Made in China

Chip War 
Bab 42
Made in China

#1: Visi Keamanan Xi Jinping dan "Chinese Dream" (2014)
Pada tahun 2014, Xi Jinping, Sekretaris Jenderal Partai Komunis China, mendeklarasikan: "Tanpa keamanan siber tidak ada keamanan nasional, dan tanpa informatisasi, tidak ada modernisasi."

Meskipun memiliki latar belakang teknik dan dikenal sebagai politisi yang mampu beradaptasi (chameleon), Xi menyimpan rasa tidak aman yang mendalam. Ia menyadari bahwa meskipun China memiliki sistem sensor internet paling efektif di dunia ("Great Firewall") dan telah menjinakkan raksasa teknologi AS (memblokir Google/Facebook), China masih rentan. Xi ingin menggunakan internet bukan sebagai alat liberalisasi, melainkan untuk memproyeksikan kekuatan otoriter melalui inisiatif "One Belt, One Road" yang mencakup ekspor alat sensor dan infrastruktur jaringan.

#2: "Gerbang Vital" dan Efek Snowden (2013 - 2016)
Kekhawatiran Xi terbukti beralasan setelah dokumen Edward Snowden bocor pada tahun 2013, yang mengungkapkan kemampuan penyadapan jaringan Amerika yang mengejutkan Beijing.

Pada tahun 2016, Xi menyimpulkan risiko fatal tersebut: "Sebesar apapun perusahaan internet (seperti Tencent/Baidu), jika sangat bergantung pada dunia luar untuk komponen inti, maka 'gerbang vital' rantai pasokan ada di tangan orang lain." Xi menyadari bahwa seluruh ekosistem digital China—mulai dari e-commerce hingga sistem pembayaran—berjalan di atas "digit 1 dan 0" yang diproses oleh perangkat keras asing, terutama monopoli aliansi Wintel (Windows dan Intel).

#3: Statistik Impor: Chip Lebih Mahal dari Minyak (2000-an - 2010-an)
Ketergantungan ini tercermin dalam neraca perdagangan yang mencolok. Sepanjang sebagian besar tahun 2000-an dan 2010-an, China menghabiskan lebih banyak uang untuk mengimpor semikonduktor daripada mengimpor minyak.

Bagi China, chip berkinerja tinggi sama pentingnya dengan hidrokarbon untuk memicu pertumbuhan ekonomi. Namun, berbeda dengan pasar minyak yang memiliki banyak pemasok, pasokan chip dimonopoli oleh rival geopolitik China (AS dan sekutunya), menjadikan ini titik lemah strategis yang tidak bisa ditoleransi.

#4: Ilusi "Superpower AI"
Meskipun buku Kai-Fu Lee menobatkan China sebagai salah satu dari dua "AI Superpower" dunia, Xi tahu bahwa fondasi tersebut rapuh.

Sistem pengawasan massal China yang canggih—yang digunakan untuk melacak pembangkang dan etnis minoritas—sepenuhnya bergantung pada chip dari perusahaan Amerika seperti Intel dan Nvidia. Tanpa silikon impor ini, ambisi China untuk menggabungkan kecerdasan buatan dengan otoritarianisme abad ke-21 akan runtuh seketika.

#5: Jebakan Nilai Tambah (Kasus iPhone)
Selain keamanan, motivasi China juga murni ekonomi. Kasus iPhone menjadi contoh nyata: meskipun jutaan pekerja China merakitnya, sebagian besar keuntungan jatuh ke tangan Apple (desain) dan pembuat chip di dalamnya, sementara China hanya mendapat remah-remah upah perakitan.

Untuk menghindari jebakan pendapatan rendah ini dan menjadi negara kaya, China harus beralih memproduksi "teknologi inti" yang tidak bisa hidup tanpanya oleh dunia luar, bukan sekadar menjadi bengkel perakitan dunia.

#6: Mengadopsi Buku Panduan Tetangga
Untuk mewujudkan ambisi ini, Xi Jinping mengadopsi strategi yang sama yang digunakan oleh Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan di masa lalu.

Strateginya mencakup empat pilar: 1) Menggelontorkan modal negara dan menekan bank untuk memberi pinjaman ke sektor chip; 2) Memancing pulang insinyur yang dilatih di AS (sea turtles); 3) Memaksa transfer teknologi dari mitra asing; dan 4) Mengadu domba perusahaan asing satu sama lain untuk mendapatkan kesepakatan terbaik. Sama seperti K.T. Li menginginkan industri chip di Taiwan tiga dekade sebelumnya, Xi Jinping kini menuntut hal yang sama untuk China.

Leave a Comment