In-Group Out-Group Bias

The Art of Thinking Clearly 
Bab 79
In-Group Out-Group Bias

1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: In-Group Out-Group Bias (Bias Kelompok Dalam vs Kelompok Luar). Deskripsi Judul: "Why You Identify with Your Football Team" (Mengapa Anda Mengidentifikasi Diri dengan Tim Sepak Bola).

2. Penjelasan Fallacy
Apa itu In-Group Out-Group Bias? Ini adalah pola perilaku di mana kita secara otomatis memihak dan memiliki perasaan positif terhadap anggota kelompok kita sendiri (in-group), sementara memandang rendah atau menganggap seragam anggota kelompok lain (out-group). Identifikasi ini bisa terbentuk berdasarkan kriteria yang sangat sepele (seperti tim olahraga, tempat lahir, atau lemparan koin).

Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan berdasarkan dinamika "Kami vs Mereka". Secara evolusioner, ini adalah strategi bertahan hidup. Ribuan tahun lalu, menjadi individu soliter berarti mati; keanggotaan kelompok sangat vital. Mereka yang gagal bergabung dengan kelompok akan tersingkir dari "kolam gen". Oleh karena itu, kita terprogram secara biologis untuk membentuk aliansi, menciptakan "kekerabatan semu" (pseudo-kinship), dan memusuhi apa pun yang asing. Namun, bias ini juga menyebabkan Out-group Homogeneity Bias, di mana kita melihat orang luar sebagai "semua sama", padahal kelompok kita sendiri penuh keragaman.

3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Insting Dasar)
Alasan: Bias ini adalah respon biologis yang mendalam. Kita melihatnya di mana-mana: fanatisme suporter bola, patriotisme negara, budaya perusahaan ("organizational blindness"), hingga rasisme. Otak kita secara instan mengkategorikan orang menjadi "teman" atau "lawan" bahkan tanpa kita sadari.

4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

- Suporter Olahraga (Pengalaman Penulis): Penulis dipaksa orang tuanya mendukung pemain ski Swiss hanya karena mereka satu negara, meskipun penulis tidak mengenal mereka dan olahraga itu tampak konyol baginya. Jika dia lahir beberapa meter di seberang perbatasan, dia harus mendukung tim lawan. Ini menunjukkan betapa acaknya loyalitas kelompok.

- Eksperimen Henri Tajfel: Orang asing dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan lemparan koin atau preferensi seni yang remeh. Hasilnya: Meskipun mereka tidak saling kenal dan pembagiannya acak, anggota kelompok langsung merasa lebih cocok dan memihak rekan satu kelompoknya dibanding kelompok lain.

- Militer dan Perang (Pseudo-Kinship): Konsep "Ibu Pertiwi" (Motherland) atau pelatihan militer yang menyebut sesama tentara sebagai "saudara" (brothers) adalah manipulasi bias ini. Tujuannya menciptakan ikatan keluarga palsu agar individu bersedia mati demi kelompok—sebuah kesalahan kognitif yang paling ekstrem.

5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini

- Sadari Distorsi Fakta: Mengidentifikasi diri dengan kelompok mendistorsi pandangan Anda terhadap fakta. Sadari bahwa perasaan "kita lebih baik dari mereka" sering kali tidak berdasar logika, melainkan insting purba.

- Waspadai Stereotip (Out-Group Homogeneity): Ingatlah bahwa "orang luar" sama beragamnya dengan kelompok Anda. Di film sci-fi, manusia punya budaya beragam, tapi alien selalu digambarkan seragam—hindari pola pikir ini di dunia nyata.

- Prioritaskan Logika di Atas Loyalitas Buta: Jangan terjebak dalam "kebutaan organisasi". Jika Anda dikirim berperang (atau diminta melakukan sesuatu oleh perusahaan) dan Anda tidak setuju dengan tujuannya, beranilah untuk menolak (atau "desert" dalam bahasa ekstrem penulis) daripada mati konyol demi "kelompok".

Leave a Comment