The Art of Thinking Clearly
Bab 9
Authority Bias
1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Authority Bias (Bias Otoritas).
Deskripsi Judul: "Jangan Tunduk pada Otoritas" (Don’t Bow to Authority).
2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Authority Bias? Ini adalah kecenderungan psikologis di mana kita mematuhi figur otoritas secara membabi buta, bahkan ketika perintah mereka tidak masuk akal atau berbahaya. Keberadaan otoritas sering kali menghalangi pemikiran jernih karena dua masalah utama: rekam jejak mereka yang sering mengecewakan, dan rasa takut/hormat berlebihan yang membuat bawahan tidak berani mengoreksi kesalahan mereka.
Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan Authority Bias karena keputusan kita bias atau dipengaruhi secara tidak proporsional oleh status "Otoritas" seseorang (seperti dokter, CEO, ilmuwan, atau politisi). Otoritas ini sering diperkuat oleh simbol-simbol status seperti jas, jas putih dokter, pangkat militer, atau penampilan di acara bincang-bincang. Kita dikondisikan sejak kisah-kisah Alkitab untuk percaya bahwa ketidakpatuhan pada otoritas akan membawa hukuman (seperti pengusiran dari surga).
3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Berakar Kuat)
Alasan: Eksperimen psikologi membuktikan bahwa mayoritas orang akan melakukan tindakan ekstrem (seperti menyetrum orang lain) hanya karena disuruh oleh seseorang yang dianggap otoritas. Bias ini juga sangat umum di dunia korporat, terutama di perusahaan dengan CEO yang dominan di mana karyawan takut mengutarakan pendapat.
4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Eksperimen Milgram (Kepatuhan Mematikan): Pada tahun 1961, psikolog Stanley Milgram meminta subjek memberikan sengatan listrik kepada orang lain (aktor). Meskipun korban menjerit kesakitan, mayoritas subjek terus meningkatkan tegangan hingga level mematikan (450V) hanya karena profesor berkata: "Lanjutkan, eksperimen ini bergantung padanya". Mereka patuh semata-mata karena perintah otoritas.
- Penerbangan (Kapten adalah Raja): Dulu, ko-pilot sering kali tidak berani mengoreksi kesalahan kapten karena rasa hormat atau takut pada hierarki, yang menyebabkan banyak kecelakaan. Maskapai penerbangan akhirnya menyadari bahaya ini dan menerapkan Crew Resource Management (CRM) untuk "memprogram ulang" bias otoritas, mengajarkan kru untuk berdiskusi secara terbuka demi keselamatan.
- Kegagalan Pakar Ekonomi (Krisis 2008): Ada sekitar satu juta ekonom terlatih di dunia, namun hampir tidak ada yang bisa memprediksi krisis finansial 2008. Meskipun gagal total secara spektakuler, masyarakat tetap sering mempercayai otoritas ekonomi tanpa kritis. Hal serupa terjadi di dunia medis pra-1900, di mana pasien tetap ke dokter meski pengobatan zaman itu (seperti bloodletting) justru memperparah penyakit.
5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Identifikasi Pengaruh Otoritas: Setiap kali Anda hendak mengambil keputusan, pikirkanlah tokoh otoritas mana yang mungkin sedang memengaruhi penalaran Anda.
- Tantang Otoritas: Ketika Anda bertemu dengan figur otoritas secara langsung, berusahalah sebaik mungkin untuk menantang atau mengkritisi pendapat mereka, jangan menerimanya mentah-mentah.
- Abaikan Simbol Status: Sadarilah bahwa otoritas sering kali dibangun melalui simbol dan properti (jas, seragam, entri Wikipedia, penampilan TV). Jangan biarkan atribut fashion ini mematikan nalar kritis Anda.