A Good Team

ASML's Architects 
Bab 70
A Good Team

#1: Pemotongan Menyakitkan (Akhir 1992)

Suntikan dana $21 juta dari Jan Timmer habis. Untuk menjaga kerugian di bawah batas $17 juta (ultimatum Henk Bodt), Maris dan Verdonschot harus bertindak drastis.

Langkah: Menghapus bonus Natal, membekukan kenaikan gaji 1993, dan memecat 75 karyawan (10% staf).

Peran "Bad Guy": Verdonschot yang menyampaikan berita buruk di pusat konvensi. Hebatnya, ia memutar narasi "perang melawan Jepang" sehingga karyawan bertepuk tangan meskipun gaji mereka dipotong.

#2: Profil Gerard Verdonschot ("Si Pesulap Keuangan")

Verdonschot bukan CFO tipikal yang hanya peduli biaya.

Filosofi: "Bukan soal biaya, tapi soal profit." Ia berani boros untuk makan malam bisnis dan logistik jika itu menghasilkan uang nanti. Ia membenci era penghematan Troost, dan lebih cocok dengan era ekspansi Smit.

Gaya: Eksentrik (benci ulang tahunnya dirayakan), politis (punya "Gerard-friends" dan "Gerard-foes"), dan jarang mencatat perjanjian ("pria lisan").

Sihir: Ia selalu berhasil mendapatkan uang dari Philips atau bank di saat kritis dengan "trik sulap" finansialnya, seringkali tanpa membaca detail kontrak.

#3: Dinamika Maris-Verdonschot

Hubungan mereka dimulai dengan ketimpangan kekuasaan.

Awal (1-0): Saat Maris masuk (1990), Verdonschot sudah 6 tahun di sana. Maris yang lembut sangat bergantung pada arahan Verdonschot.

Evolusi: Seiring waktu, mereka saling melengkapi. Maris si "Good Guy" fokus pada orang dan harmoni, membiarkan Verdonschot si "Bad Guy" melakukan pekerjaan kotor (pecat orang, negosiasi keras).

Kasus Alkohol: Maris terlalu lembut untuk memecat manajer senior yang mabuk (botol wiski di bawah meja), sehingga ia meminta bantuan HR dan Verdonschot untuk membereskannya.

#4: Transformasi Maris: "Bapak" ASML

Maris berkembang menjadi pemimpin yang dicintai (Primus Inter Pares - Pertama di Antara yang Setara).

Gaya Kepemimpinan: Ia sadar ia lemah dalam teknis dan penjualan dibanding timnya yang penuh ego besar (Martin, Doug Marsh). Kekuatannya adalah memberi ruang bagi ego-ego ini untuk bekerja.

Solidaritas: Sering turun ke pabrik saat lembur akhir pekan. Pernah diusir karyawan gudang karena tidak pakai kartu pegawai, dan Maris malah memujinya.

Jembatan Budaya: Maris berusaha keras meruntuhkan tembok antara Veldhoven (Teknis/Belanda) dan Phoenix (Sales/AS) yang sering berselisih ("If you ain’t Dutch, you ain’t much").

#5: Prestasi Terbesar: Hubungan dengan Zeiss

Kontribusi terbesar Maris adalah memperbaiki hubungan beracun dengan Zeiss (1993-1998).

Diplomasi: Menggunakan pesona pribadinya, ia mengundang manajemen Zeiss masuk ke rapat manajemen ASML dan Dewan Pengawas, menciptakan keterbukaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

#6: Filosofi "Value of Ownership"

Maris menanamkan mantra sederhana ke seluruh perusahaan: Value of Ownership.

Pesan: Bukan harga beli mesin yang penting, tapi nilai jangka panjang yang dihasilkannya bagi pelanggan.

Keberhasilan: Mahasiswa yang mewawancarai karyawan ASML kaget karena semua orang, dari atas sampai bawah, menyuarakan filosofi yang sama. Ini bukti keberhasilan komunikasi Maris.

Leave a Comment