Chip War
Bab 30
“All People Must Make Semiconductors”
#1: Potensi Awal yang Disia-siakan (1950-an - 1965)
China memiliki bahan dasar yang sama dengan tetangganya (Jepang, Taiwan, Korea) untuk sukses di semikonduktor: tenaga kerja murah yang besar dan elit ilmiah terdidik. Bahkan, pada 1965—hanya lima tahun setelah AS—insinyur China berhasil membuat sirkuit terpadu pertama mereka.
Namun, potensi ini dihancurkan oleh ideologi. Berbeda dengan Taiwan yang merangkul koneksi AS (seperti Morris Chang), Komunis China mencurigai segala hal berbau asing. Banyak lulusan terbaik China akhirnya melarikan diri ke Taiwan atau AS, membangun kemampuan elektronik pesaing utama RRC, sementara Beijing mengisolasi dirinya sendiri.
#2: Malapetaka Revolusi Kebudayaan (1966 - 1976)
Setahun setelah China membuat chip pertamanya, Mao Zedong meluncurkan Revolusi Kebudayaan (1966). Mao menyerang keahlian teknis sebagai sumber "hak istimewa" dan mengirim ribuan ilmuwan—termasuk ahli semikonduktor—ke desa-desa miskin untuk bekerja sebagai petani dan belajar "politik proletar".
Slogan Maois "semua orang harus membuat semikonduktor" mencerminkan absurditas kebijakan ini: membayangkan petani tak berpendidikan bisa membuat chip di rumah, sambil menolak teknologi asing. Akibatnya, industri chip China hancur total. Pada pertengahan 1970-an, seorang pejabat mengeluh bahwa dari setiap 1.000 semikonduktor yang diproduksi, hanya satu yang memenuhi standar.
#3: Kontras Tajam dengan Tetangga (1960-an - 1970-an)
Sementara ilmuwan China dipaksa menanam kubis dan memakan ular panggang di kamp reedukasi, tetangganya melesat maju.
Hong Kong: Di bawah kekuasaan Inggris, pekerja merakit komponen silikon untuk Fairchild.
Taiwan & Korea Selatan: Mengangkat petani miskin menjadi tenaga kerja manufaktur elektronik bergaji layak.
Jepang: Merebut pasar DRAM global.
Selama dekade kekacauan China, dunia menemukan mikroprosesor dan memori canggih, meninggalkan China yang pada tahun 1979 hanya memiliki 1.500 komputer di seluruh negeri dan teknologi chip yang tertinggal lebih dari satu dekade.
#4: Reformasi Deng Xiaoping dan Ketergantungan Impor (Akhir 1970-an - 1980-an)
Setelah Mao wafat, Deng Xiaoping mengambil alih dan meluncurkan "Empat Modernisasi" pada 1978, menempatkan sains dan semikonduktor sebagai prioritas utama. Kunjungan John Bardeen (penemu transistor) pada 1975 menjadi sinyal awal pembukaan diri China.
Meskipun Beijing berambisi untuk mandiri ("mesin pertama impor, kedua buatan China, ketiga ekspor"), ketertinggalan teknologi sudah terlalu jauh. Ketika Ren Zhengfei mendirikan Huawei pada 1987 di Shenzhen (tepat di seberang Hong Kong), ia hanya bisa menjadi pedagang yang membeli peralatan asing. Industri elektronik China yang baru lahir terpaksa dibangun di atas fondasi "silikon asing" dari AS, Jepang, dan Taiwan, karena chip domestik terbaik China saat itu hanya setara dengan teknologi Intel awal 1970-an.