“I… WANT… TO… GET… RICH”

Chip War 
Bab 6
"I… WANT… TO… GET… RICH"

#1: Visi Sipil Bob Noyce vs Dominasi Militer (Pertengahan 1960-an)
Pada pertengahan 1960-an, lebih dari 95% sirkuit terpadu yang diproduksi digunakan untuk aplikasi militer dan luar angkasa. Namun, Bob Noyce memiliki visi berbeda. Ia ingin menciptakan pasar sipil (mass market) dan menolak didikte oleh Pentagon.

Noyce membatasi pendanaan riset militer hanya 4% dari anggaran R&D Fairchild. Ia trauma dengan pengalamannya di perusahaan lama (Philco) di mana birokrat militer yang kurang kompeten mengatur arah riset. Bagi Noyce, menjual R&D ke pemerintah itu aman tapi tidak menguntungkan ("seperti menaruh modal ventura di tabungan"). Ia ingin mengambil risiko demi pasar yang lebih besar.

#2: Lahirnya Hukum Moore (1965)
Pada tahun 1965, Gordon Moore diminta menulis artikel untuk majalah Electronics. Di sanalah ia membuat prediksi teknologi paling terkenal abad ini: jumlah komponen dalam sebuah chip akan berlipat ganda setiap tahun selama satu dekade ke depan.

Ini berarti pada 1975, sebuah chip akan memuat 65.000 transistor. Prediksi ini—yang kemudian dikenal sebagai Moore’s Law—menyiratkan bahwa daya komputasi akan tumbuh secara eksponensial sementara biaya per transistor akan turun drastis, membuka jalan bagi komputer pribadi dan ponsel, bukan hanya roket.

#3: Strategi Banting Harga Pencipta Pasar (1960-an)
Untuk mewujudkan visinya, Noyce melakukan perjudian besar. Saat Menteri Pertahanan AS Robert McNamara memangkas anggaran pertahanan di awal 1960-an, Noyce justru memangkas harga chip secara agresif untuk menarik pasar sipil.

Chip yang sebelumnya dijual seharga $20 diturunkan menjadi $2 pada pertengahan 1960-an, bahkan terkadang dijual di bawah biaya produksi.

Strategi ini berhasil luar biasa:
- Penjualan komputer AS melonjak dari 1.000 unit (1957) menjadi 18.700 unit (1967).
- Pada 1966, perusahaan komputer Burroughs memesan 20 juta chip dari Fairchild (20 kali lipat lebih banyak dari konsumsi program Apollo).
- Pada 1968, industri komputer sipil akhirnya membeli chip sebanyak militer. Fairchild menguasai 80% pasar ini.

#4: Kesalahan Penilaian Pentagon
Departemen Pertahanan AS (Pentagon) awalnya meremehkan Fairchild. Mereka lebih suka bekerja sama dengan raksasa birokrasi seperti RCA dan Lockheed Martin.

Dalam laporannya, Pentagon memuji Lockheed karena memiliki 50 ilmuwan di divisi mikrosistem, sementara meremehkan Fairchild yang saat itu dianggap hanya memiliki 2 ilmuwan utama. Pentagon gagal melihat bahwa kecepatan inovasi di startup kecil jauh melampaui birokrasi perusahaan besar.

#5: Eksodus Bakat dan Motivasi Kekayaan (Akhir 1960-an)
Menjelang pendaratan manusia di bulan (Apollo 11), Silicon Valley mulai berubah. Industri chip meledak dan tidak lagi bergantung penuh pada kontrak militer. Namun, masalah internal muncul di Fairchild.

Pemilik Fairchild (seorang jutawan dari Pantai Timur) menolak memberikan opsi saham (stock options) kepada karyawan karena menganggap berbagi kepemilikan perusahaan sebagai "sosialisme yang merambat".

Hal ini memicu gelombang pengunduran diri para insinyur terbaik, termasuk pendirinya sendiri, untuk membangun perusahaan baru yang menawarkan kepemilikan saham. Motivasi utama pendorong Hukum Moore bukan lagi sekadar sains, tapi insentif finansial, seperti yang ditulis seorang karyawan dalam kuesioner pengunduran dirinya: "I… WANT… TO… GET… RICH."

Leave a Comment