The Art of Thinking Clearly
Bab 53
Decision Fatigue
1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Decision Fatigue (Kelelahan Pengambilan Keputusan).
Deskripsi Judul: "Putuskan Lebih Baik – Putuskan Lebih Sedikit" (Decide Better – Decide Less).
2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Decision Fatigue? Ini adalah kondisi di mana kualitas keputusan seseorang memburuk setelah sesi pengambilan keputusan yang panjang. Membuat keputusan itu melelahkan dan menguras tekad (willpower). Tekad ibarat baterai; setelah digunakan terus-menerus, ia akan habis dan perlu diisi ulang. Ketika otak lelah, ia cenderung mengambil jalan pintas: menjadi impulsif (mudah tergoda iklan/seks) atau memilih opsi paling aman/status quo (tidak melakukan apa-apa).
Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan Decision Fatigue karena otak mengalami kelelahan harfiah akibat proses menimbang dan memilih. Penulis mengaitkan ini dengan kadar gula darah; tekad akan anjlok ke titik nol jika gula darah terlalu rendah.
3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Batasan Biologis)
Alasan: Ini adalah batasan biologis otak manusia. Siapa pun yang pernah merakit laptop online atau merencanakan liburan panjang pasti merasakannya: setelah membandingkan banyak opsi, kita menjadi sangat lelah dan akhirnya asal pilih atau menunda keputusan.
4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Hakim (Putusan Pengadilan): Sebuah studi terhadap ratusan putusan hakim menunjukkan pola mengejutkan. Di pagi hari atau setelah istirahat makan, hakim mengabulkan 65% permohonan bebas bersyarat ("keputusan berani"). Namun, seiring berjalannya waktu dan energi mental terkuras, persentase itu turun drastis hingga hampir nol. Hakim yang lelah memilih opsi default yang paling aman dan tidak butuh energi: tolak permohonan, biarkan tahanan tetap di penjara.
- Strategi IKEA: Berjalan melalui labirin pajangan IKEA memaksa pelanggan membuat ratusan keputusan kecil, yang memicu decision fatigue. IKEA sadar akan hal ini, maka mereka menempatkan restoran di tengah toko (bukan di akhir). Tujuannya mengisi ulang gula darah pelanggan agar mereka punya energi lagi untuk belanja impulsif di bagian aksesoris.
- Eksperimen Air Es (Willpower): Mahasiswa dibagi dua: "Pengambil Keputusan" (harus memilih barang) dan "Bukan Pengambil Keputusan" (hanya menulis pendapat). Setelah itu, mereka diminta menahan tangan di air es. Kelompok yang habis membuat banyak keputusan menarik tangan jauh lebih cepat. Tekad/disiplin diri mereka sudah habis terkuras oleh aktivitas memilih sebelumnya.
5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Pilih Waktu Presentasi: Jika harus presentasi ke CEO (proyek penentuan karier), pilih jam 08.00 pagi. Opsi jam 11.30 siang (sebelum makan siang) atau 18.00 sore (akhir hari) sangat berisiko ditolak karena bos Anda sudah mengalami decision fatigue.
- Isi Ulang Gula Darah: Jika Anda harus mengambil keputusan penting, pastikan Anda tidak lapar. Ambil jeda, rileks, dan makan sesuatu untuk mengisi ulang "baterai" tekad Anda.
- Kurangi Keputusan: Sadarilah bahwa energi mental Anda terbatas. Jangan habiskan untuk hal-hal sepele jika Anda memiliki keputusan besar yang harus dibuat nanti.