ASML's Architects
Bab 21
Gjalt Smit
#1: Latar Belakang dan "Pembebasan" Akademis (1938 - 1963)
Gjalt Smit lahir di Groningen tahun 1938. Masa remajanya dihabiskan dengan membangun model pesawat dan mendirikan Klub Penerbangan Hoogeveen. Di sekolah menengah, ia sempat gagal dalam fisika dan matematika. Namun, pemecatan tiba-tiba guru sains di sekolahnya justru menjadi penyelamatnya; ia diberi kebebasan belajar mandiri yang membebaskannya dari rutinitas sekolah, memungkinkannya lulus dengan nilai baik.
Ia melanjutkan studi teknik penerbangan di TU Delft. Di sana, ia tidak hanya belajar teknis tetapi juga mendirikan klub filsafat untuk mendiskusikan mekanika kuantum dan agama, dibimbing oleh astronom Henk van de Hulst.
#2: Pengalaman Amerika dan NASA Fellowship (Agustus 1963 - 1965)
Atas "perintah" Profesor Henk van der Maas, Smit menerima NASA fellowship di Universitas Maryland. Ia tiba di AS pada Agustus 1963, tepat saat Martin Luther King menyampaikan pidatonya di Washington. Ia menyaksikan transformasi Amerika era Kennedy/Johnson dan sempat berjabat tangan dengan Presiden Lyndon B. Johnson.
Selama dua tahun bekerja pada fisika plasma, Smit belajar bahwa di Amerika, gereja adalah pusat jejaring sosial. Melalui koneksi gereja Presbyterian, ia berhasil mendapatkan pekerjaan untuk pacarnya dari Belanda (sehingga mereka bisa menikah di AS). Pengalaman ini menanamkan pentingnya networking informal.
#3: "La Dolce Vita" di ESRIN Roma (1965 - 1969)
Kembali ke Eropa, Smit menjadi karyawan pertama ESRIN (pusat observasi bumi Eropa) di Frascati, dekat Roma. Enam bulan pertamanya dihabiskan untuk membeli perabot kantor dan menikmati gaya hidup Italia (espresso dan kuliner), yang sangat cocok dengan jiwanya yang hedonis.
Pada tahun 1969, ia menyelesaikan disertasi doktoralnya tentang analisis matematika angin surya non-linear setebal 70 halaman di bawah bimbingan Van de Hulst. Meskipun bergelar PhD astrofisika, ia merasa sains murni terlalu monoton dan tidak relevan dengan realitas.
#4: Masuk Philips dan Benturan dengan Wim Troost (1969)
Smit bergabung dengan Philips dengan harapan bekerja di Italia, namun harus menjalani pelatihan di divisi PIT Eindhoven terlebih dahulu. Ia segera terlibat dalam kelompok "Akademisi Muda" yang mencoba mereformasi birokrasi Philips (sebagai "Don Quixote"), namun inisiatif ini dimatikan secara halus oleh CEO Henk van Riemsdijk.
Pertemuan pertamanya dengan Wim Troost berjalan buruk. Smit yang percaya diri dan ambisius bertanya tentang prospek karir, yang membuat Troost (pekerja keras yang setia dan rendah hati) merasa muak dengan "anak ingusan" tersebut. Troost menganggap Smit sombong, sementara Smit menganggap Troost kaku.
#5: Philips Italia dan Mentor Armando Cervi (Awal 1970-an)
Kembali ke Italia, Smit memimpin grup IDS di bawah direktur lokal Armando Cervi. Cervi menjadi mentor yang dikagumi Smit: seorang politisi cerdik yang tahu cara bertahan di lingkungan korup dan sering menggunakan istilah kasar tapi inspiratif seperti perlunya memiliki "bola kotak" (coglioni quadrati) alias keberanian ekstra untuk menyelesaikan pekerjaan.
Smit juga menjalin persahabatan erat dengan Joop van Kessel, anak emas Troost. Van Kessel sering mengunjungi apartemen Smit di Danau Como, dan mereka bekerja sama mengakali aturan kalkulasi biaya Philips yang kaku agar bisa memenangkan tender proyek.
#6: Pelajaran Penjualan: Kegagalan Motta vs Sukses Genoa (Awal 1970-an)
Smit belajar penjualan dengan cara keras:
- Kegagalan Motta: Saat mencoba menjual sistem kontrol ke pabrik es krim Motta, Smit dan Van Kessel diusir setelah 10 menit karena terlalu fokus bicara teknis dalam bahasa Inggris/Italia yang buruk, tanpa memahami kebutuhan klien akan "es krim yang lebih murah dan baik".
- Sukses Genoa: Belajar dari pengalaman, saat menawar proyek otomatisasi laboratorium RS Universitas Genoa, Smit mengalahkan IBM dan Honeywell. Ia tidak bicara soal komputer sampai halaman terakhir proposal; fokus utamanya adalah memecahkan masalah operasional dokter dan perawat yang ia pelajari lewat makan malam informal.
#7: Konflik Internal dan Keluar dari Philips (Pertengahan 1970-an)
Kemenangan kontrak Genoa senilai setengah juta dolar justru menjadi bumerang. Philips Medical Systems marah karena merasa IDS mengambil lahan mereka (meskipun mereka tidak punya keahlian otomatisasi lab saat itu).
Untuk menghindari perang internal, Wim Troost memerintahkan Smit membatalkan kontrak tersebut. Kecewa dengan politik perusahaan yang lebih mementingkan ego divisi daripada pelanggan, Smit memutuskan keluar dari Philips.
#8: Karir di ITT dan Perekrutan ASML (Akhir 1970-an - 1983)
Smit kembali ke Belanda dan bekerja di ITT, raksasa telekomunikasi yang sedang dibenci pemerintah Belanda (PTT) akibat isu kudeta Chile. Di ITT, Smit belajar manajemen gaya Amerika yang berbasis target terukur (management control)—sesuatu yang absen di Philips. Ia bekerja bersama Ton Willekens (kelak manajer logistik ASML) dan Ben Verwaayen (kelak CEO British Telecom).
Menggunakan taktik lobi agresif (makan malam mewah, perjalanan ke AS), Smit berhasil membawa ITT kembali mendapatkan pesanan PTT. Namun, pada akhir 1983, melihat bisnis ITT menurun, ia menerima tawaran headhunter untuk memimpin joint venture baru antara Philips dan ASM, membawa serta pengalaman uniknya sebagai ilmuwan, salesman internasional, dan manajer bergaya Amerika.