ASML's Architects
Bab 37
Hotel Victoria 🏨
#1: Kudeta Pelatihan Philips (Pertengahan November 1984)
Sekitar 20 manajer dan insinyur senior ASML berangkat ke Hotel Victoria (dekat Taman Nasional De Hoge Veluwe) untuk program teambuilding dan pelatihan dua hari yang dipandu oleh pelatih dari Philips. Tujuannya: mempercepat pengembangan mesin agar siap April 1986.
Kudeta: Gjalt Smit tiba pukul 10 malam setelah perjalanan dari AS. Ia mengambil alih acara. Pelatih Philips yang mengajarkan metode "pengembangan 7 tahun" akhirnya "diusir" ke pinggir ruangan (banished to the sidelines) karena metode mereka dianggap tidak relevan dengan kecepatan yang dibutuhkan Smit.
#2: Realitas Pasar: G-Line dan Pasir Hisap I-Line
Smit membawa kabar buruk dari pelanggan AS:
- I-line Ditolak: Rencana teknis ASML menggunakan cahaya mercury i-line ditolak pasar. Industri masih setia pada g-line dan infrastruktur yang ada. Jika ASML memaksakan i-line, mereka akan memiliki mesin canggih yang tidak dibeli siapa pun.
- Oli Tabu: Mesin PAS 2000 (hidrolik) tidak bisa dijual.
- Resesi: Tanda-tanda resesi mulai terlihat, membuat pelanggan lebih berhati-hati.
#3: Ultimatum SEMICON West dan Solusi Hibrida
Smit menuntut mesin demo tanpa oli yang siap tampil di SEMICON West (Musim Semi 1985)—hanya 6 bulan lagi. Tim (Richard George, Nico Hermans, Joop van Kessel) awalnya menganggap ini mustahil. Namun, setelah brainstorming seharian penuh, mereka menyusun Product Road Map pertama ASML:
- PAS 2400 (Mesin Transisi): Solusi darurat dengan memasang meja listrik (electric table) buatan Natlab ke dalam kerangka PAS 2000.
- Kekurangan: Menggunakan optik G-line lama dari CERCO dengan bidang pandang hanya 10x10 mm (industri meminta 14x14 mm).
- Penunjukan Tokoh: Evert Polak (insinyur penerbangan dari Philips S&I) ditunjuk memimpin proyek kilat PAS 2400 ini, sementara Richard George tetap fokus pada masa depan (PAS 2500).
#4: Krisis "Drift" Lensa Zeiss dan Kehancuran GCA
Smit memutuskan beralih ke lensa standar G-line buatan Zeiss untuk PAS 2500. Namun, ada bahaya tersembunyi yang belum disadari ASML saat itu:
- Masalah Drift: Lensa G-line Zeiss yang dipasok ke GCA (kompetitor utama) memiliki cacat fatal. Lem/sealant yang digunakan Zeiss sensitif terhadap suhu dan kelembapan, menyebabkan fokus bergeser (drift) seiring waktu. Ini menjadi penyebab utama kejatuhan GCA.
- Arogansi Zeiss: Tokoh Zeiss, Hans Letsche dan Bernhard Kammerer, awalnya menolak permintaan Martin van den Brink untuk melakukan audit kualitas akhir (final quality audits) sebelum lensa dikirim. Mereka mengklaim tidak pernah ada retur dari GCA.
#5: Peran Krusial Martin van den Brink dan Solusi CFT
Sikap keras kepala ASML (dipimpin Van den Brink) untuk tetap memeriksa kualitas lensa akhirnya menyelamatkan mereka dari nasib GCA.
- Karena ASML menemukan masalah tersebut melalui audit, Zeiss terpaksa bekerja sama.
- Solusi Teknis: Di kemudian hari (pertengahan 90-an), Chris Velzel dan Rien Koster dari CFT (pusat teknologi Philips) merancang solusi: dudukan berengsel (hinged mount) dan ikatan kaca-ke-logam (glass-to-metal bonding) dengan lapisan lem super tipis.
- Kolaborasi paksa ini mengubah hubungan Zeiss-ASML dari sekadar penjual-pembeli menjadi mitra teknis yang erat.