ASML's Architects
Bab 26
From Paris to Oberkochen
#1: Krisis CERCO dan Kegagalan "Crocus" (1983 - Awal 1984)
Philips dan ASML menghadapi masalah besar dengan CERCO, pemasok optik mereka di Paris. Perusahaan Prancis ini hebat dalam membuat prototipe "artistik", namun gagal total dalam produksi massal yang konsisten.
Pada tahun 1983, Herman van Heek dan pakar optik Philips Joseph Braat memesan lensa canggih bernama Crocus untuk proyek Megachip. Lensa tersebut gagal memenuhi spesifikasi. Braat menyadari desainnya terlalu rumit untuk diproduksi.
Sebuah titik terang muncul ketika Braat menemukan artikel karya Dr. Erhard Glatzel dari Zeiss tentang desain lensa yang manufacturable. Richard George mendesak tim untuk menggunakan prinsip Glatzel tersebut guna menekan CERCO membuat desain yang lebih sederhana. Hasilnya adalah lensa Dahlia, solusi kompromi yang akhirnya digunakan pada mesin PAS 2400.
#2: Misi ke Oberkochen dan Situasi Zeiss (Awal 1984)
Menyadari CERCO tidak bisa diandalkan untuk masa depan, Philips memutuskan mendekati Zeiss di Oberkochen, Jerman Barat. Saat itu, Zeiss baru saja bangkit kembali berkat industri litografi (memasok GCA) setelah bisnis lensa kameranya dihancurkan oleh kompetitor Jepang.
Van Heek dan Braat menemui Gerhard Ittner, Kepala R&D Zeiss. Mereka membawa daftar keinginan ambisius: lensa kustom dengan Numerical Aperture (NA) tinggi (0.30 - 0.34) dan sistem prisma khusus untuk penyelarasan through-the-lens ASML.
Ittner menolak mentah-mentah ("Absolutely not. Way too tricky"). Zeiss sedang kewalahan memenuhi pesanan GCA (pemimpin pasar saat itu) dan Censor. Namun, ada celah strategis: hubungan Zeiss dan GCA sedang memanas, di mana kedua pihak saling menyalahkan atas masalah kualitas pada stepper GCA.
#3: Audiensi dengan "Gorila" Matematika (Awal 1984)
Puncak kunjungan ke Zeiss adalah pertemuan dengan Dr. Erhard Glatzel, kepala departemen matematika Zeiss. Glatzel adalah legenda optik (perancang lensa kamera bulan Hasselblad) yang diperlakukan seperti "dewa" atau jenderal yang tak tersentuh di dalam hierarki feodal Zeiss.
Van Heek dan Braat menyaksikan ritual aneh di mana Ittner mengajukan pertanyaan tamu kepada Glatzel, dan Glatzel menjawab dengan vonis mutlak: "Das geht nicht" (Itu tidak bisa dilakukan). Glatzel menegaskan Zeiss tidak akan membuat lensa kustom untuk Philips. Mereka hanya menawarkan lensa standar (NA 0.28) yang sedang dikembangkan. Kunjungan berakhir dengan kekecewaan, namun benih hubungan telah tertanam.
#4: Inspeksi Gjalt Smit dan Akhir Hubungan Prancis (Musim Gugur 1984)
CEO ASML Gjalt Smit mengunjungi pabrik CERCO bersama Van Heek untuk melihat sendiri situasinya. Pengalaman Smit di industri penerbangan membuatnya segera mengenali "bau" inefisiensi yang khas dari perusahaan yang kecanduan subsidi pemerintah Prancis.
Setelah pertemuan yang sopan namun dingin, Smit memutuskan hubungan dengan CERCO saat makan siang di kafe Place de la Bataille de Stalingrad. Ia berkata kepada Van Heek: "Orang-orang yang menyenangkan... tapi nilai yang buruk untuk uang kita." Keputusan ini mengakhiri hubungan panjang Philips-CERCO.
#5: Pertaruhan Strategis pada "Pernikahan Paksa" (Akhir 1984)
Smit meyakinkan manajemen ASML untuk bergantung sepenuhnya pada Zeiss, meskipun perusahaan Jerman itu kaku dan arogan. Logikanya sederhana: hanya Zeiss yang memiliki kapasitas produksi dan kualitas untuk memenangkan pasar.
Smit merumuskan visi kemenangan ASML: Kombinasi Optik Zeiss (Jerman) yang superior + Sistem Penyelarasan & Meja Elektrik ASML (Belanda) yang superior = Mesin yang tak terkalahkan di era VLSI. Meskipun budaya kedua perusahaan bertolak belakang (hierarki kaku Jerman vs egaliter Belanda), kemitraan "benci tapi rindu" ini menjadi fondasi dominasi teknis ASML di masa depan.