Effort Justification

The Art of Thinking Clearly 
Bab 60
Effort Justification

1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Effort Justification (Pembenaran Usaha / Justifikasi Upaya).
Varian Terkait: The IKEA Effect (Efek IKEA).
Deskripsi Judul: "Sakit tapi Enak" (Hurts So Good).

2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Effort Justification? Ini adalah kecenderungan kognitif di mana seseorang menilai suatu hasil menjadi jauh lebih berharga daripada nilai objektifnya, semata-mata karena mereka telah mencurahkan banyak energi, waktu, atau rasa sakit untuk mendapatkannya. Ini adalah bentuk khusus dari cognitive dissonance: otak kita tidak bisa menerima bahwa kita menderita demi sesuatu yang sepele, jadi otak memanipulasi nilai hasil tersebut menjadi sesuatu yang "sangat berharga" untuk membenarkan penderitaan kita.

Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan Effort Justification karena fungsi utamanya adalah untuk membenarkan (justify) besarnya usaha (effort) yang telah dikeluarkan. Jika usahanya besar tapi hasilnya biasa saja, terjadi disonansi. Solusinya: gelembungkan nilai hasilnya agar seimbang dengan usahanya.

3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Strategi Pemasaran & Kelompok)
Alasan: Efek ini dimanfaatkan secara luas, mulai dari ospek (inisiasi) geng/persaudaraan, sekolah bisnis (MBA), hingga perabotan rakitan sendiri. Semakin sulit "ujian masuk" atau proses pembuatannya, semakin bangga dan setia anggotanya.

4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Pin Pasukan Terjun Payung & Harley Davidson: Tentara John bangga memamerkan bekas luka di dadanya akibat pin terjun payung yang dipukul keras ke kulitnya (sakit = berharga). Mark merestorasi motor Harley berkarat selama bertahun-tahun hingga hampir bercerai. Karena usahanya begitu besar, Mark menolak menjual motor itu meski ditawar dua kali lipat harga pasar. Ia menilai motor itu berdasarkan keringatnya, bukan nilai pasarnya.

- Efek IKEA & Rajutan: Perabotan yang kita rakit sendiri (IKEA) atau kaus kaki yang kita rajut sendiri terasa lebih berharga daripada barang desainer mahal, meskipun hasilnya mungkin miring atau jelek. Kita tidak tega membuangnya karena ada "investasi usaha" di sana.

- Kue Instan (1950-an): Saat pertama kali dirilis, tepung kue instan tidak laku karena "terlalu mudah" bagi ibu rumah tangga (mereka merasa tidak berkontribusi). Pabrik mengubah resepnya menjadi "harus menambahkan telur sendiri". Sedikit tambahan usaha ini membuat para wanita merasa telah "memasak" dan menghargai produk tersebut.

5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Nilai Hasilnya Saja: Cobalah untuk menilai proyek, hobi, atau hubungan Anda secara objektif. Mundur sejenak dan lihat hanya hasilnya, abaikan berapa lama waktu atau usaha yang sudah Anda berikan.

- Evaluasi Ulang: Novel yang Anda tulis selama 5 tahun tapi ditolak penerbit: mungkin memang tidak bagus. Gelar MBA yang membuat Anda lelah: apakah benar-benar berguna? Wanita yang Anda kejar bertahun-tahun: apakah dia benar-benar yang terbaik atau Anda hanya terobsesi karena "susah didapat"?.

- Sadar Diri: Jika Anda merasa sangat bangga pada sesuatu yang Anda buat dengan susah payah, sadarilah bahwa orang lain mungkin tidak melihat nilai yang sama karena mereka tidak merasakan "sakitnya" proses tersebut.

Leave a Comment