Japanese Reliability

ASML's Architects 
Bab 51
Japanese Reliability

#1: Konsorsium VLSI dan "Fotokopi" Nikon (1980-1981)

Nikon tidak bergerak sendiri, melainkan didukung oleh Konsorsium VLSI pemerintah Jepang yang melibatkan raksasa seperti NEC dan Toshiba untuk mengakhiri ketergantungan pada AS.

- Mesin Tiruan: Nikon meluncurkan stepper komersial pertama (SR-1) pada 1981. GCA meremehkannya sebagai "fotokopi Cina" karena bentuknya identik dengan mesin GCA.
- Investigasi Ken Pynn: Layanan GCA menemukan bahwa NEC telah membongkar mesin GCA dan membiarkan Nikon mempelajarinya. Mesin GCA yang dibongkar itu bahkan tidak bisa dipasang kembali dengan benar oleh NEC.

#2: Kualitas Layanan dan Reliabilitas (Awal 80-an)

Meskipun awalnya meniru, Nikon dengan cepat melampaui GCA dalam reliabilitas dan layanan.

- Lelucon Industri: Beli GCA dapat kartu ucapan "Semoga Beruntung". Beli Nikon dapat 5 insinyur layanan gratis.
- Stabilitas Mesin: Mesin GCA butuh perhatian konstan operator ("seperti bayi"), sedangkan Nikon bisa berjalan berjam-jam tanpa disentuh.
- Arogansi GCA: Manajemen GCA mengabaikan laporan intelijen internal yang menunjukkan keunggulan Nikon, bersikeras bahwa kesuksesan Nikon hanya karena patriotisme Jepang.

#3: Keunggulan Desain Fundamental: Drift & Barometer

Insinyur Nikon membangun stepper dari nol, sehingga memahami akar masalah stabilitas, berbeda dengan GCA yang hanya menambal desain lama.

- Kasus Drift: Mesin GCA mengalami pergeseran fokus (drift) sepanjang hari yang dianggap "nasib". Insinyur Nikon menemukan penyebabnya: variasi tekanan udara (barometrik) harian, dan mereka memperbaikinya. (Ironisnya, Herman van Heek di Natlab sudah tahu ini 10 tahun sebelumnya).

#4: Keunggulan Lensa Jepang Nikon dan Canon mendesain dan memproduksi lensa sendiri dengan kontrol kualitas super ketat.

Integrasi: Mereka memahami interaksi optik-mekanik lebih baik daripada GCA yang bergantung pada Zeiss.

Kualitas Kaca: Akses ke produksi kaca optik canggih membuat lensa Jepang jauh lebih konsisten dan andal daripada lensa Zeiss pada pertengahan 80-an (yang penuh masalah lem/drift).

#5: Runtuhnya GCA: Salah Strategi dan Kebangkrutan (1984-1986)

GCA melakukan serangkaian kesalahan fatal di puncak kejayaannya (1984):

- Salah Fokus: Menghabiskan 25% anggaran R&D untuk divisi Sistem Industri (otomotif/dirgantara) yang hanya menyumbang 7% pendapatan.
- Buta Pasar: Mengabaikan peringatan penjualan tentang krisis 1984. Tetap memproduksi 500-600 mesin (hanya terjual 100), memaksa penghapusan inventaris (write-off) besar-besaran.
- Eksodus Bakat: Tokoh kunci seperti Bill Tobey (Marketing Manager) pergi karena kecewa. Tobey menyebut penyebabnya: "Arogansi mutlak dari orang teknis kami... Kami mengacaukannya!"
- Akhir Tragis: Pada 1986, utang mencapai $110 juta. Zeiss berhenti mengirim lensa karena GCA membayarnya dengan saham tak berharga. Richard Rifenburgh masuk untuk melikuidasi aset.

#6: Budaya "Winner Take All" Jepang

Richard Elkus (Prometrix) mengamati perbedaan budaya yang mencolok:

- Misi Nasional: Industri Jepang bersatu dengan pemerintah (MITI) demi kesuksesan ekonomi nasional.
- Prioritas: Profit ada di urutan bawah; prioritas utama adalah dominasi strategis jangka panjang. Semangat "We’re all in this together" membuat mereka tak terkalahkan oleh perusahaan AS yang terpecah-belah dan berorientasi jangka pendek.

Leave a Comment