Boulevard of Broken Dreams

ASML's Architects 
Bab 52
Boulevard of Broken Dreams

#1: Kemenangan Teknis vs. Realitas Throughput (Akhir Musim Panas 1986)

Secara teknis, ASML akhirnya memiliki mesin yang berfungsi.

- Laporan Natlab: Steef Wittekoek memberikan evaluasi positif: mesin bekerja dan presisi overlay-nya terbaik di dunia. Namun, ia memberi catatan kritis: throughput (produktivitas) masih rendah, hanya 42 wafer (4 inci) per jam.
- Semangat Juang: Insinyur merasa bangga. George de Kruiff membanggakan etos kerja ASML di mana "lampu selalu menyala" untuk lembur, kontras dengan gedung Philips yang gelap tepat pukul 6 sore.
- Rahasia Finansial: Di balik layar, hanya CEO Gjalt Smit dan CFO Gerard Verdonschot yang tahu kas perusahaan hampir habis. Saat insinyur bertanya, Verdonschot selalu menenangkan: "Jangan khawatir soal itu, buat saja mesinnya."

#2: Kebutaan Pemasaran: Kegagalan ASIC

Bab ini menyoroti kegagalan fatal tim pemasaran ASML dalam membaca pasar AS.

- Pergeseran Pasar: Karena Jepang menguasai pasar memori, produsen AS (seperti Cypress dan LSI Logic) beralih ke ASIC (Application-Specific Integrated Circuits) yang membutuhkan fleksibilitas tinggi.
- Keterlambatan ASML: ASML terlambat menyadari ini hingga musim gugur 1986. Tim penjualan masih menggunakan strategi "me-too" (hanya ikut-ikutan) dan gagal menonjolkan keunggulan unik mesin mereka untuk aplikasi ASIC.
- Kritik Smit: Smit memarahi manajemen karena kurangnya "keterlibatan cerdas" (intelligent involvement). Operasional dan teknik tidak berkomunikasi, Veldhoven dan Phoenix tidak sinkron.

#3: Angka-Angka Kehancuran (Laporan 1986)

Tahun 1986 adalah bencana finansial dan operasional.

- Pasar Global: Total penjualan stepper dunia anjlok ke 125-150 unit (setengah dari tahun sebelumnya).

- Kinerja ASML:
1. Target produksi: 40 mesin -> Realisasi: Hanya 12 mesin.
2. Karyawan: Membengkak menjadi 360 orang (100 di atas rencana).
3. Keuangan: Menghabiskan $30,7 juta (rugi besar).
4. Pangsa Pasar AS: Hanya 5%.

- Strategi Harga: Di tengah dumping harga oleh kompetitor yang putus asa, ASML memutuskan untuk tidak menurunkan harga, melainkan bertaruh pada kualitas—keputusan sulit yang membuat penjualan macet.

#4: Diplomasi Tingkat Tinggi: Surat Jaminan & Frits Philips

Di tengah krisis, ASML membutuhkan dukungan moral dan politik.

- Kunjungan Ikonik: Pada 12 Desember 1986, Frits Philips (80 tahun, putra pendiri dan "hati nurani" Philips) mengunjungi ASML untuk makan siang. Ini momen simbolis penting bagi moral karyawan.
- Tuntutan AMD: Jerry Sanders (AMD) menuntut jaminan bahwa Philips tidak akan membiarkan ASML bangkrut.
- Surat Ajaib: Philips menolak memberikan jaminan legal. Solusinya: seorang anggota direksi Philips menulis surat yang kata-katanya indah tapi isinya kosong (content-free but beautifully worded). Ajaibnya, surat ini memuaskan AMD.

#5: "Palu Godam" dan Eksodus Karyawan

Akhir tahun membawa keputusasaan total.

- Pembatalan Sanders: Setelah semua drama surat jaminan, Jerry Sanders membatalkan pesanan di detik terakhir karena pasar belum pulih. Ini menghantam Smit seperti "palu godam". Keyakinannya runtuh.
- Boulevard of Broken Dreams: Istilah ini (diambil dari festival teater di Den Bosch) menjadi metafora kondisi perusahaan: mimpi yang hancur berantakan.
- Klausul Kembali: Menghadapi ketidakpastian, banyak karyawan eks-Philips mengaktifkan klausul kontrak mereka untuk kembali bekerja di Philips, meninggalkan kapal ASML yang dianggap akan karam.

Leave a Comment