ASML's Architects
Bab 63
German Stranglehold
#1: Dilema Maris: Ketergantungan yang Mencekik (Awal 1990-an)
Willem Maris menghadapi masalah fundamental: ASML sangat ambisius dengan mesin PAS 5500, tetapi 100% bergantung pada Zeiss yang bergerak seperti siput.
Krisis Zeiss: Zeiss yang berusia 150 tahun sedang mengalami krisis eksistensial. Mereka kehilangan pasar kamera ke Jepang (Nikon/Canon) karena menolak inovasi rana elektronik (electronic shutters) dan bersikeras pada rana mekanik mahal.
Prioritas Rendah: Manajemen Zeiss menganggap optik semikonduktor sebagai bisnis marjinal. Lensa stepper dikelompokkan dalam "proyek khusus" bersama teleskop luar angkasa, bukan prioritas produksi massal.
#2: Sejarah Singkat Zeiss: Ernst Abbe dan Revolusi Manufaktur
Bab ini mundur ke abad 19 untuk menjelaskan budaya Zeiss.
Ernst Abbe (1866): Fisikawan yang mengubah Zeiss dari pengrajin tradisional menjadi industri modern. Ia memperkenalkan perhitungan matematika untuk setiap lensa, menghilangkan metode trial-and-error, dan menciptakan proses produksi mirip jalur perakitan.
Warisan Sosial: Abbe mendirikan Carl Zeiss Foundation, memperkenalkan jam kerja 8 jam (revolusioner di tahun 1900), dan menciptakan budaya solidaritas yang kuat namun hierarkis di mana desainer optik ("para matematikawan") dipuja seperti dewa.
#3: Perpecahan Perang Dingin: "We’re taking the brain" (1945)
Sejarah traumatis membelah Zeiss menjadi dua.
Operasi AS: Sebelum wilayah Jena (Jerman Timur) diserahkan ke Uni Soviet sesuai perjanjian Yalta, militer AS mengevakuasi 84 manajer dan ilmuwan inti ("otak perusahaan") ke Jerman Barat (Oberkochen).
Perpecahan: Zeiss Barat (Oberkochen) dibangun kembali dari nol, sementara Zeiss Timur (Jena) tetap beroperasi di bawah komunis.
#4: Reunifikasi dan Kemiskinan Jena (1989-1991)
Runtuhnya Tembok Berlin membawa masalah baru. Zeiss Barat dipaksa secara politik untuk bersatu kembali dengan "sepupu miskin" mereka di Timur.
Kondisi Jena: Karyawan Barat kaget melihat kemiskinan di Jena, meskipun secara teknis insinyur Timur sangat kompeten (terutama teknologi vakum).
Ancaman Kebangkrutan: Zeiss Jena terancam bangkrut pada 1991 tanpa bantuan Barat. Proses reunifikasi ini menyedot energi dan fokus manajemen Zeiss Barat, membuat mereka semakin mengabaikan ASML.
#5: Ekspedisi Tupolev: ASML di Jerman Timur
Martin van den Brink, Cees van Dijk, dan Steef Wittekoek terbang ke Jena menaiki pesawat Tupolev milik Jerman Timur untuk menjajaki kerja sama.
Pengalaman: Mereka menginap di asrama pemuda yang dingin dengan kompor batu bara karena hotel penuh. Martin dan Cees harus berbagi tempat tidur.
Temuan: Pabrik Zeiss Jena sangat besar dan mandiri (membuat lem, kaca, komputer sendiri). Mereka punya stepper sendiri yang berfungsi tapi sederhana. Meskipun tidak mengancam ASML, kemampuan produksi optik mereka kolosal.
Hasil: ASML mencoba memesan suku cadang, tapi birokrasi transisi (pemisahan Jenoptik) membuat pesanan itu macet selama setahun.
#6: Kebutaan Oberkochen
Kembali ke Jerman Barat, Zeiss Oberkochen seperti "rusa yang terpaku lampu sorot" (deer blinded by headlights).
Fokus Bertahan Hidup: Mereka sibuk memotong biaya dan mengurus reunifikasi. Mereka tidak mendengar teriakan ASML yang butuh lensa PAS 5500.
Stigma: Manajemen Zeiss trauma kalah dari Jepang di pasar kamera, sehingga mereka pesimis bisa menang melawan Nikon/Canon di pasar stepper.
Ancaman bagi ASML: Pengiriman lensa sering terlambat dan kualitasnya medioker. Zeiss masih menggunakan model "pesan dulu, baru kami buat kapan-kapan", yang tidak kompatibel dengan kebutuhan produksi massal ASML. Maris harus mengubah "cekikan" ini menjadi "pelukan" jika ingin ASML selamat.