Alternative Blindness

The Art of Thinking Clearly 
Bab 71
Alternative Blindness

1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Alternative Blindness (Kebutaan Alternatif).
Deskripsi Judul: "Mengapa Ini Bukan Sekadar Balapan Dua Kuda" (Why It’s Never Just a Two-Horse Race).

2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Alternative Blindness? Ini adalah kesalahan kognitif di mana kita secara sistematis lupa untuk membandingkan tawaran yang ada dengan alternatif terbaik berikutnya (next-best alternative). Kita sering terjebak dalam pilihan biner ("melakukan X" atau "tidak melakukan X") dan mengabaikan opsi lain (Y, Z, dll.) yang mungkin jauh lebih unggul namun tidak disajikan secara eksplisit di depan mata.

Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan Alternative Blindness karena kita menjadi "buta" terhadap opsi-opsi lain. Kita hanya fokus pada dua pilihan yang disodorkan (misal: "Operasi atau Mati", "Bangun stadion atau tanah kosong"), sehingga kita gagal melihat spektrum kemungkinan yang lebih luas.

3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Terjadi pada Politisi & Konsumen)
Alasan: Politisi sering menjebak publik dengan perbandingan yang salah (misal: "Stadion vs Tanah Kosong"), padahal uang/tanah itu bisa dipakai untuk sekolah atau rumah sakit. Konsumen juga sering menerima tawaran investasi hanya karena "lebih baik dari tabungan", tanpa membandingkannya dengan instrumen lain.

4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Kuliah MBA (Brosur Kampus): Brosur MBA mengklaim biaya $100.000 akan menghasilkan ekstra $400.000 seumur hidup. Pilihan yang terlihat: "Ambil MBA" atau "Tidak". Kebutaan alternatif terjadi karena kita lupa opsi lain: Menginvestasikan $100.000 (biaya) + $100.000 (hilangnya gaji selama 2 tahun) ke pasar saham mungkin menghasilkan lebih dari $400.000. Atau mungkin ada kursus lain yang lebih murah dan efektif.

- Investasi Obligasi (Saran Broker): Broker menawarkan obligasi bunga 5% dan bilang "Ini jauh lebih baik dari tabunganmu yang cuma 1%". Kita cenderung setuju. Padahal ini salah. Kita harus membandingkan obligasi itu dengan semua opsi investasi lain (saham, emas, properti), bukan hanya dengan tabungan.

- Dilema Medis (Tumor): Dokter memberi pilihan: Operasi berisiko tinggi (peluang hidup 50%) atau mati dalam 5 tahun akibat tumor. Pasien merasa terjebak antara "batu karang dan tempat keras". Alternative Blindness membuat pasien lupa mencari opsi C: Mungkin ada rumah sakit lain yang punya teknik bedah non-invasif yang bisa memperpanjang hidup 10 tahun tanpa risiko kematian mendadak.

5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Gunakan Cara Warren Buffett: Ukur setiap tawaran dengan "kesepakatan terbaik kedua" (second-best deal) yang tersedia saat itu, bukan dengan status quo. Buffett selalu membandingkan opsi baru dengan apa yang sudah dia miliki atau bisa dia dapatkan di tempat lain.

- Perluas Pilihan: Jika Anda kesulitan membuat keputusan, ingatlah bahwa pilihannya hampir tidak pernah sekadar "Ya" atau "Tidak". Lupakan dilema biner. Buka mata Anda terhadap alternatif superior yang tidak tertulis di menu.

- Pertanyakan "Tanah Kosong": Jika politisi bilang "Proyek A lebih baik daripada membiarkan lahan kosong", tanyakan: "Apa lagi yang bisa kita bangun di lahan itu selain Proyek A?" (Sekolah? Rumah Sakit? Jual tanahnya untuk bayar utang?).

Leave a Comment