Smit’s Sounding Board

ASML's Architects 
Bab 44
Smit’s Sounding Board

#1: Kekacauan Pasca-Pindah dan Peran Pim Kan (Agustus-September 1985)

Setelah pindah ke gedung baru di Veldhoven, tekanan meningkat. Gjalt Smit melihat perusahaannya seperti "gerombolan yang tidak terorganisir" (disorganized mob) tanpa infrastruktur.

- Pim Kan (HR): Smit memecat kepala HR lama dari Philips dan merekrut Pim Kan (eks-Holec). Kan melaporkan ketidakpuasan karyawan: gaji terasa acak, tidak ada kejelasan promosi atau evaluasi kinerja.
- Niat Smit: Smit ingin memerangi kekacauan ini dengan "Gaya Amerika". Ia meminta Kan mencari konsultan, dan Kan menyarankan Hay Group.

#2: Pertemuan Restoran Cina dan "Tamparan" Jos Bomers

Konsultan senior Hay Group, Jos Bomers (yang pernah bekerja untuk CEO Philips Wisse Dekker), mengambil alih kasus ini setelah rekannya menyerah menghadapi Smit.

- Monolog Smit: Dalam dua pertemuan di restoran Cina di Eindhoven, Smit mendominasi pembicaraan (verbal waterfall).
- Intervensi Brutal: Bomers akhirnya memotong pembicaraan Smit: "Gjalt, kamu bicara terlalu banyak... Saya rasa kamu sudah kehilangan organisasimu (lost your organization). Mereka tidak lagi mengertimu."
- Reaksi Cepat: Alih-alih tersinggung, Smit langsung sadar dan terintrigasi. Ia menyetujui rencana Bomers untuk melakukan survei budaya menyeluruh dengan akses penuh.

#3: Perang Metafora: "Kapal Perang" vs "Rudal Tak Terarah"

Bab ini menggambarkan kesenjangan persepsi yang ekstrem antara CEO dan karyawan:

- Perspektif Smit (Kapal Perang & Chicago Bulls): Smit merasa seperti kapten "kapal perang yang belum jadi di tengah pertempuran". Meriam meledak, darah mengalir, tapi kru berlarian tanpa arah. Ia ingin timnya menjadi simfoni atau tim basket Chicago Bulls yang padu, bukan sekadar individu.
- Perspektif Insinyur (Rudal & Panglima): Karyawan melihat Smit sebagai gangguan. Ia datang seperti "rudal tak terarah" (unguided missile), meneriakkan perintah yang berubah-ubah (kiri, kanan!) yang mengganggu pekerjaan teknis mereka.
- Tokoh Tambahan: Veteran litografi Herman van Heek menciptakan julukan baru yang sinis untuk Smit: "Supreme Commander-in-Chief" (Panglima Tertinggi).

#4: Survei Budaya dan Ketakutan "Wild West"

Bomers mewawancarai "Top 20" ASML (termasuk Martin van den Brink, Richard George, Nico Hermans, dll).

- Temuan: Insinyur menghargai kebebasan dan atmosfer konstruktif, tapi merasa seperti di Wild West (tanpa hukum).
- Ketakutan Finansial: Kekhawatiran terbesar mereka adalah uang. Mereka melihat Smit "menghabiskan uang seperti air" (spending money like water) tanpa ada produk yang siap jual. Mereka takut suatu hari nanti Smit akan bilang: "Uang habis, pertunjukan selesai."

#5: Katarsis Malam Hari dan Struktur Baru

Smit mengumpulkan 20 orang teratasnya di malam hari untuk membahas hasil survei.

- Dampak: Rapat ini menjadi katarsis. Smit menerima kritik bahwa strateginya "tidak masuk akal" (doesn't hold water) bagi tim operasional.
- Solusi: ASML dan Hay Group memulai proyek panjang untuk membangun Business Process Organization (struktur gaji, tinjauan kinerja profesional) yang mengubah organisasi di Veldhoven dan Phoenix.

#6: Bomers sebagai Psikolog dan Keraguan Pribadi

Bomers menjadi orang kepercayaan (confidant) Smit selama bertahun-tahun.

- Fungsi: Smit menggunakan Bomers untuk menumpahkan keraguan dan kemarahan yang tidak bisa ia tunjukkan pada karyawan atau Dewan Pengawas (terutama Arthur del Prado yang mengawasinya seperti elang).
- Keraguan Bomers: Bomers sendiri sering ngeri melihat ASML. Ia menyebut pengembangan stepper sebagai "monster yang tak terpuaskan" dan "lubang tanpa dasar". Ia sering bertanya pada Smit: "Dari mana keyakinanmu berasal? Kalau kamu salah, kamu akan jatuh keras."
- Jangkar Smit: Smit bertahan pada keyakinan teoretisnya sebagai fisikawan bahwa "puzzle" ini bisa diselesaikan, meskipun secara emosional ia sering merasa tidak aman.

Leave a Comment