ASML's Architects
Bab 39
If Something’s Supposed to Come in on Friday, It Isn’t Coming at All
#1: Tekanan Meledak & Ketenangan Evert Polak (Akhir 1984)
Tenggat waktu Frans Klaassen dipangkas 6 bulan demi demo SEMICON West (Mei 1985). Ia harus membuang sistem hidrolik yang sudah matang demi teknologi elektrik yang belum terbukti.
- Kepanikan Klaassen: Ia merasa tenggorokannya tercekat dan kepalanya mau meledak. Ia mengeluh pada Evert Polak (Pemimpin Proyek PAS 2400): "Ini tidak akan pernah berhasil."
- Ketenangan Polak: Polak menanggapi dengan dingin: "Frans, kita semua di perahu yang sama. Ayo mulai saja, dan selesaikan masalah satu per satu." Polak kemudian menggambar jadwal rinci di papan tulis dan memotretnya dengan kamera Polaroid . Foto itu menjadi "kitab suci" yang menciptakan rasa urgensi bersama.
#2: Tantangan Manufaktur "Motor Pengeras Suara"
Tantangan teknis terbesar adalah membuat motor linear secara massal. Prinsipnya seperti pengeras suara (elektromagnet menggerakkan magnet permanen), tetapi belum pernah ada jalur produksi industri untuk ini di dunia.
- Detail Teknis: Inti motor terbuat dari laminasi baja listrik tipis yang direkatkan (untuk isolasi) dan dililit kawat tembaga dengan presisi tinggi. Natlab butuh sebulan untuk buat satu dengan tangan.
- Resistensi Almelo: Klaassen pergi ke pabrik kumparan motor Philips di Almelo. Mereka menolak karena terbiasa produksi massal (puluhan ribu), bukan kerajinan tangan rumit berjumlah sedikit (50 unit).
- Intervensi Eksekutif: Klaassen harus menggunakan "kartu sakti": jentikan jari ke Richard George, Nico Hermans, Gjalt Smit, dan jejaring luas Wim Troost untuk memaksa pabrik Philips bekerja sama.
#3: Paradoks Philips: "Binatang Malas" vs "Harta Karun"
Bab ini menyoroti hubungan benci-tapi-butuh dengan Philips.
- Sisi Buruk: Birokrasi Philips digambarkan sebagai "binatang malas, keras kepala, dan tidak kooperatif."
- Sisi Baik (Harta Karun): Hanya Philips yang bisa membuat komponen super-canggih. Contohnya: Klaassen hanya perlu "menyeberang jalan" ke Pabrik Kaca Philips untuk mendapatkan cermin super datar dan komponen kaca presisi untuk air bearings (celah udara 10 mikron). Ini adalah "hadiah dari dewa" yang tidak bisa didapat di tempat lain.
#4: Logistik Gerilya Henk van Engelen
Mendapatkan barang dari gudang Philips adalah mimpi buruk karena birokrasi berbelit (bea cukai -> gudang Acht -> pusat distribusi S&I).
- Peran Henk van Engelen: Ia menjadi mitra logistik Klaassen. Bagasi mobil Van Engelen selalu penuh dengan bir dan anggur.
- Suap Birokrasi: Mereka menggunakan alkohol dan terkadang uang tunai (cold, hard cash) untuk menyuap staf gudang Philips agar mau lembur atau mempercepat pengiriman barang.
- Semboyan Frustrasi: Klaassen menciptakan frasa: "Jika sesuatu seharusnya datang pada hari Jumat, itu tidak akan datang sama sekali," karena staf Philips selalu menunda pekerjaan Jumat sore ke minggu depan.
#5: Penimbunan Elektronik Jacques Stals
Jacques Stals (desainer elektronik) menghadapi masalah komponen yang "hilang" di sistem komputer gudang.
Atas desakan Klaassen, Stals menolak memproses pesanan sampai fisik barang ada di mejanya. Tumpukan kabel dan kotak menumpuk di kantor Stals, memaksa staf gudang untuk benar-benar mengirim barang, bukan sekadar input data.
#6: Demo Natal Satu Langkah ("One-Step Demo")
Di minggu-minggu gelap sebelum Natal, tekanan memuncak. Gjalt Smit mampir setiap hari untuk mengecek. Nico Hermans menagih taruhan satu krat bir.
- Transistor Meledak: Klaassen memperingatkan bahwa transistor daya terus meledak. "Jika kau ingin melihatnya bergerak, aku bisa tunjukkan, tapi hanya sekali. Amplifier-nya akan meledak."
- Eksekusi: Hermans tetap antusias. Klaassen menyalakan mesin. Meja wafer bergerak satu langkah, lalu... BAM! Amplifier meledak.
- Perayaan: Di tengah asap, tim bersorak sorai dan membuka bir. Meskipun mesin rusak, fakta bahwa itu sempat bergerak sudah cukup membuktikan konsep tersebut bisa bekerja.