Availability Bias

The Art of Thinking Clearly 
Bab 11
Availability Bias

1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Availability Bias (Bias Ketersediaan).
Deskripsi Judul: "Mengapa Kita Lebih Suka Peta yang Salah daripada Tidak Ada Peta Sama Sekali" (Why We Prefer a Wrong Map to No Map at All).

2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Availability Bias? Ini adalah kecenderungan kita untuk menciptakan gambaran tentang dunia menggunakan contoh-contoh yang paling mudah muncul dalam pikiran. Kita berpikir secara dramatis, bukan kuantitatif; kita melebih-lebihkan kemungkinan hasil yang mencolok atau "berisik" dan meremehkan hal-hal yang diam atau tak terlihat. Kita lebih memilih informasi yang salah tapi ada, daripada tidak ada informasi sama sekali.

Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan Availability Bias karena otak kita menilai frekuensi atau kebenaran sesuatu berdasarkan seberapa tersedia (available) hal tersebut dalam memori kita. Jika sesuatu mudah diingat (misalnya karena sering diulang atau sangat spektakuler), kita menganggapnya lebih sering terjadi daripada kenyataannya. Contohnya, kita lebih cepat mengingat kata yang berawalan huruf 'K' daripada kata yang huruf ketiganya 'K', sehingga kita salah mengira jumlahnya lebih banyak.

3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Sistematis)
Alasan: Bias ini memiliki "kursi tetap" di meja rapat direksi perusahaan. Manusia secara sistematis menyalahartikan risiko global. Kita lebih suka menggunakan informasi yang mudah didapat (seperti data ekonomi atau resep) daripada informasi yang relevan tapi sulit dicari. Dokter dan konsultan pun sering terjebak menggunakan metode yang mereka "tahu" saja daripada yang paling tepat.

4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Peta Risiko yang Salah (Kecelakaan vs Penyakit): Kita melebih-lebihkan risiko tewas karena kecelakaan pesawat, pembunuhan, atau serangan bom karena peristiwanya spektakuler dan mudah dibayangkan. Sebaliknya, kita meremehkan risiko mati karena diabetes atau kanker perut, serta risiko depresi, karena hal-hal tersebut terjadi secara "diam" dan tidak mencolok di memori kita.

- Formula Keuangan & Peta Salah: Bank menggunakan rumus Black-Scholes untuk menentukan harga produk keuangan meskipun sudah tahu selama 10 tahun bahwa rumus itu tidak berfungsi. Mereka tetap menggunakannya karena tidak punya solusi lain. Ini ibarat tersesat di kota asing, lalu menggunakan peta kampung halaman Anda hanya karena cuma peta itu yang Anda punya. Lebih baik peta salah daripada tidak ada peta.

- Kata-kata yang Diulang (Propaganda/UFO): Jika sesuatu diulang cukup sering, ia akan tersimpan di memori paling depan dan menjadi "tersedia". Pemimpin Nazi mengulang istilah "Masalah Yahudi" hingga massa percaya itu masalah serius; atau orang percaya pada "UFO", "energi kehidupan", atau "karma" hanya karena kata-kata itu sering diucapkan.

5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Cari Masukan Orang Lain: Lawan bias ini dengan menghabiskan waktu bersama orang-orang yang berpikir berbeda dengan Anda, yang memiliki pengalaman dan keahlian berbeda. Kita butuh input orang lain untuk mengatasi keterbatasan memori kita sendiri.

- Waspada Terhadap Apa yang "Tidak Dibahas": Dalam rapat, jangan hanya membahas apa yang ada di agenda (seperti angka kuartalan yang mudah didapat). Diskusikan juga hal-hal yang tidak ada di agenda tapi krusial, seperti motivasi karyawan atau pergerakan kompetitor.

- Ingat Sindrom Frank Sinatra: Jangan jatuh pada logika lagu Frank Sinatra: "I love the girl I’m near" (Aku mencintai gadis yang ada di dekatku). Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan apa yang paling dekat atau paling mudah diakses oleh otak Anda saat itu.

Leave a Comment