ASML's Architects
Bab 18
Arthur del Prado
#1: Latar Belakang "Mr. Business" (1931 - 1960-an)
Arthur del Prado lahir di Batavia (Jakarta) pada tahun 1931. Ayahnya adalah kapten kapal keturunan Yahudi Portugis-Suriname. Masa kecilnya diwarnai tragedi perang; ia terpisah dari keluarga dan ditahan di kamp interniran Jepang di Hindia Belanda. Latar belakang ini membentuk karakternya yang tangguh.
Setelah lulus dari Harvard Business School, Arthur pergi ke California pada tahun 1958. Di sana, ia menyaksikan kelahiran industri chip di Silicon Valley. Ia kembali ke Belanda dengan modal hanya $500 dan satu wafer silikon di tangan, lalu mendirikan Advanced Semiconductor Materials (ASM) di Bilthoven pada awal 1960-an.
#2: Ekspansi Agresif dan Akuisisi Fico (1971 - 1976)
Berbeda dengan perusahaan Belanda yang konservatif, Del Prado membangun imperium global. Pada 1971, ia bertemu Richard Fierkens, pendiri Fico Tooling. ASM awalnya menjadi agen Fico, lalu mengakuisisinya pada 1974, memberi ASM pijakan kuat di pasar pengemasan chip (packaging).
Del Prado berekspansi ke Asia dengan membuka kantor di Hong Kong pada 1975 di bawah pimpinan Patrick Lam (yang kelak membesarkan ASM Pacific Technology). Pada 1976, ia membuka ASM America di Phoenix, Arizona. Strategi ini menjadikan ASM perusahaan yang benar-benar global.
#3: Kontras Pertumbuhan: ASM vs Philips (1978 - 1983)
Di saat Philips dan divisi Elcoma mem-PHK ribuan karyawan karena resesi, ASM tumbuh bak "tanaman liar". Pendapatan ASM melonjak dari $14 juta (1978) menjadi hampir $100 juta (1983), dengan pertumbuhan rata-rata 50% per tahun.
Puncaknya, pada 1981, ASM menjadi perusahaan industri non-Amerika pertama sejak Perang Dunia II yang melantai di bursa NASDAQ, menggalang dana $16 juta. Kesuksesan ini membuat Del Prado dinobatkan sebagai Businessman of the Year di Belanda pada 1983. Gaya hidupnya pun berubah dari mengendarai Volkswagen menjadi pesawat pribadi.
#4: Upaya Lobi Awal yang Diabaikan (1976 - 1981)
Del Prado melihat peluang emas pada teknologi stepper Philips. Ia tahu Elcoma sedang bekerja dengan Natlab.
- 1976: Ia menulis surat diplomatik kepada Direktur Fab Elcoma, Jan Huart, menyarankan agar ASM yang menangani pembuatan mesin. Surat ini diabaikan.
- 1981: Ia menulis surat kepada Eduard Pannenborg (Dewan Direksi Philips) setelah membaca wawancaranya tentang kurangnya kebijakan industri Eropa. Surat ini tidak dijawab selama lima bulan.
#5: Strategi Media dan Penolakan Ab de Boer (Akhir 1981)
Frustrasi diabaikan, Del Prado menggunakan media. Artikel surat kabar berjudul "Silicon Valley Just Down the Street" (Silicon Valley Hanya di Ujung Jalan) menyindir ketertutupan perusahaan besar Eropa dibanding AS.
Artikel ini memicu pertemuan dengan Ab de Boer (Direktur Komersial S&I). Namun, De Boer dan Wim Troost menilai ASM "terlalu kecil". Mereka menghitung pendapatan ASM tahun 1980 ($37 juta) tidak akan cukup mendanai pengembangan stepper yang diperkirakan menelan biaya di atas $50 juta. Selain itu, keahlian ASM di bidang wire bonding dianggap tidak selevel dengan kompleksitas litografi.
#6: Konfrontasi di Kementerian Ekonomi (Oktober 1982)
ASM dan Philips sering bertemu di Kementerian Urusan Ekonomi di Den Haag. Pada pertemuan tanggal 7 Oktober 1982 yang dihadiri Dirjen Interim Jan Hillege, Del Prado kembali mengajukan proposal agar ASM memasarkan stepper dan alat E-beam Philips di AS dan Jepang.
Ab de Boer menolak mentah-mentah di depan pejabat pemerintah, menyatakan bahwa ASM terlalu kecil dan Philips sedang bernegosiasi dengan Cobilt. Del Prado, yang mengenal Cobilt (mantan klien ASM), memperingatkan bahwa bermitra dengan Cobilt adalah kesalahan, namun peringatan ini diabaikan.
#7: Kunjungan Terakhir dan Kebuntuan (Desember 1982)
Sebuah delegasi S&I mengunjungi kantor ASM di Bilthoven, dan Ger Janssen (pemasaran S&I) mengunjungi operasi ASM di Tokyo. Meskipun melihat jejak global ASM, manajemen Philips tetap pada pendiriannya: ASM secara finansial terlalu kecil untuk menanggung risiko proyek litografi.
Hingga titik ini, meskipun proyek stepper Philips sedang sekarat dan semua mitra AS gagal, arogansi korporat membuat mereka terus menolak satu-satunya pihak yang antusias menyelamatkan teknologi tersebut.