Confirmation Bias (Part 1)

The Art of Thinking Clearly 
Bab 7
Confirmation Bias (Part 1)

1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Confirmation Bias (Bias Konfirmasi).
Julukan Penulis: The Mother of All Misconceptions (Induk dari Segala Kesalahpahaman).
Deskripsi Judul: "Hati-hati dengan 'Kasus Khusus'" (Beware the ‘Special Case’).

2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Confirmation Bias? Ini adalah kecenderungan untuk menafsirkan informasi baru sedemikian rupa agar cocok dengan teori, kepercayaan, dan keyakinan kita yang sudah ada. Kita memfilter informasi baru yang bertentangan dengan pandangan kita (yang disebut disconfirming evidence). Fakta tidak berhenti ada hanya karena diabaikan, namun manusia sangat ahli dalam melakukan pengabaian tersebut.

Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan Confirmation Bias karena otak kita secara aktif mencari bukti yang mengonfirmasi (membenarkan) kesimpulan awal kita. Segala sesuatu yang mendukung teori kita diterima, sementara indikasi yang berlawanan tidak dilihat atau buru-buru dianggap sebagai "pengecualian" atau "kasus khusus" agar keyakinan kita tetap utuh.

3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Induk Kesalahpahaman)

Alasan: Penulis menyebutnya sebagai "induk dari segala kesalahpahaman". Warren Buffett bahkan menyatakan bahwa keahlian terbaik manusia adalah menafsirkan informasi baru agar kesimpulan lamanya tetap utuh. Bias ini hidup subur di dunia bisnis maupun kehidupan pribadi.

4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Ilusi Diet (Gil): Gil ingin kurus. Ia menimbang berat badan setiap pagi. Jika beratnya turun, ia menganggap dietnya sukses. Jika beratnya naik, ia menganggapnya sebagai fluktuasi normal dan melupakannya. Berbulan-bulan ia hidup dalam ilusi bahwa dietnya berhasil, padahal berat badannya tetap.

- Strategi Bisnis & "Pengecualian": Tim eksekutif merayakan setiap tanda keberhasilan dari strategi baru. Namun, ke mana pun mereka melihat, tanda-tanda kegagalan diabaikan atau dianggap sebagai "pengecualian" (special cases). Mereka menjadi buta terhadap bukti yang menyangkal strategi mereka.

- Eksperimen Angka 2-4-6: Seorang profesor meminta mahasiswa menebak aturan di balik urutan angka 2-4-6. Kebanyakan mahasiswa menebak angka 8, 10, 12 untuk mengonfirmasi teori mereka (misal: tambah dua). Hanya satu mahasiswa cerdik yang menebak -2 dan 7 untuk mencari kesalahan teorinya. Ternyata aturannya sederhana: "angka berikutnya harus lebih tinggi dari sebelumnya". Mahasiswa lain terjebak karena hanya ingin membenarkan tebakan mereka, bukan mengujinya.

5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Waspada Kata "Pengecualian": Jika kata "pengecualian" atau "kasus khusus" muncul, pasang telinga Anda baik-baik. Seringkali kata itu menyembunyikan bukti yang tidak ingin Anda akui (disconfirming evidence).

- Metode Charles Darwin: Tirulah Darwin: setiap kali ada observasi yang bertentangan dengan teorinya, ia mencatatnya segera. Ia tahu otak secara aktif "melupakan" bukti yang menyangkal dalam waktu singkat. Semakin ia yakin teorinya benar, semakin aktif ia mencari kontradiksinya.

- Cari Kesalahan Sendiri: Jangan hanya mencari bukti yang mendukung teori Anda. Seperti mahasiswa cerdik dalam eksperimen angka, cobalah secara sadar mencari kesalahan pada teori Anda sendiri (consciously looking for disconfirming evidence).

Leave a Comment