The Folk with the Golden Fingers

ASML's Architects 
Bab 65
The Folk with the Golden Fingers

#1: Paul van Attekum: Dari Philips ke ASML (Musim Semi 1991)

Paul van Attekum, veteran Philips yang frustrasi dengan birokrasi, bergabung dengan ASML sebagai manajer lini produk.

Kultur yang Berbeda: Di ASML, ia menemukan suasana "sarang lebah" (hive of busy bees) di mana insinyur bekerja 60-80 jam seminggu dengan semangat tinggi, sangat kontras dengan Philips yang hanya sibuk mencentang daftar tugas.

Potensi Layanan: Van Attekum meyakinkan CFO Verdonschot bahwa ada uang besar dalam layanan peningkatan (upgrading) mesin lama, bukan hanya penjualan baru.

#2: Misi Diplomasi ke Oberkochen

Masalah terbesar ASML adalah Zeiss. Produksi lensa mereka macet, sementara penjualan PAS 5500 mulai diminati pasar.

Skeptisisme Zeiss: CEO baru Zeiss, Jobst Herrmann, skeptis terhadap bisnis litografi yang dianggap marjinal (hanya menyumbang pendapatan kecil).

Utusan Khusus: Willem Maris mengirim Van Attekum (yang bisa bahasa Jerman) untuk ditempatkan langsung di pabrik Zeiss di Oberkochen. Selama lebih dari 6 bulan, ia bolak-balik Veldhoven-Oberkochen setiap minggu, menginap di hotel kecil yang kuncinya disembunyikan pemilik karena jalanan sudah mati jam 10 malam.

#3: Budaya Sherry dan "Mahlzeit!"

Di Zeiss, Van Attekum menemukan budaya perusahaan tua yang kaku.

Ritual: Kepala litografi, Hans Letsche, berhenti kerja tepat pukul 4 sore untuk minum sherry bersama sekretarisnya. Kolega saling memanggil dengan gelar formal (Herr Doktor, Frau Hauber), dan mengucapkan "Mahlzeit!" (waktunya makan!) saat makan siang.

Kesenjangan Akademis: Jarak antara akademisi dan non-akademisi sangat lebar, menciptakan hierarki yang kaku.

#4: Krisis "Jari Emas" (Golden Fingers)

Masalah produksi lensa bukan karena kemalasan, tapi karena metode tradisional yang sudah usang (obsolete).

Metode Pengrajin: Lensa dipoles dengan tangan oleh pengrajin ahli yang disebut memiliki "Goldene Hände" (Jari-Jari Emas). Mereka menggunakan perasaan dan mata telanjang untuk mendeteksi ketidakteraturan mikroskopis.

Batasan Manusia: Untuk lensa i-line PAS 5500 yang kompleks (30 elemen lensa, diameter lebih besar 40%), metode manual ini gagal. Satu kesalahan kecil gosok berarti harus mengulang seluruh permukaan, menyebabkan penundaan berminggu-minggu.

Kekacauan Shift: Saat pekerjaan dilimpahkan antar-shift, sering terjadi kesalahan komunikasi dan saling tuding.

#5: Diplomasi "Anak Bau Kencur"

Van Attekum, yang sadar dirinya adalah "anak baru" di dunia optik, harus berhati-hati mengkritik pengrajin Jerman yang bangga.

Pendekatan: Ia menyadari Zeiss tidak mengendalikan prosesnya (not in control). Metode kerja tidak terdokumentasi dan terlalu bergantung pada insting master.

Strategi: Alih-alih menyalahkan ("kalian mengacau"), ia dengan hormat menunjukkan bahwa metode lama tidak lagi cukup untuk tuntutan baru. Perlahan, Zeiss mulai sadar bahwa mereka harus mengubah pendekatan dari seni kerajinan menjadi proses manufaktur industri yang terukur jika ingin bertahan sebagai pemasok ASML.

Analisis Tambahan

Bab ini sangat penting karena menunjukkan akar masalah teknis ASML saat itu: skalabilitas. Zeiss bisa membuat lensa terbaik di dunia satu per satu (seperti teleskop), tapi gagal membuatnya secara massal dengan kualitas konsisten yang dibutuhkan industri semikonduktor. Peran Van Attekum adalah jembatan budaya yang memaksa Zeiss melakukan industrialisasi optik.

Leave a Comment