Chip War
Bab 49
“Everything We’re Competing On”
#1: Kekhawatiran Brian Krzanich dan Intel (2015)
Pada tahun 2015, CEO Intel Brian Krzanich, sebagai ketua Asosiasi Industri Semikonduktor, menyampaikan kekhawatiran yang tidak biasa kepada pejabat pemerintah AS: bukan meminta pemotongan pajak, tetapi bantuan menghadapi subsidi semikonduktor China yang masif.
Industri chip AS terjebak dalam dilema: China adalah pelanggan terbesar mereka, tetapi metode "tangan besi" Beijing memaksa mereka diam tentang subsidi yang tidak adil. Pejabat pemerintahan Obama melihat "rasa takut yang nyata" di mata Krzanich, khawatir China akan melakukan hal yang sama pada industri chip seperti yang mereka lakukan pada industri panel surya AS: mematikannya dengan subsidi negara senilai $250 miliar.
#2: Kelambanan Pemerintahan Obama (2015 - 2016)
Meskipun bukti kecurangan dagang dan kolusi China menumpuk, Washington bergerak lambat karena konsensus intelektual tentang globalisasi dan strategi naif "lari lebih cepat" (run faster).
Baru pada hari-hari terakhir pemerintahan Obama (akhir 2016), Menteri Perdagangan Penny Pritzker secara terbuka mengidentifikasi China sebagai tantangan utama dan mengutuk praktik dagang tidak adil serta akuisisi predator (seperti Tsinghua Unigroup). Namun, dengan waktu yang hampir habis, pemerintahan Obama hanya bisa memulai diskusi tanpa tindakan nyata, meninggalkan masalah ini untuk penerusnya.
#3: Pergeseran Paradigma Keamanan Nasional (2017)
Ketika pemerintahan Trump mengambil alih pada awal 2017, pejabat keamanan nasional seperti Matt Pottinger mulai mengubah kebijakan secara drastis. Berbeda dengan obsesi Trump pada tarif dan defisit perdagangan, faksi "hawkish" di Dewan Keamanan Nasional (NSC) fokus pada fondasi teknologi.
Mereka menyimpulkan bahwa strategi "lari lebih cepat" adalah kode untuk ketidakberdayaan. Seorang pejabat senior menyatakan: "Segala sesuatu yang kita kompetisikan di abad ke-21... semuanya bertumpu pada landasan penguasaan semikonduktor." Mereka percaya bahwa tanpa intervensi negara yang agresif dan kontrol ekspor yang lebih ketat, Silicon Valley akan "berongga" karena transfer teknologi ke China.
#4: Dilema "Pelanggan Nomor Satu adalah Pesaing Nomor Satu"
Industri chip AS berada dalam posisi yang sangat tidak nyaman. Mereka menginginkan bantuan pemerintah melawan subsidi China, tetapi takut akan pembalasan Beijing dan membenci kebijakan tarif Trump yang volatil.
Eksekutif semikonduktor secara pribadi mengakui kepada pejabat Gedung Putih bahwa strategi merangkul China sudah tidak ada harapan, namun mereka tidak bisa melepaskan diri dari ketergantungan pasar. Seperti yang disimpulkan seorang eksekutif: "Masalah mendasar kami adalah pelanggan nomor satu kami adalah pesaing nomor satu kami."
#5: Kasus ZTE: Senjata yang Terungkap (April 2018)
Pada April 2018, AS menyimpulkan ZTE melanggar kesepakatan pembelaan sebelumnya dan kembali menjatuhkan sanksi larangan pembelian chip AS. Langkah birokratis ini hampir membuat ZTE—raksasa teknologi China—runtuh dalam sekejap karena ketergantungan total pada komponen AS.
Meskipun Trump akhirnya menyelamatkan ZTE (setelah lobi Xi Jinping) demi "leverage" negosiasi dagang, insiden ini menjadi pengungkapan yang mengejutkan bagi dunia: semikonduktor bukan sekadar komoditas dagang, melainkan senjata geopolitik yang mematikan (choke point) yang bisa melumpuhkan perusahaan teknologi besar dalam semalam.