An Audience with The Tank

ASML's Architects 
Chapter 76
An Audience with The Tank

#1: Ketegangan Van Zwam dan Zeiss (Akhir 1994)

ASML memiliki mesin pemenang (PAS 5500), namun Zeiss gagal mengirimkan lensa karena krisis internal.

Gaya Keras Van Zwam: Kepala Pembelian ASML, Ton van Zwam, mengkritik manajemen Zeiss tanpa ampun. Ia menyuruh mereka melupakan bisnis fotografi yang sedang sekarat (Contax dipindahkan ke Jepang) dan fokus pada optik semikonduktor.

Kebuntuan Lichtenberg: Kepala produksi optik Zeiss, Claus Lichtenberg, terjebak. Ia tahu cara meningkatkan produksi (otomatisasi), tetapi manajemen atas memerintahkannya memotong biaya dan tidak memberinya uang sepeser pun untuk investasi.

#2: Pertaruhan IPO dan Samsung

Willem Maris memperingatkan Philips bahwa Zeiss adalah risiko terbesar bagi rencana IPO ASML (Maret 1995).

Kinerja ASML: ASML sedang naik daun. Pendapatan 1994 tumbuh 70% menjadi $275 juta, dengan laba $22 juta. Utang ke Philips sudah dikurangi separuh.

Faktor Samsung: Negosiasi dengan Samsung untuk 110 mesin sedang berlangsung. ASML butuh kapasitas produksi Zeiss melonjak drastis.

#3: Menghadap "The Tank" (Jan Timmer)

Philips memanggil calon CEO Zeiss, Peter Grassmann, dan Lichtenberg ke Eindhoven.

Permainan Kekuasaan: Jan Timmer, yang dijuluki "The Tank", membiarkan tamu Jermannya menunggu selama satu jam untuk menunjukkan dominasi.

Konfrontasi: Timmer langsung pada intinya: "Zeiss sedang menghancurkan ASML. Sebagai pemilik tunggal, saya tidak bisa membiarkan itu terjadi."

Dua Pertanyaan: Grassmann mengakui Zeiss bangkrut tapi punya rencana teknis (robotik). Timmer hanya bertanya dua hal: "Apakah Anda percaya pada bisnis ini?" dan "Bisakah Anda menskalakannya?"

Cek Penyelamat: Saat Grassmann menjawab "Ya", Timmer langsung setuju meminjamkan $19 juta kepada Zeiss. Uang ini bukan untuk Zeiss, tapi demi menyelamatkan IPO ASML.

#4: Kemenangan Robot atas Mesin Kaku

Dengan uang $19 juta, Lichtenberg akhirnya bisa berlari kencang memodernisasi pabrik.

Balapan Teknologi: Ia mengembangkan dua solusi paralel:

Mesin Kustom Kaku: Mesin poles tradisional yang diotomatisasi dengan CNC dan granit (buatan Schneider Optik).

Robot Polishing: Sistem closed-loop yang fleksibel, dipandu interferometer laser.

Pemenang: Robot menang. Mereka memberikan presisi yang sama dengan biaya lebih rendah dan fleksibilitas lebih tinggi.

Akhir Era Jari Emas: Dikombinasikan dengan teknologi ion beam (dari O-Lab), sistem ini akhirnya membebaskan Zeiss dari ketergantungan pada pengrajin manual ("jari emas"). Zeiss kini siap untuk produksi massal skala industri.

Leave a Comment