The Art of Thinking Clearly
Bab 25
Groupthink
1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Groupthink (Pemikiran Kelompok).
Deskripsi Judul: "Malapetaka Konformitas" (The Calamity of Conformity).
Kategori: Cabang khusus dari Social Proof (Bukti Sosial).
2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Groupthink? Ini adalah fenomena di mana sekelompok orang pintar membuat keputusan yang ceroboh (reckless) karena setiap anggota menyesuaikan pendapat mereka dengan apa yang mereka kira sebagai konsensus kelompok. Dalam situasi ini, mosi disetujui padahal setiap individu sebenarnya menolaknya jika tidak ada tekanan kelompok. Anggota kelompok menahan diri untuk tidak mengutarakan keraguan demi menjaga keharmonisan tim.
Mengapa terjadi? Profesor psikologi Irving Janis menemukan polanya: kelompok yang erat membangun ilusi "tak terkalahkan" (invincibility) dan ilusi "kebulatan suara" (unanimity). Jika pemimpin dan mayoritas tampak yakin, individu yang ragu merasa pandangannya pasti salah. Ketakutan akan pengucilan (yang di masa evolusi berarti kematian) membuat kita memiliki dorongan kuat untuk tetap disukai oleh kelompok.
3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Insting Bertahan Hidup)
Alasan: Perilaku ini berakar dari masa lalu evolusi kita di mana pengusiran dari kelompok (banishment) adalah hukuman mati. Di dunia modern, ini terjadi di ruang rapat korporat hingga kabinet pemerintahan, di mana orang lebih memilih "menggigit lidah" daripada menjadi perusak suasana.
4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Invasi Teluk Babi (Kennedy, 1961): Presiden Kennedy dan penasihat cerdasnya menyetujui rencana invasi Kuba yang absurd. Mereka meremehkan angkatan udara Castro dan kondisi geografis (rawa-rawa). Rencana gagal total. Mengapa orang-orang jenius ini setuju? Karena Groupthink: mereka terjebak ilusi bahwa "jika pemimpin dan kelompok yakin, pasti berhasil", dan tidak ada yang berani memecah kesepakatan semu tersebut.
- Kebangkrutan Swissair (2001): Sekelompok konsultan bergaji tinggi dan CEO, yang terlena oleh kesuksesan masa lalu, membangun strategi ekspansi berisiko tinggi. Konsensus tim begitu kuat sehingga keberatan yang rasional ditekan (suppressed). Akibatnya, maskapai kelas dunia itu runtuh.
- Rapat Kantor Sehari-hari: Anda duduk di rapat, mendengarkan proposal, dan mengangguk setuju meskipun dalam hati Anda ragu atau tidak setuju. Anda diam karena tidak mau menjadi "penentang abadi" (eternal naysayer) atau karena berasumsi orang lain (yang tampak setuju) lebih tahu daripada Anda.
5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Utarakan Pendapat (Speak Your Mind): Jika Anda berada dalam kelompok yang sepakat bulat, Anda wajib menyuarakan pendapat Anda, meskipun tim mungkin tidak menyukainya.
- Pertanyakan Asumsi: Jangan diam saja. Pertanyakan asumsi-asumsi diam-diam (tacit assumptions) kelompok, bahkan jika Anda berisiko dikeluarkan dari "sarang yang hangat" tersebut.
- Tunjuk "Devil's Advocate": Jika Anda memimpin sebuah kelompok, tunjuklah satu orang khusus untuk menjadi Devil’s Advocate (orang yang bertugas menyanggah/mengkritisi). Dia mungkin tidak akan populer, tapi dia bisa jadi anggota terpenting untuk mencegah bencana.