Liftoff

Chip War 
Bab 4
Liftoff

#1: Sputnik dan Krisis Kepercayaan Amerika (Oktober 1957)
Hanya tiga hari setelah Bob Noyce dan Gordon Moore mendirikan Fairchild Semiconductor (sekitar Oktober 1957), Uni Soviet meluncurkan Sputnik, satelit pertama di dunia. Peristiwa ini mengguncang kepercayaan diri Amerika Serikat yang merasa tertinggal dalam teknologi luar angkasa dan militer.

Empat tahun kemudian, ketakutan ini bertambah saat Yuri Gagarin menjadi manusia pertama di luar angkasa. Presiden John F. Kennedy merespons dengan janji mendaratkan manusia di bulan. Ambisi antariksa ini tiba-tiba menciptakan pasar yang sangat dibutuhkan oleh Integrated Circuit (IC) buatan Noyce: roket.

#2: Komputer Pemandu Apollo dan Kemenangan Fairchild (1962)
NASA menugaskan MIT Instrumentation Lab untuk merancang komputer pemandu pesawat Apollo. Tantangannya berat: komputer berbasis transistor biasa akan seukuran kulkas dan boros listrik, mustahil dibawa ke luar angkasa.

Pada Januari 1962, insinyur MIT mulai menguji chip buatan Fairchild. Meskipun Fairchild adalah perusahaan baru yang dijalankan anak muda, chip mereka terbukti andal.

Pada November 1962, Charles Stark Draper dari MIT memutuskan untuk mempertaruhkan nasib Apollo pada chip Fairchild. Hasilnya, komputer Apollo 11 hanya seberat 70 pon (sekitar 31 kg) dan berukuran satu kaki kubik—seribu kali lebih kecil dibandingkan ENIAC era Perang Dunia II.

#3: Ledakan Penjualan dan Bukti Reliabilitas (1958 - 1964)
Kontrak dengan NASA mengubah nasib Fairchild. Penjualan melonjak dari $500.000 pada tahun 1958 menjadi $21 juta pada tahun 1960. Karyawan bertambah menjadi seribu orang.

Pada 1964, Bob Noyce dengan bangga mengklaim bahwa chip di komputer Apollo telah berjalan selama 19 juta jam dengan hanya dua kegagalan (salah satunya karena kerusakan fisik). Penggunaan di lingkungan luar angkasa yang keras menjadi stempel persetujuan tertinggi bagi teknologi ini.

Seiring peningkatan produksi, harga chip turun drastis: dari $120 pada Desember 1961 menjadi hanya $15 pada Oktober 1962, membuka peluang pasar komersial yang lebih luas.

#4: Strategi Militer Pat Haggerty dan Texas Instruments
Sementara Fairchild memenangkan hati NASA, Texas Instruments (TI) di bawah pimpinan Pat Haggerty membidik Pentagon. Haggerty, mantan insinyur Angkatan Laut, yakin bahwa militer AS adalah pasar masa depan untuk chip ciptaan Jack Kilby.

Di tengah ketegangan Perang Dingin (Krisis Berlin dan Krisis Rudal Kuba di awal 1960-an), Haggerty melobi Departemen Pertahanan. Ia mendapat peluang besar pada musim gugur 1962 saat Angkatan Udara AS mencari komputer baru untuk rudal nuklir Minuteman II.

#5: Minuteman II dan Produksi Massal (1962 - 1965)
Rudal Minuteman I sebelumnya terlalu berat dan tidak akurat karena menggunakan komputer transistor kuno dengan pita Mylar. Haggerty menjanjikan Angkatan Udara bahwa chip Kilby bisa memberikan daya hitung dua kali lipat dengan bobot setengahnya.

Janji itu terbukti: 95% fungsi komputer rudal ditangani oleh chip silikon seberat 2,2 ons, sementara sisa perangkat keras non-chip berbobot 36 pon.

Kontrak ini memicu produksi massal di TI.
* Dalam setahun, 60% pengeluaran chip militer AS mengalir ke proyek ini.
* Pada akhir 1964, TI telah mengirim 100.000 chip untuk program Minuteman.
* Pada 1965, 20% dari seluruh chip yang terjual di dunia digunakan untuk program Minuteman.

Baik NASA maupun Pentagon membuktikan bahwa Integrated Circuit adalah teknologi yang matang, andal, dan siap diproduksi massal.

Leave a Comment