The Art of Thinking Clearly
Bab 51
Hyperbolic Discounting
1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Hyperbolic Discounting (Pendetokonsian Hiperbolik / Diskon Hiperbolik).
Konsep Terkait: Immediate Gratification (Kepuasan Segera), Delayed Gratification (Penundaan Kepuasan).
Deskripsi Judul: "Jalani Setiap Hari Seolah Ini Hari Terakhirmu – Tapi Hanya di Hari Minggu" (Live Each Day as If It Were Your Last – But Only on Sundays).
2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Hyperbolic Discounting? Ini adalah fenomena di mana kita membuat keputusan yang tidak konsisten tergantung pada seberapa dekat jarak waktunya. Semakin dekat sebuah imbalan (kata kuncinya: "sekarang"), semakin tinggi "suku bunga emosional" kita, dan semakin besar kecenderungan kita untuk mengorbankan keuntungan masa depan demi mendapatkan imbalan kecil saat ini. Kita "mendiskon" (mengurangi nilai) masa depan secara drastis demi kebaruan (immediacy).
Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan Hyperbolic Discounting karena dalam grafik ekonomi, kurva penurunan nilai imbalan terhadap waktu berbentuk hiperbola, bukan garis lurus/eksponensial yang konsisten. Artinya, kita sangat tidak sabar untuk jangka pendek ("sekarang" vs "nanti"), tetapi lebih sabar untuk jangka panjang ("setahun lagi" vs "setahun plus sebulan").
3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Insting Hewani)
Alasan: Ketertarikan pada "kesegeraan" (immediacy) adalah sisa-sisa insting hewan masa lalu kita. Hewan tidak akan menolak hadiah instan demi mendapat lebih banyak di masa depan (tikus tidak bisa diajari menunda makan keju). Anak-anak juga sulit melakukannya. Hanya seiring bertambahnya usia dan kontrol diri (korteks prefrontal), kita bisa melawan insting ini.
4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Dilema Uang ($1.000 vs $1.100): Kasus 1: Pilih $1.000 dalam 12 bulan atau $1.100 dalam 13 bulan? Kebanyakan orang menunggu (sabar). Kasus 2: Pilih $1.000 sekarang atau $1.100 dalam 1 bulan? Kebanyakan orang ambil $1.000 sekarang. Padahal selisihnya sama (tunggu 1 bulan dapat ekstra $100), tapi kehadiran opsi "sekarang" merusak rasionalitas kita.
- Eksperimen Marshmallow (Walter Mischel): Anak-anak diberi satu marshmallow. Jika mereka bisa menunggu beberapa menit tanpa memakannya, mereka dapat dua. Sangat sedikit yang bisa menunggu. Namun, mereka yang bisa menunda kepuasan terbukti memiliki karier yang lebih sukses di masa depan.
- Kartu Kredit & Amazon: Bank mengeksploitasi insting "harus-punya-sekarang" dengan membebankan bunga kartu kredit yang sangat tinggi. Amazon meraup untung besar dari biaya pengiriman "hari berikutnya" (next-day delivery) karena orang rela bayar mahal asal tidak perlu menunggu.
5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Jangan Hidup Seperti Hari Terakhir (Tiap Hari): Pepatah "Jalani hari seolah hari terakhir" itu bodoh jika dilakukan tiap hari (Anda akan bangkrut, tidak sikat gigi, tidak kerja). Lakukan itu seminggu sekali saja (misal: hari Minggu) untuk menikmati hidup, sisanya fokus pada masa depan.
- Latih Penundaan Kepuasan: Sadarilah bahwa kemampuan menunda imbalan (delayed gratification) adalah indikator kesuksesan. Semakin kita bisa mengontrol impuls, semakin kita terhindar dari perangkap ini.
- Hindari Pemicu Saat Lemah: Semakin sedikit kendali impuls yang kita miliki (misalnya saat di bawah pengaruh alkohol), semakin rentan kita terhadap hyperbolic discounting. Hindari keputusan finansial saat sedang mabuk atau lelah.