Chip War
Bab 16
“At War with Japan”
#1: Deklarasi Perang Ekonomi (1969 - Awal 1980-an)
Jerry Sanders, yang mendirikan AMD pada tahun 1969, dan Charlie Sporck dari National Semiconductor, memandang persaingan dengan Jepang bukan sebagai kompetisi biasa, melainkan sebuah perang.
Sporck, trauma melihat pabrik TV GE tempat ia bekerja dulu kosong akibat kompetisi Asia, menegaskan, "Kita sedang berperang dengan Jepang." Bukan dengan senjata, melainkan perang ekonomi melalui teknologi, produktivitas, dan kualitas.
#2: Proteksionisme dan Subsidi Pemerintah (1974 - 1976)
Jepang dituduh melakukan praktik tidak adil. Hingga tahun 1974, Jepang memberlakukan kuota yang membatasi penjualan chip AS. Bahkan setelah dicabut, perusahaan seperti NTT tetap membeli dari pemasok lokal.
Pemerintah Jepang juga mendorong kolaborasi melalui program VLSI pada tahun 1976 dengan mendanai sekitar setengah anggaran riset. Meskipun dana tahunan $72 juta ini setara dengan anggaran R&D Texas Instruments, hal ini dianggap sebagai subsidi yang tidak adil oleh AS.
#3: Skandal Spionase Industri (November 1981)
Ketegangan memuncak pada pagi hari di bulan November 1981 di sebuah hotel di Hartford, Connecticut. Karyawan Hitachi, Jun Naruse, tertangkap dalam operasi FBI saat menyerahkan uang tunai demi mendapatkan rahasia dagang dari Pratt & Whitney.
Eksekutif Hitachi telah mengizinkan pembayaran $500.000 kepada perusahaan fiktif FBI tersebut. Skandal ini, ditambah dengan kasus Toshiba menjual teknologi kapal selam senyap ke Soviet pada pertengahan 1980-an, memperkuat persepsi AS tentang permainan kotor Jepang.
#4: Kesenjangan Biaya Modal yang Brutal (1980-an)
Jerry Sanders menyoroti kerugian terbesar AS: biaya modal. Pada tahun 1980-an, ketika The Fed melawan inflasi, suku bunga AS mencapai 21,5 persen. Sanders mengeluh ia harus membayar 18 persen bunga, sementara pesaing Jepang hanya membayar 6 hingga 7 persen.
Didukung oleh tingkat tabungan domestik yang tinggi dan struktur konglomerat, bank-bank Jepang yang kelebihan uang tunai terus meminjamkan dana murah ke perusahaan chip Jepang meskipun mereka merugi, memungkinkan mereka berinvestasi 60 persen lebih banyak daripada rival AS di awal dekade ini.
#5: Lonjakan Investasi dan Kejatuhan Intel (1984)
Berbekal modal murah, belanja modal Jepang meledak. Pada tahun 1984, Hitachi menghabiskan 80 miliar yen (naik dari 1,5 miliar satu dekade sebelumnya), Toshiba 75 miliar yen, dan NEC 110 miliar yen.
Dampaknya sangat fatal bagi pelopor AS: lima tahun setelah chip DRAM 64K diperkenalkan, pangsa pasar Intel di segmen DRAM global menyusut drastis menjadi hanya 1,7 persen.
#6: Dominasi Investasi Global (1985 - 1990)
Agresi investasi Jepang terus berlanjut. Pada tahun 1985, perusahaan Jepang menyumbang 46 persen dari belanja modal semikonduktor dunia, melampaui Amerika yang hanya 35 persen.
Angka ini semakin timpang pada tahun 1990, di mana perusahaan Jepang menyumbang setengah (50%) dari seluruh investasi dunia dalam fasilitas dan peralatan pembuatan chip, membuat prediksi "kematian" Silicon Valley tampak semakin nyata.