Disrupting Intel

Chip War 
Bab 22
Disrupting Intel

#1: Filosofi Paranoia Andy Grove (Awal 1980-an)
Pada awal 1980-an, Andy Grove, presiden Intel yang merupakan pengungsi Hungaria korban selamat dari kekejaman Nazi dan Soviet, memimpin perusahaan dengan filosofi manajemen yang tertuang dalam bukunya, "Only the Paranoid Survive".

Gaya kepemimpinannya yang keras—dijelaskan sebagai "mengunyah pergelangan kaki orang"—berakar dari trauma masa lalu dan ketakutan mendalam akan kegagalan. Grove menggunakan ketakutan akan kompetisi dan kebangkrutan sebagai motivator utama untuk mendorong disiplin dan kewaspadaan ekstrem di seluruh perusahaan, memastikan tidak ada detail produk atau keluhan pelanggan yang terlewat.

#2: Keputusan "Mendisrupsi Diri Sendiri" (1985)
Sepanjang tahun 1985, Grove dan Gordon Moore bergulat dengan kenyataan pahit bahwa bisnis memori DRAM, yang merupakan fondasi berdirinya Intel, telah hancur total karena disrupsi produsen Jepang.

Momen pencerahan terjadi ketika Grove bertanya kepada Moore: "Jika kita dipecat dan dewan direksi membawa CEO baru, apa yang akan dia lakukan?" Moore menjawab CEO baru pasti akan keluar dari bisnis memori. Menyadari hal itu, mereka memutuskan untuk melakukan langkah berani: mendisrupsi diri sendiri (self-disruption) dengan meninggalkan pasar DRAM dan beralih sepenuhnya ke mikroprosesor, sebuah pertaruhan identitas yang menyakitkan namun krusial untuk bertahan hidup.

#3: Peluang Emas Komputer Pribadi (1980 - 1981)
Harapan bagi strategi baru Intel muncul dari kontrak kecil yang dimenangkan pada tahun 1980 dengan IBM. Pada tanggal 12 Agustus 1981, di Hotel Waldorf Astoria, IBM meluncurkan Personal Computer (PC) seharga $1.565.

PC yang menyertakan monitor kotak besar dan dua drive disket ini menggunakan perangkat lunak buatan Bill Gates dan chip mikroprosesor Intel. Meskipun awalnya pasar ini kecil, peluncuran ini menciptakan standar industri baru yang kelak meledak ketika perusahaan lain seperti Compaq mulai membuat "klon" PC IBM yang lebih murah, memberikan Intel monopoli virtual atas pasar otak komputer.

#4: Restrukturisasi Brutal dan Disiplin Militer
Transisi dari memori ke mikroprosesor menuntut pengorbanan besar. Grove memecat lebih dari 25 persen tenaga kerja Intel dan menutup pabrik di Silicon Valley, Oregon, Puerto Rico, dan Barbados.

Langkah "bakar kapal" ini disertai dengan perubahan budaya perusahaan yang drastis. Grove mengganti gaya santai Silicon Valley dengan disiplin militer yang ketat—seperti menegur karyawan yang terlambat masuk pukul 8 pagi—dan menerapkan "konfrontasi konstruktif" untuk menyelesaikan masalah, memaksa organisasi yang tadinya longgar menjadi mesin perang yang efisien.

#5: Strategi Manufaktur "Copy Exactly"
Untuk mengatasi kelemahan manufaktur Intel dibanding Jepang, deputi Grove, Craig Barrett, menerapkan metode "Copy Exactly". Insinyur dilarang melakukan penyesuaian kreatif pada proses produksi; begitu satu proses terbukti berhasil, ia harus direplikasi persis sama di semua pabrik Intel lainnya.

Strategi ini diadopsi karena sebelumnya pabrik Intel beroperasi seperti laboratorium riset yang tidak konsisten, menyebabkan hasil produksi rendah. Dengan meniru metode rigor Jepang, Intel berhasil meningkatkan hasil produksi (yield) secara substansial dan menekan biaya, menjadikan pabrik mereka mesin pencetak uang yang efisien.

#6: Angin Segar Makroekonomi (1985 - 1988)
Selain strategi internal, kebangkitan Intel juga didorong oleh pergeseran ekonomi global. Antara tahun 1985 hingga 1988, nilai mata uang Yen Jepang berlipat ganda terhadap dolar, membuat ekspor AS lebih kompetitif, sementara suku bunga AS turun tajam selama dekade tersebut.

Faktor-faktor ini, dikombinasikan dengan dominasi arsitektur Wintel (Windows dan Intel) di setiap kantor dan rumah, mengukuhkan keberhasilan transformasi Intel. Grove membuktikan bahwa dalam menghadapi disrupsi teknologi, hanya mereka yang paranoid dan bersedia mengubah diri secara radikal yang akan selamat.

Leave a Comment