The Art of Thinking Clearly
Bab 82
Fear of Regret
1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Fear of Regret (Ketakutan Akan Penyesalan).
Deskripsi Judul: "Why ‘Last Chances’ Make Us Panic" (Mengapa 'Kesempatan Terakhir' Membuat Kita Panik).
2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Fear of Regret? Ini adalah perasaan takut membuat keputusan yang salah, yang menyebabkan kita bertindak irasional atau konservatif untuk menghindari rasa sesal di kemudian hari.
Poin kuncinya adalah: Kita merasakan penyesalan lebih dalam jika kita menyimpang dari norma atau kerumunan.
- Biasanya, bertindak (action) dan gagal lebih disesalkan daripada diam (inaction) dan gagal, karena diam adalah norma (mayoritas orang pasif).
- Namun, jika bertindak adalah norma (misal: semua penerbit beralih ke e-book), maka diam (inaction) yang menjadi pengecualian akan menimbulkan penyesalan lebih besar jika gagal.
Mengapa dinamakan demikian? Karena emosi pendorongnya adalah "takut menyesal". Rasa takut ini dimanipulasi oleh tawaran "Last Chance" (Kesempatan Terakhir). Otak kita panik berpikir ini adalah satu-satunya kesempatan, membuat kita membeli hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan hanya agar tidak menyesal di kemudian hari.
3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Pemicu Panic Buying)
Alasan: Bias ini adalah bahan bakar utama strategi pemasaran (scarcity marketing) dan perilaku konservatif. Mulai dari menimbun barang bekas hingga membeli tanah dengan harga selangit, kita sering mengambil keputusan buruk hanya karena takut kehilangan opsi tersebut selamanya.
4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Paul vs. George (Saham): Paul memiliki saham A, berpikir pindah ke B, tapi tidak jadi. George punya saham B, lalu pindah ke A. Keduanya rugi jumlah yang sama. Namun, 92% orang setuju George lebih menyesal. Mengapa? Karena Paul pasif (norma), sedangkan George aktif (pengecualian). Orang yang "bertindak" dan salah merasa lebih buruk daripada yang "diam" dan salah.
- Tragedi Pesawat: Kita merasa lebih simpati pada korban kecelakaan yang mengubah jadwal penerbangannya di menit-menit terakhir daripada penumpang yang memang dijadwalkan terbang sejak awal. Korban yang mengubah jadwal dianggap "pengecualian yang tragis", memicu rasa "seandainya saja..." yang lebih kuat.
- Jebakan "Kesempatan Terakhir" (Properti & Safari): Seseorang membeli tanah dengan harga selangit atau paket safari melihat badak hanya karena brosur bilang "ini kesempatan terakhir". Rasa takut menyesal (jika badak punah atau tanah habis) mematikan logika, padahal sebelumnya dia tidak peduli pada badak atau properti tersebut.
5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Abaikan "Last Chance": Sadari bahwa tawaran "kesempatan terakhir" seringkali hanyalah taktik penjualan. Properti dengan pemandangan danau akan selalu ada di pasar, dan kesempatan lain akan datang. Jangan biarkan kepanikan mendikte dompet Anda.
- Lawan Konservatisme Berlebihan: Sadari bahwa kita cenderung ikut-ikutan orang banyak hanya agar tidak menyesal sendirian. Jika naluri Anda mengatakan untuk mengambil risiko (yang terukur), jangan biarkan ketakutan akan penyesalan membuat Anda pasif.
- Buang Barang Bekas: Jangan menimbun sepatu kets usang hanya karena takut "siapa tahu nanti butuh". Kemungkinan Anda menyesal membuangnya jauh lebih kecil daripada ketidaknyamanan hidup dalam tumpukan sampah.