The Art of Thinking Clearly
Bab 46
Hedonic Treadmill
1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Hedonic Treadmill (Treadmill Hedonis).
Konsep Terkait: Affective Forecasting (Peramalan Afektif/Emosi).
Deskripsi Judul: "Hati-hati dengan Apa yang Anda Harapkan" (Be Careful What You Wish For).
2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Hedonic Treadmill? Ini adalah kecenderungan manusia untuk kembali ke tingkat kebahagiaan yang relatif stabil (garis dasar) setelah mengalami peristiwa besar, baik positif maupun negatif. Kita bekerja keras, mencapai kemajuan, dan mampu membeli barang-barang yang lebih bagus, namun tingkat kebahagiaan kita tetap berjalan di tempat—seperti orang yang berlari di atas treadmill.
Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan Hedonic Treadmill karena upaya kita mengejar kesenangan (hedonic) melalui materi atau status ibarat berlari di atas alat lari (treadmill): kita mengeluarkan banyak energi dan bergerak cepat, tetapi posisi kebahagiaan kita tidak berpindah secara permanen. Efek kebahagiaan dari pencapaian tersebut akan menguap hanya dalam beberapa bulan.
3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Kesalahan Prediksi Diri)
Alasan: Manusia sangat buruk dalam memprediksi emosi mereka sendiri (affective forecasting). Kita secara sistematis melebih-lebihkan durasi dan intensitas perasaan bahagia akibat kemenangan (seperti lotre) atau kesedihan akibat kerugian (seperti putus cinta).
4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Pemenang Lotre: Banyak orang berpikir memenangkan jackpot $10 juta akan membuat bahagia selamanya. Riset Dan Gilbert menunjukkan efek kebahagiaan itu pudar (fizzles out) setelah beberapa bulan. Pemenang lotre akan kembali merasa biasa saja (sama puas/tidak puasnya) seperti sebelum menang.
- Vila Mewah & Komuting: Seorang bankir membangun vila impian dengan kolam renang. Bahagianya hanya bertahan beberapa minggu, lalu ia merasa biasa saja (sama seperti saat di apartemen mahasiswa). Parahnya, ia kini harus menyetir 1 jam tiap hari. Berbeda dengan vila yang bisa membuat bosan, manusia tidak bisa beradaptasi dengan penderitaan komuting/kemacetan. Vila itu justru menurunkan total kebahagiaannya.
- Putus Cinta/Musibah: Saat putus cinta atau mengalami cedera, kita yakin tidak akan pernah bahagia lagi. Namun, kita melebih-lebihkan penderitaan itu. Biasanya setelah sekitar tiga bulan, orang yang patah hati sudah kembali normal dan siap berkencan lagi.
5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Hindari Negatif Kronis: Hindari hal-hal negatif yang tidak bisa diadaptasi oleh otak, seperti: perjalanan jauh (komuting), kebisingan, atau stres kronis.
- Materi Hanya Sementara: Sadarilah bahwa benda materi (mobil, rumah, bonus) hanya memberikan kebahagiaan jangka pendek.
- Fokus pada "Melakukan": Kejarlah waktu luang, otonomi, dan persahabatan. Kebahagiaan jangka panjang datang dari apa yang Anda lakukan secara aktif (hobi, bergaul), bukan dari apa yang Anda miliki. Ikuti passion Anda meskipun harus mengorbankan sedikit pendapatan.