ASML's Architects
Bab 40
Hurry, Hurry, the Future’s Nipping at Your Heels
#1: Perjalanan Bus ke Zurich dan Bom Waktu Perangkat Lunak (11 Maret 1985)
Sebanyak 24 karyawan ASML menaiki bus dari Eindhoven menuju SEMICON Europe di Zurich. Gjalt Smit ikut serta di dalam bus, sebuah gestur yang awalnya dihargai karyawan. Di dalam bus, Wim Hendriksen (penanggung jawab perangkat lunak stepper) merasa gelisah. Ia tahu jadwal pengiriman PAS 2500 pada 1 Januari 1986 adalah mustahil.
- Dilema Software: Pengembangan perangkat lunak ada di urutan terakhir dalam rantai produksi; kode tidak bisa diuji sampai mesin selesai dirakit.
- Kalkulasi Hendriksen: Ia memperkirakan keterlambatan 3-4 bulan. Ia sudah melapor ke bos langsungnya, Cees Doesburg, dan Richard George juga sudah menyatakan jadwal itu tidak realistis, tetapi manajemen menutup telinga dengan mantra: "Kami tidak menerima penundaan."
#2: Konfrontasi di Bus: Penolakan Realitas Smit
Saat Smit duduk di sebelahnya dalam perjalanan, Hendriksen memberanikan diri menyampaikan berita buruk tersebut secara langsung.
- Peringatan: Hendriksen berkata, "Anda bisa melupakannya (tenggat waktu 1 Jan). Itu tidak mungkin."
- Reaksi Smit: Smit membentak, "Kalau begitu kita tutup saja perusahaannya," dan menolak mendengar detailnya.
- Dampak: Hendriksen merasa dianggap sebagai penghalang dan sinis. Ia teringat nasihat bos lamanya ("Jangan bertarung dalam pertempuran yang tak bisa kau menangkan") dan memilih diam. Di jurnalnya malam itu ia menulis: "Yah, aku sudah mencoba." Insiden ini menegaskan budaya manajemen ASML saat itu yang tertutup terhadap berita buruk.
#3: Misi Espionase Industri (SEMICON Zurich)
Tujuan utama Smit membawa tim ke pameran adalah untuk memata-matai kompetitor. Eaton-Optimetrix, GCA, Nikon, Ultratech, dan Censor (Perkin-Elmer) hadir, sementara Canon absen.
- Metode: Setiap insinyur diberi tugas spesifik untuk menyelidiki subsistem tertentu (sumber cahaya, lensa, alignment, dll.).
- Tantangan: GCA dan Nikon sangat protektif. Mereka menempatkan mesin di dalam "kamar kuning" (yellow room) tertutup yang hanya boleh dimasuki pelanggan.
- Taktik Gerilya: Insinyur ASML "nongkrong" di sekitar booth sampai pelanggan datang untuk demo, lalu menguping penjelasan teknis dari vendor.
#4: Laporan Frits van Hout: Validasi Teknologi
Frits van Hout mengompilasi laporan perjalanan yang berisi temuan teknis krusial:
- Perbandingan Mekanis: Semua kompetitor masih menggunakan tahapan wafer mekanis (mechanical wafer stages) dengan sekrup timah atau sekrup bola (ball screws) dan motor listrik biasa.
- Keunggulan ASML: Teknologi kompetitor jauh kurang akurat dibandingkan motor linear yang sedang dikembangkan ASML.
- Kesiapan Pasar: Semua mesin kompetitor bisa memproses wafer 5-6 inci, tetapi belum ada satu pun yang benar-benar siap untuk generasi chip VLSI. Informasi tentang lensa dan sumber cahaya masih sulit didapat.
#5: Kesimpulan: "Masa Depan Menggigit Tumitmu"
Smit mencapai tujuannya: para insinyur terkesan sekaligus khawatir. Kesimpulannya melegakan (belum ada kompetitor yang siap VLSI), tetapi juga menakutkan (kompetitor bergerak sangat cepat).
- Jurnal Hendriksen: Lelah setelah seminggu memata-matai, Hendriksen menulis kalimat penutup di jurnalnya: "Hurry, hurry, the future’s nipping at your heels" (Cepat, cepat, masa depan sedang menggigit tumitmu).
- Kekecewaan Akhir: Saat tim kembali naik bus ke Belanda, Gjalt Smit memilih pulang naik pesawat, mengecewakan tim yang berharap ia tetap bersama mereka dalam perjuangan tersebut.