The Japanese

ASML's Architects 
Bab 28
The Japanese 🇯🇵

#1: Kejutan Kualitas Hewlett-Packard (1979)

Selama tahun 60-an dan 70-an, Amerika merasa memiliki "hak lahir" untuk memimpin industri chip (berkat penemuan Bell Labs, Intel, dan TI). Namun, ilusi ini hancur pada konferensi industri tahun 1979.

Seorang manajer Hewlett-Packard (HP) mempresentasikan data mengejutkan: chip buatan Amerika memiliki tingkat kegagalan (failure rate) sebesar 5% dan sering terlambat. Sebaliknya, chip dari pemasok Jepang (Fujitsu, Hitachi, Mitsubishi, NEC, Toshiba) praktis bebas kesalahan, selalu tepat waktu, dan memiliki ketersediaan suku cadang yang andal. Pengakuan publik ini mengguncang kepercayaan diri industri AS.

#2: "Long March" MITI dan Dominasi DRAM (Awal 1980-an)

Pemerintah Jepang, melalui Kementerian Perdagangan Internasional dan Industri (MITI), memimpin kampanye sistematis untuk kemandirian teknologi. Mereka beralih dari elektronik sederhana (kalkulator) ke jantung industri: DRAM.

Pada tahun 1978, meskipun IBM menemukan DRAM 64-kilobit, perusahaan Jepanglah yang membanjiri pasar. Didukung bank besar, mereka berinvestasi secara kontrasiklus (counter-cyclical) selama resesi 1981-1982. Hasilnya, pada 1981, Jepang menguasai 70% pasar global DRAM 64-kilobit, mendesak pemain AS (kecuali Motorola dan TI) keluar dari pasar memori.

#3: Kesalahan Fatal GCA dan Kebangkitan Nikon (Akhir 1970-an - 1981)

Pada akhir 70-an, GCA (pemimpin pasar stepper AS) tidak dapat memenuhi permintaan dan memprioritaskan pelanggan AS, membiarkan pelanggan Jepang terlantar. Ini memicu tekad Jepang untuk tidak lagi bergantung pada mesin asing.

Nikon (berdiri 1917) dan Canon (berdiri 1937), yang memiliki sejarah optik panjang, memasuki pasar. Pada 1981, Nikon meluncurkan stepper pertamanya di Jepang. Berbeda dengan GCA yang bergantung pada Zeiss, Nikon memiliki integrasi vertikal (membuat lensa sendiri) dan dukungan finansial dari grup keiretsu (seperti Mitsubishi).

#4: Perbedaan Budaya: Kolaborasi vs Isolasi (Awal 1980-an)

Jepang memiliki keunggulan struktural dalam hubungan pelanggan. Produsen mesin (Nikon) bekerja sama erat dengan pabrik chip untuk menyempurnakan teknologi.

Sebaliknya, produsen chip Amerika tidak mempercayai pemasok mesin mereka (takut rahasia bocor) dan melakukan perawatan sendiri. Akibatnya, GCA bekerja dalam isolasi, sulit menyempurnakan teknologi, dan tidak memiliki jaringan layanan yang kuat di Asia (staf layanan di Jepang bahkan orang Amerika).

#5: Kejatuhan GCA dan Pergeseran Gravitasi Pasar (1983 - 1984)

Pangsa pasar GCA di Jepang anjlok drastis dari 100% menjadi 45% pada 1983. Upaya GCA membuat joint venture dengan Sumitomo terlambat.

Tahun 1984 adalah tahun kejayaan semu bagi GCA dengan pendapatan puncak $200 juta. Namun, realitasnya pasar telah bergeser:

- Pasar stepper Jepang menjadi lebih besar dari pasar AS (600 dari 1.100 mesin global dijual ke Jepang).
- Pelanggan Jepang lebih memilih membeli dari Nikon atau Canon.
- Lensa buatan Nikon dinilai lebih unggul daripada lensa Zeiss yang digunakan GCA.

Saat ASML baru membuka pintu baraknya yang bocor, kompetitor yang mereka hadapi bukan lagi GCA yang sedang "sekarat", melainkan raksasa Jepang yang tak terkalahkan.

Leave a Comment