ASML's Architects
Bab 11
Wim Troost
#1: Momen Penyelamatan di Rapat Tahunan (Awal 1978)
Dalam rapat tahunan antara manajemen Natlab dan divisi Science & Industry (S&I), Piet Kramer dan Hajo Meyer mengajukan pertanyaan kritis: "Apakah ada yang tertarik dengan keahlian litografi kami?" Saat itu, wafer stepper dianggap sebagai proyek rugi karena pasar didominasi oleh mesin Micralign (Perkin-Elmer) yang lebih cepat dan murah. Keheningan menyelimuti ruangan karena tidak ada direktur yang mau mengambil beban tersebut. Akhirnya, Wim Troost, direktur unit bisnis Industrial Data Systems (IDS), mengangkat tangannya. Ia menjadi satu-satunya orang yang bersedia menyelamatkan teknologi tersebut, meskipun harus melawan arus logika finansial Philips saat itu.
#2: Masa Kecil dan Ketahanan Hidup di Masa Perang (1925 - 1945)
Latar belakang Troost membentuk karakternya yang keras. Lahir di Den Haag (1925), ia tumbuh di desa kecil Boompjesdijk, Zeeland, sebagai anak pembuat roti. Selama pendudukan Jerman, ia menolak menandatangani deklarasi loyalitas kepada penjajah, sehingga tidak bisa kuliah. Ia menghabiskan masa perang dengan bekerja keras di toko roti ayahnya dan bersembunyi. Puncaknya, ia terjebak di Den Haag selama Hunger Winter (Musim Dingin Kelaparan 1944), di mana ia kehilangan berat badan hingga 29 kg. Pasca-perang, ayahnya menyerahkan $40 terakhir milik keluarga agar Troost bisa kuliah fisika di Delft.
#3: Awal Karir dan Insiden "Kain Berdebu" (1951 - 1960-an)
Troost bergabung dengan Philips (divisi PIT) pada 1951 dengan gaji $1.240/tahun. Awalnya ia bingung karena tidak ada deskripsi pekerjaan yang jelas. Inisiatifnya muncul saat ia menemukan alat aneh tertutup kain berdebu—sebuah pengontrol PID yang dibuang oleh insinyur lain. Ia mengotak-atiknya hingga berfungsi kembali, sebuah momen yang menandai bakatnya dalam "memperbaiki situasi". Karakternya yang keras kepala (obstinate) terlihat jelas ketika ia memecat seorang karyawan yang mencuri sepeda rekannya di tempat. Ketika HR memprotes prosedur pemecatan itu, Troost melawan dengan tegas: "Terserah bagaimana kalian mengurusnya, tapi orang ini tidak lagi bekerja untuk saya."
#4: Etos Kerja "Superhuman" dan Kontrol Total (1970-an)
Sebagai pemimpin unit IDS di S&I, Troost dikenal memiliki energi tak terbatas. Ia bekerja dari pagi hingga tengah malam, membawa pulang koper penuh dokumen untuk dibaca sebagai cara "bersantai". Ia membaca semua materi rapat direksi, bukan hanya bagiannya sendiri, dan sering menegur rekan direktur lain yang membual dengan menunjukkan data spesifik: "Catatan rapat lalu, halaman sepuluh, baris kedua." Ia juga seorang "pengendali" (control freak) yang legendaris; setiap kali bepergian, ia meninggalkan rencana perjalanan mendetail lengkap dengan nomor telepon setiap hotel yang akan ia singgahi.
#5: Kerajaan Proyek dan Filosofi Frits Philips (Strategi Ekspansi)
Troost memegang teguh nilai sosial yang diajarkan Frits Philips: perusahaan wajib menyediakan lapangan kerja. Karena itu, ia tidak pernah berkata "tidak" pada proyek apa pun. Ia mengambil proyek-proyek "aneh" seperti otomatisasi observatorium Dwingeloo (membutuhkan helikopter untuk akses), pabrik penyulingan Pernod, hingga jaringan pendeteksi polusi udara. Strateginya adalah mengambil orang-orang yang dianggap "berlebih" atau akan di-PHK oleh departemen lain untuk mengerjakan proyek-proyek ini. Salah satu proyek tersuksesnya adalah mesin penyortir surat untuk dinas pos, yang kelak menghasilkan pendapatan $75 juta dan keuntungan besar.
#6: Mekanisme "Cadangan Tersembunyi" (The 7% Solution)
Bagaimana Troost membiayai pengembangan stepper yang terus merugi? Ia menggunakan taktik akuntansi cerdik. Pada setiap penawaran proyek eksternalnya, ia menambahkan biaya 7% sebagai "biaya mekanisasi". Akumulasi dari biaya ini menciptakan cadangan tersembunyi (hidden reserve) yang luput dari radar ketat manajemen keuangan Philips. Dana gelap inilah yang ia gunakan untuk menghidupi tim stepper.
#7: Konfrontasi dengan "Bean Counters" (Akhir 1970-an)
Tindakan Troost diawasi ketat oleh departemen keuangan, terutama oleh Urbain Devoldere, Ad van der Linde, dan direktur komersial Ab de Boer. Dalam satu rapat panas, Van der Linde menyerang: "Apa sebenarnya yang dilakukan Wim? Bukankah lebih baik insinyur top kita mengerjakan bisnis inti saja?" Troost membalas dengan emosional namun mematikan: ia mengingatkan para direktur lain bahwa ia-lah yang menampung karyawan yang mereka buang, dan proyek-proyeknya (seperti penyortir surat) memberikan keuntungan bagi unit bisnis direktur lain yang menyuplai komponen. Ketergantungan inilah yang membuat posisi Troost tak tersentuh, memungkinkannya terus melindungi "hobi mahal"-nya: wafer stepper.