Chip War
Bab 43
“Call Forth the Assault”
#1: Retorika Ganda Xi Jinping (Januari 2017)
Pada Januari 2017, tiga hari sebelum pelantikan Donald Trump, Xi Jinping tampil di Forum Ekonomi Dunia Davos. Di hadapan elit global, ia berpidato manis menjanjikan keterbukaan ekonomi dan membela globalisasi, sebuah kontras tajam dengan retorika proteksionis Trump.
Namun, di balik layar, pesan Xi kepada elit internal China jauh berbeda dan militan. Beberapa bulan sebelumnya, ia menyerukan "serangan" terkoordinasi terhadap teknologi inti (semikonduktor). Menggunakan metafora militer, Xi memerintahkan pembentukan "pasukan kejut" (shock brigades) untuk "menyerbu benteng pertahanan" riset teknologi, menandakan bahwa China sedang melancarkan perang teknologi, bukan perdamaian dagang.
#2: Statistik Ketergantungan yang Membahayakan (2017)
Kebutuhan mendesak di balik retorika militer Xi adalah data statistik yang suram. Di seluruh rantai pasok semikonduktor, China secara agregat hanya menguasai 6 persen pasar global, sementara AS menguasai 39 persen.
Dalam segmen spesifik yang kritis, ketergantungan China sangat parah: pangsa pasar perangkat lunak desain chip (EDA) China kurang dari 1 persen, kekayaan intelektual (IP) inti 2 persen, dan alat fabrikasi 1 persen. Hampir setiap langkah pembuatan chip di China bergantung pada teknologi dari rival geopolitiknya (AS, Taiwan, Jepang, Korea Selatan), membuat ambisi AI dan komputasi awan China sangat rentan terhadap sanksi asing.
#3: Kegagalan Strategi Subsidi Awal (2000-an - 2014)
Upaya awal China membangun industri chip domestik melalui subsidi dan usaha patungan (joint venture) sebagian besar gagal. Perusahaan seperti SMIC tertinggal jauh dari TSMC, sementara usaha patungan sering kali menjadi proyek merugi yang kecanduan subsidi tanpa transfer teknologi yang berarti.
Masalah utamanya adalah campur tangan pemerintah daerah yang tidak efisien; setiap gubernur provinsi menginginkan pabrik chip sendiri demi gengsi, menghasilkan koleksi pabrik kecil yang tersebar dan tidak efisien, alih-alih klaster industri yang kuat.
#4: "Big Fund" dan Made in China 2025 (2014 - 2025)
Menyadari kegagalan tersebut, Beijing meluncurkan "Big Fund" pada tahun 2014, sebuah dana investasi negara raksasa yang melibatkan entitas aneh seperti China Tobacco (perusahaan rokok negara) sebagai investor teknologi.
Tujuannya adalah mendanai rencana ambisius Made in China 2025, yang menargetkan pengurangan ketergantungan chip impor dari 85 persen (2015) menjadi 30 persen pada tahun 2025. Mengingat biaya satu pabrik canggih bisa melebihi $10 miliar, hanya pendanaan negara skala masif yang memungkinkan China mengejar ketertinggalan ini.
#5: Ancaman Terhadap Tatanan Global (2017)
Visi kemandirian China bukan sekadar masalah domestik, melainkan ancaman eksistensial bagi tatanan perdagangan global. Pada tahun 2017, impor chip China mencapai $260 miliar—lebih besar dari nilai ekspor minyak Arab Saudi atau ekspor mobil Jerman.
Jika China sukses menggantikan chip impor dengan "Rantai Pasok Merah" (Red Supply Chain) domestik, ekonomi tetangganya akan hancur. Ekspor sirkuit terpadu menyumbang porsi besar bagi ekonomi Taiwan (36%), Malaysia (19%), dan Korea Selatan (15%). Rencana Xi Jinping pada dasarnya adalah upaya radikal untuk memutuskan jaringan saling ketergantungan yang telah menopang stabilitas dan kemakmuran Asia selama setengah abad terakhir.