamungkas dari aliansi ini terletak pada prinsip netralitas. Berbeda dengan Samsung yang juga memproduksi ponsel (sehingga bersaing dengan Apple) atau Intel yang membuat prosesor sendiri, TSMC berposisi sebagai mitra murni yang tidak berkompetisi dengan pelanggannya. Rasa aman ini membuat seluruh anggota aliansi bersedia membuka rahasia teknologi mereka untuk dioptimalkan bersama. Morris Chang dengan bangga menyatakan bahwa gabungan dana R&D TSMC dan mitra-mitranya ("kekuatan kolektif") jauh melampaui kemampuan riset perusahaan terintegrasi vertikal (Integrated Device Manufacturer/IDM) manapun di dunia, menjadikan aliansi ini benteng pertahanan terkuat dalam industri semikonduktor.

Leave a Comment