ASML's Architects
Bab 36
Anthill (Sarang Semut) 🐜
#1: Kejujuran Brutal Martin van den Brink (Oktober 1984)
Pada Jumat sore di bulan Oktober, Martin van den Brink (yang baru setahun lulus kuliah) berdiri di depan flip chart di ruang rapat sempit gedung TQ3. Di hadapan selusin insinyur, ia menyampaikan penilaian teknis yang jujur namun mengejutkan: "Gentlemen, stepper yang kita miliki saat ini payah (sucks). Kita akan merancang yang baru. Akan jadi seperti apa barang itu?"
#2: Kejutan Budaya Jos Vreeker
Insinyur layanan (service engineer) yang baru direkrut, Jos Vreeker, hampir jatuh dari kursinya mendengar ucapan Van den Brink.
- Latar Belakang: Vreeker menghabiskan 4 tahun berkeliling Eropa menyervis mesin pemindai Micralign buatan Perkin-Elmer (standar industri yang sukses, disiplin, dan berkualitas tinggi).
- Realitas ASML: Ia menyadari telah bergabung dengan perusahaan yang belum memiliki mesin baru untuk dijual atau diservis. Saat melihat PAS 2000 lama di lantai perakitan, ia kaget melihat kualitasnya yang seperti "kerjaan asal-asalan" (shoestring work) dan ragu mesin itu bisa bekerja.
#3: Skeptisisme Pelanggan terhadap Presisi "Absurd"
Saat Vreeker mengunjungi pabrik-pabrik Philips untuk menyervis PAS 2000, ia menghadapi sikap meremehkan dari operator mesin.
- ASML membanggakan sistem penyelarasan (alignment) superior dengan akurasi 125 nanometer (0,125 mikron).
- Respons Pasar: Operator menganggap presisi itu "absurd" dan berlebihan. Mereka bertanya untuk apa butuh akurasi 0,125 mikron jika mereka belum bisa mencetak detail lebih kecil dari 1 mikron?
- Ini mencerminkan pandangan umum pertengahan 80-an bahwa litografi optik akan segera mentok, sehingga inovasi ASML dianggap tidak relevan.
#4: Fia Loozen dan Wawancara di Apartemen
Fia Loozen, seorang asisten eksekutif berpengalaman (eks-Gillette dan Henkel), melamar setelah melihat iklan di Intermediair.
- Proses Unik: Gjalt Smit mewawancarainya (serta kepala pengembangan Nico Hermans dan CTO Gerard Verdonschot) di apartemen pribadinya di Eindhoven, bukan di kantor.
- Alasannya: Kantor di barak portable terlalu sempit, dan Smit ingin menghindari "bau penindasan" Philips. Di apartemennya, suasana terasa lebih seperti startup visioner. Loozen terkesan dengan visi Smit untuk "menaklukkan dunia".
#5: "Grand Central Station" dan Sarang Semut (November 1984)
Ketika Loozen mulai bekerja pada akhir November di barak sementara, realitasnya jauh dari visi yang diceritakan Smit. Ia menyebut kantor itu sebagai "Zona Bencana".
- Kekacauan Kantor: Kantor Loozen berfungsi seperti stasiun kereta karena lemari arsip di sebelah mejanya berisi persediaan kantor, soda, bir, kue, permen, kulkas, dan mesin kopi.
- Sarang Semut: Insinyur keluar-masuk setiap menit untuk mengambil kopi dan camilan. Loozen melihat sekeliling dan melihat "sarang semut": semua orang sibuk berlarian, tapi tidak jelas apa yang sebenarnya mereka kerjakan atau strukturnya.
#6: Menertibkan Kekacauan
Meskipun menyukai suasana informal dan humor rekan-rekannya, Loozen tidak bisa bekerja dalam kekacauan. Tindakan pertamanya adalah menendang keluar mesin kopi dan camilan dari ruangannya ke ujung lorong dekat toilet. Meskipun dianggap kaku oleh kolega, Loozen menegaskan butuh ketertiban untuk mendukung manajemen, bukan sekadar menjaga warung kopi.