Victoria Veste

ASML's Architects 
Bab 35
Victoria Veste 🎓

#1: Indoktrinasi Anti-Philips dan Lokasi (September 1984)

Pada Selasa pagi yang suram di awal September 1984, Wim Hendriksen (insinyur perangkat lunak dari Philips Medical) dan 20 karyawan baru lainnya berkumpul di Victoria Veste, sebuah gedung pertemuan di seberang Stasiun Pusat Eindhoven, untuk kursus pengantar satu minggu. CEO Gjalt Smit membuka sesi dengan serangan frontal terhadap budaya Philips:

- "Saya menghabiskan tujuh tahun di sana dan saya lari sambil berteriak," ujarnya.
- Ia menegaskan birokrasi Philips ("pita merah") adalah penyebab kegagalan proyek stepper sebelumnya, dan ASML tidak akan seperti itu.

#2: Bukti Sukses: Angka ASM International

Untuk membangun kepercayaan diri karyawan, Smit tidak hanya bicara janji, tapi menggunakan data riil dari pemegang saham lain, ASM International. Ia memaparkan grafik pertumbuhan yang memukau:

- Pendapatan ASM melonjak dari $52 juta (1982) ke $77 juta (1983).
- Proyeksi 1984 mencapai $106 juta (tumbuh lebih cepat dari pasar).
- Pesan Smit: ASML adalah kombinasi kelincahan startup dengan sejarah teknologi heavyweight.

#3: Visi "Mercedes" dan Analisis Kompetitor

Smit jujur mengenai kondisi produk saat ini, menyebut mesin PAS sebagai "Mercedes dengan mekanik masa kini tapi bodi masa lalu" (bagus di dalam, berantakan di luar). Ia juga memberikan analisis pasar yang optimistis kepada para insinyur:

- Kompetitor utama, Perkin-Elmer (AS) dan Nikon (Jepang), diklaim "belum menetapkan posisi mereka secara definitif."
- Target ASML: Merebut 25% pangsa pasar pada 1988.
- Smit memprediksi dari 9 kompetitor saat itu, hanya 5 yang akan bertahan.
- Target Angka ASML: Menjual 300 stepper pada 1988 dengan pendapatan $156 juta.

#4: Efisiensi Brutal dan "Silicon Valley Mindset"

Smit menuntut efisiensi tinggi dengan target pendapatan $500.000 per karyawan. Strateginya:

- Outsourcing (alih daya) sebanyak mungkin.
- Hanya mengembangkan keahlian inti yang paling krusial secara internal.
- Menghapus budaya "banyak berpikir/studi" ala Eropa dan menggantinya dengan budaya "bertindak" (act) ala Silicon Valley.

#5: Peran Martin van den Brink (Otoritas Teknis)

Setelah sesi motivasi Smit, beberapa veteran memberikan penjelasan teknis. Martin van den Brink, yang baru bekerja 6 bulan, tampil menonjol. Ia menjelaskan detail sistem penyelarasan (alignment) dengan sangat cepat dan fasih, seolah-olah ia telah mengerjakannya seumur hidup, mengukuhkan posisinya sebagai pakar teknis di mata karyawan baru.

#6: Dampak Psikologis: "Alkitab" Hendriksen dan Transformasi Budaya

Dampak pidato tersebut pada Wim Hendriksen sangat mendalam:

- Ia merasa seperti naik roller coaster yang memusingkan.
- Ia menyimpan desain dan rencana yang dibagikan hari itu selama puluhan tahun sebagai "alkitab dan kompas"-nya.

Sementara itu, Martin van den Brink dan Frits van Hout menyaksikan perubahan drastis di kantor TQ:

- Keluhan di kantin lenyap.
- Karyawan lama Philips yang tidak setuju memilih pergi (memanfaatkan aturan kembali ke induk).
- Terjadi kontras tajam antara karyawan ASML yang energik dengan karyawan Philips dari departemen lain yang berjalan lesu di lorong, yang oleh orang-orang ASML dijuluki sebagai "Zombie".

Leave a Comment