The Art of Thinking Clearly
Bab 81
Default Effect
1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Default Effect (Efek Default / Efek Standar).
Alias: Status-Quo Bias (Bias Status Quo).
Deskripsi Judul: "Why You Go With The Status Quo" (Mengapa Anda Mengikuti Status Quo).
2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Default Effect? Ini adalah kecenderungan kuat manusia untuk memilih opsi standar (default) yang telah ditentukan sebelumnya, atau tetap bertahan pada keadaan saat ini (status quo), daripada mengambil keputusan aktif untuk berubah. Kita memperlakukan opsi default seperti "bantal empuk" yang nyaman; kita menerimanya tanpa banyak berpikir.
Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan Default Effect karena kita cenderung menempel pada pengaturan pabrik (factory settings) atau pilihan yang sudah dicentang otomatis. Penyebab utamanya adalah kenyamanan (kemalasan kognitif) dan Loss Aversion (Aversi Kerugian). Kita merasa kerugian akibat perubahan (misal: kerepotan mengurus administrasi) berbobot dua kali lebih berat daripada keuntungan yang mungkin didapat.
3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Alat Kebijakan Publik)
Alasan: Bias ini sangat mendasar sehingga digunakan oleh pemerintah dan perusahaan untuk mengarahkan perilaku massal (dikenal sebagai teori Nudge oleh Thaler & Sunstein). Dari pengaturan privasi ponsel hingga kebijakan negara, mayoritas orang jarang mengubah apa yang sudah disajikan di depan mata.
4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Donasi Organ (Opt-in vs Opt-out): Ini adalah contoh paling terkenal. Di negara yang mengharuskan warga mendaftar aktif untuk jadi donor (opt-in), tingkat partisipasi hanya sekitar 40%. Namun, jika negara menjadikan donor sebagai posisi default dan warga harus mendaftar untuk menolak (opt-out), partisipasi melonjak hingga di atas 80%. Perbedaan kecil dalam formulir menyelamatkan ribuan nyawa.
- Asuransi Mobil (New Jersey vs Pennsylvania): New Jersey menawarkan asuransi murah (hak terbatas) sebagai opsi default → mayoritas mengambilnya. Pennsylvania menawarkan asuransi mahal (hak penuh) sebagai default → mayoritas juga mengambilnya. Warga di kedua negara bagian tidak berbeda jauh, mereka hanya mengikuti apa yang disodorkan sebagai "standar".
- Pengaturan iPhone & Menu Restoran: Penulis tidak pernah mengubah pengaturan shutter kamera atau enkripsi iPhone-nya dari setelan pabrik. Di restoran, saat bingung memilih anggur mahal dengan nama aneh, ia langsung memilih "House Wine" (anggur standar restoran) karena itu adalah pilihan default yang aman dan mudah.
Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Audit Pengaturan Default: Sadari bahwa "Default" != "Terbaik". Seringkali opsi default dibuat untuk menguntungkan pembuat sistem (bank, aplikasi, penjual), bukan Anda. Luangkan waktu untuk memeriksa ulang langganan, biaya administrasi bank, dan privasi medsos Anda.
- Lawan Rasa Malas (Inersia): Sadari bahwa keengganan untuk mengubah status quo seringkali hanya karena Loss Aversion (takut rugi waktu/tenaga sesaat).
- Eksperimen Opsi Lain: Jangan hanya membeli mobil dengan warna yang ada di iklan. Tanyakan, "Jika opsi ini tidak dicentang otomatis, apakah saya akan tetap memilihnya?"