ASML's Architects
Bab 14
Knocking on the Government’s Door
#1: Realisasi Kompleksitas dan Kegagalan "Chinese Copy" (Akhir 1979 - 1980)
Memasuki tahun 1980, divisi S&I menghadapi kenyataan pahit: target ambisius 1978 untuk mengirim 16 stepper dan menguasai 20% pasar gagal total. Tidak ada satu pun mesin yang berhasil diproduksi. Perintah tegas Wim Troost pada akhir 1979 untuk membuat "salinan persis" (Chinese copy) dari mesin hidrolik Natlab (SiRe 2) juga macet; setahun kemudian, mesin tiruan tersebut masih belum berfungsi.
Manajemen S&I mulai menyadari betapa rumitnya litografi. Muncul kesadaran bahwa membuat sistem pencitraan chip mungkin lebih sulit daripada membuat pesawat terbang atau sentral telepon. Masalah diperparah dengan ketimpangan sumber daya: tim stepper sangat kekurangan orang dibandingkan tim E-beam writer yang memiliki puluhan staf.
#2: Latar Belakang Geopolitik: Ancaman Walkman (1979 - 1980)
Kecemasan tidak hanya melanda Philips, tetapi juga pemerintah Belanda. Eropa semakin tertinggal dalam perlombaan elektronik global melawan Jepang. Dominasi perusahaan seperti Matsushita, JVC, dan Sony (yang meluncurkan produk blockbuster Walkman pada 1979) menggerus pasar elektronik konsumen Philips. Konteks "kekalahan" Eropa inilah yang memicu Philips untuk menarik tuas politik.
#3: Misi Lobi ke Den Haag dan "Alat Peraga" Holtwijk (Oktober 1980)
Philips mengatur pertemuan tingkat tinggi dengan pemerintah. Pada Oktober 1980, delegasi yang terdiri dari Ab de Boer (Direktur Komersial S&I), Wim Troost, dan Theo Holtwijk (Perencana Strategis Elcoma) pergi ke Den Haag menemui Perdana Menteri Dries van Agt beserta para menteri dan pejabat.
Theo Holtwijk bertugas menjelaskan urgensi teknologi semikonduktor. Ia membawa penguat tabung, chip, dan papan sirkuit lalu meletakkannya di meja sebagai alat peraga. Ia menegaskan bahwa hanya perusahaan yang menguasai teknologi ini untuk menurunkan biaya produksi yang akan menang, dan satu-satunya cara untuk tetap dalam perlombaan adalah investasi pada litografi.
#4: Surat De Boer ke Pannenborg: "Optimisme Semu" (Akhir 1980)
Pasca pertemuan, Ab de Boer meminta bantuan Eduard Pannenborg (Anggota Dewan Eksekutif Philips/mantan direktur Natlab) untuk menekan pemerintah. Dalam surat pengarahan kepada Pannenborg, De Boer melukiskan situasi yang jauh lebih cerah dari kenyataan pabrik untuk meyakinkan bosnya:
- Klaim E-beam: Menyatakan kontrak dengan Centre Electronique Horloger (Swiss) akan segera ditandatangani, serta Letter of Intent (LoI) dari institut riset Leti (Prancis) dan Raytheon (AS).
- Klaim Stepper: Mengatakan 5 mesin sedang dibangun dan akan operasional Maret/April 1981.
- Potensi Pesanan Raksasa: Menyebut minat dari Motorola (24-40 unit), Elcoma/Signetics (30-50 unit), dan IBM (30-40 unit) dengan harga $1 juta per unit.
#5: Permintaan Subsidi dan Penolakan Pemerintah (Akhir 1980)
Di balik angka-angka fantastis itu, De Boer menyisipkan realitas pahit: ketiadaan mesin yang berfungsi memaksanya memasukkan "klausul penyelamatan" (escape clause) di setiap kontrak agar Philips bisa mundur jika gagal kirim. Ia juga mengakui kebutuhan mendesak untuk investasi material dan penambahan tenaga kerja secara signifikan.
De Boer meminta Pannenborg melobi pemerintah untuk dana $10 hingga $13 juta per tahun (1981-1983) guna membagi risiko pengembangan. Namun, meskipun Philips telah mengerahkan eksekutif puncaknya dan menggunakan argumen nasionalisme teknologi, Kementerian Urusan Ekonomi tidak yakin. Lobi tersebut gagal, dan pemerintah menolak memberikan kucuran dana.