The Circle Sir

ASML's Architects 
Bab 62
The Circle Sir

#1: Transisi Kepemimpinan: Troost Mundur, Aurelio Ditolak

Awal 1990 ditandai dengan kekecewaan internal terkait suksesi kepemimpinan.

- Misi Selesai Troost: Wim Troost menepati janjinya untuk hanya menjabat selama 18 bulan. Ia berhasil menstabilkan perusahaan pasca-Smit dan siap pensiun (lagi).
- Ambisi Aurelio: Dick Aurelio (SVP Operasi Komersial di AS) sangat berambisi menjadi CEO. Ia merasa berhak karena timnya yang membawa penjualan. Namun, Philips menolaknya karena gaya hidupnya yang flamboyan dan kekhawatiran ia akan memindahkan pusat kekuasaan ke Amerika serta mengabaikan Dewan Pekerja Belanda. Aurelio yang kecewa akhirnya keluar setahun kemudian.
- Pilihan "Aman": Alih-alih memilih "pejuang pasar" seperti Aurelio, Philips memilih orang dalam mereka sendiri: Willem Maris. Bagi staf ASML yang pemberontak, ini terasa seperti langkah mundur kembali ke birokrasi induk semang.

#2: "Buangan" Philips yang Tidak Diinginkan

Kedatangan Maris pada 1 Februari 1990 disambut sinis.

- Reputasi Buruk: Maris dikenal sebagai manajer medioker yang gagal di proyek Megachip (teknologi bagus tapi pabrik kosong) dan Glasmini (kalah oleh chip Jepang).
- Teori Pengasingan: Manajemen ASML yakin Maris "dibuang" ke Veldhoven ("Go run litho; it’ll keep you off the streets"). Ia dianggap terlalu lembek dan penghindar konflik, tidak cocok memimpin perang melawan Nikon.
- Latar Belakang: Maris adalah mantan petenis nasional (main di Wimbledon), anak bungsu keluarga terpandang (ayahnya direktur Delta Works), dan penganut meditasi yang tenang.

#3: Filosofi "Circle Sir"

Gaya manajemen Maris unik dan anti-hierarki, meskipun sering dianggap abstrak.

- Asal Usul: Istilah ini ia ciptakan saat proyek Glasmini untuk meredam politik kantor. Semua orang adalah "Tuan Lingkaran" (Circle Sir), artinya bekerja setara dalam lingkaran, tidak ada bos feodal.
- Karisma: Meskipun proyek lamanya gagal, Maris disukai peneliti (seperti Piet Kramer di Natlab) karena ia komunikator ulung yang memperlakukan asisten sama hormatnya dengan direktur.

#4: Pendidikan Loozen & Transformasi Budaya

Sekretaris eksekutif Fia Loozen langsung "mendidik" Maris agar sesuai budaya informal ASML.

- Panggilan Nama: Loozen menolak memanggilnya "Pak" (Sir), melainkan nama depan.
- Kopi Sendiri: Loozen menghentikan kebiasaan Maris dilayani kopi. Ia memberinya termos agar Maris menuang kopi sendiri untuk tamunya.
- Hasil: Maris menerima "peloncoan" ini dengan senang hati. Ia berubah dari pria formal Philips menjadi pemimpin santai yang rajin keliling departemen dan makan siang di kantin bersama staf.

#5: Krisis Teluk dan Bayangan Jan Timmer (1990)

Bulan madu Maris singkat. Pasar 1990 hancur akibat Perang Teluk.

- Kinerja: Target 60 mesin meleset (hanya 54 terkirim). Tahun 1991 diprediksi hanya 36 mesin.
- Ancaman: CEO baru Philips, Jan Timmer ("The Hurricane"), melakukan pemotongan brutal. ASML ada di daftar potong (chopping block).
- Solidaritas: Di tengah krisis, Maris memutuskan terbang kelas ekonomi bersama staf penjualan, meninggalkan privilese kelas bisnis Philips. Tindakan solidaritas ini memenangkan hati para insinyur.

#6: Harapan Hidup: PAS 5500

ASML berada di "ICU" dengan subsidi pemerintah sebagai respirator. Satu-satunya jalan keluar adalah keberhasilan teknis mesin baru.

- Pertaruhan IBM: ASML berhasil membujuk IBM untuk mengevaluasi PAS 5500 (yang harus diserahkan 1 Mei 1991).
- Fokus Total: Maris dan CFO Verdonschot sepakat: hemat di mana saja (termasuk tiket pesawat), tapi jangan potong anggaran R&D PAS 5500, atau masa depan perusahaan akan mati. Pemerintah Belanda menyuntikkan kredit $19 juta untuk menjaga proyek ini tetap hidup.

Leave a Comment