False Causality

The Art of Thinking Clearly 
Bab 37
False Causality

1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: False Causality (Kausalitas Palsu / Kesesatan Sebab-Akibat).
Mantra Utama: Correlation is not Causality (Korelasi bukanlah Kausalitas).
Deskripsi Judul: "Mengapa Anda Tidak Boleh Percaya pada Burung Bangau" (Why You Shouldn’t Believe in the Stork).

2. Penjelasan Fallacy
Apa itu False Causality? Ini adalah kesalahan logika di mana kita mengasumsikan bahwa karena dua peristiwa terjadi bersamaan atau berurutan (korelasi), maka satu peristiwa pasti menyebabkan peristiwa lainnya. Kita sering bingung membedakan mana sebab dan mana akibat, atau gagal melihat adanya faktor ketiga yang sebenarnya menjadi penyebab kedua peristiwa tersebut.

Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan False Causality karena kita menciptakan hubungan sebab-akibat yang palsu atau salah. Judul "Burung Bangau" merujuk pada grafik statistik terkenal di Jerman (1965-1987) yang menunjukkan penurunan jumlah burung bangau berbanding lurus dengan penurunan angka kelahiran bayi. Jika dilihat sekilas, seolah-olah penurunan bangau menyebabkan penurunan bayi (atau bangau benar-benar membawa bayi), padahal itu murni kebetulan statistik.

3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Terjadi Hampir Tiap Hari)
Alasan: Artikel menyatakan bahwa kesesatan ini menyesatkan kita "praktis setiap hari" (practically every day). Berita utama koran (headlines), konsultan bisnis, dan politisi sering menggunakan korelasi yang samar untuk mengklaim keberhasilan atau menyalahkan sesuatu, padahal hubungannya tidak seperti yang mereka klaim.

4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Kutu Rambut di Hebrides: Penduduk pulau Hebrides percaya kutu rambut membuat orang sehat. Alasannya: jika kutu pergi, orang itu jadi sakit (demam). Faktanya terbalik: kutu pergi karena kepanasan akibat demam inangnya. Saat demam turun, kutu kembali. Sebab-akibatnya tertukar.

- Pemadam Kebakaran & Kerusakan: Wali kota memotong anggaran pemadam kebakaran karena data menunjukkan "semakin banyak pemadam yang datang, semakin besar kerusakan apinya". Faktanya: kebakaran besarlah yang memanggil lebih banyak pemadam, bukan sebaliknya.

- Buku di Rumah & Nilai Siswa: Studi menunjukkan siswa yang punya banyak buku di rumah memiliki nilai lebih bagus. Apakah buku berdebu itu memancarkan kepintaran? Tidak. Faktanya: orang tua berpendidikan (faktor ketiga) cenderung memiliki banyak buku dan lebih peduli pada pendidikan anak mereka. Membeli buku saja tidak akan menaikkan nilai.

5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Ingat Mantra: "Korelasi bukanlah Kausalitas." Hanya karena dua hal bergerak bersamaan, tidak berarti yang satu menyebabkan yang lain.

- Periksa Arah Hubungan: Teliti kejadiannya: Apakah A menyebabkan B, atau justru B yang menyebabkan A? (Contoh: Apakah motivasi karyawan menaikkan profit, atau perusahaan yang profit membuat karyawan termotivasi?).

- Cari Faktor Ketiga: Waspadai faktor ketiga yang tersembunyi (seperti "orang tua berpendidikan" atau "suhu panas demam") yang mungkin menjadi penyebab sebenarnya dari kedua peristiwa tersebut. Terkadang, tidak ada hubungan sama sekali (kebetulan murni), seperti bangau dan bayi.

Leave a Comment