Cognitive Dissonance

The Art of Thinking Clearly 
Bab 50
Cognitive Dissonance

1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Cognitive Dissonance (Disonansi Kognitif).
Deskripsi Judul: "Kebohongan Kecil yang Manis" (Sweet Little Lies).
Asal Cerita: Fabel Aesop tentang Rubah dan Anggur (The Fox and the Grapes).

2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Cognitive Dissonance? Ini adalah ketegangan mental atau ketidaknyamanan yang terjadi ketika rencana kita gagal atau tindakan kita tidak sesuai dengan keyakinan kita. Untuk mengatasi konflik ini, alih-alih mengakui kesalahan atau kekurangan kemampuan, kita melakukan reinterpretasi retrospektif (menafsirkan ulang kejadian masa lalu) agar kita merasa lebih baik. Kita membohongi diri sendiri agar tindakan irasional kita terlihat masuk akal.

Mengapa dinamakan demikian? Istilah ini menggambarkan "disonansi" (ketidakharmonisan) dalam kognisi/pikiran kita. Contoh klasiknya adalah fabel rubah yang gagal memetik anggur. Ada konflik antara keinginan (makan anggur) dan kenyataan (gagal melompat). Rubah memecahkan disonansi ini bukan dengan mengakui dia pendek, tapi dengan menafsir ulang anggurnya: "Ah, anggurnya belum matang, rasanya pasti asam.".

3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Mekanisme Pertahanan Ego)
Alasan: Artikel menyebutnya sebagai "salah satu kesalahan penalaran yang paling umum" (one of the most common errors in reasoning). Kita melakukannya terus-menerus untuk membenarkan pembelian yang buruk, kegagalan karier, atau kesalahan investasi, semata-mata karena mengakui kesalahan itu menyakitkan bagi ego.

4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Membeli Mobil Bising: Anda membeli mobil baru, tapi ternyata mesinnya berisik dan kursinya tidak nyaman. Mengembalikan mobil berarti mengakui kesalahan (dan rugi uang). Solusi otak: Anda meyakinkan diri sendiri bahwa mesin berisik dan kursi keras adalah "fitur keselamatan" agar tidak mengantuk saat menyetir. Tiba-tiba Anda bangga dengan pembelian "cerdas" tersebut.

- Eksperimen Kebohongan $1 vs $20: Mahasiswa disuruh melakukan tugas membosankan lalu diminta berbohong pada orang lain bahwa tugas itu seru. Grup A dibayar $1, Grup B dibayar $20. Grup B tidak merasa bersalah berbohong karena $20 adalah bayaran yang pantas (justifikasi eksternal). Grup A mengalami cognitive dissonance (masa berbohong cuma demi $1?). Akhirnya, Grup A meyakinkan diri sendiri bahwa tugas itu benar-benar seru untuk mendamaikan batin mereka.

- Lamaran Kerja & Saham: Jika ditolak kerja, alih-alih mengakui kandidat lain lebih baik, kita bilang: "Aku sebenarnya tidak mau kerja di situ, cuma mau cek nilai pasar kok." Jika saham yang kita beli rugi, kita bilang: "Ini cuma masalah awal (teething problems), potensinya masih besar," alih-alih mengakui salah pilih.

5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Berhenti Menjadi Rubah: Ingat nasihat teman penulis: "Kamu bisa bermain peran sebagai rubah cerdik semaumu, tapi kamu tidak akan pernah mendapatkan anggurnya dengan cara itu.".

- Akui Kesalahan: Alih-alih merekayasa alasan-alasan manis (sweet little lies) untuk menutupi kegagalan, akuilah kekurangan kemampuan atau kesalahan keputusan secara jujur.

- Waspada Reinterpretasi: Jika Anda mendapati diri Anda mengubah alasan di tengah jalan (seperti kasus mobil bising jadi fitur keselamatan), sadarilah bahwa itu adalah upaya otak meredakan disonansi kognitif.

Leave a Comment