ASML's Architects
Bab 5
The Violin Maker
#1: Pengungsian dan Pelatihan Vokasi Awal (November 1938 - 1941)
Kisah dimulai dengan Hajo Meyer muda (14 tahun) yang dilarang bersekolah di Bielefeld, Jerman, pasca-Kristallnacht karena latar belakang Yahudinya. Orang tuanya mengirimnya sendirian ke Belanda yang saat itu belum diduduki. Setelah berpindah-pindah kamp pengungsi, ia diterima di Desa Kerja Yahudi (Jewish Work Village) di Wieringermeer.
Di sana, Meyer memutuskan belajar permesinan (machining) di sekolah kejuruan. Ia sangat antusias dengan teknik dan musik. Dalam surat tertanggal 3 Oktober 1939, ia meminta orang tuanya mengirimkan buku matematika yang bagus untuk belajar mandiri. Lingkungan ini dipenuhi intelektual pengungsi yang membimbingnya, termasuk seorang mahasiswa matematika dari Wina. Keterampilan teknis yang dipelajari di sinilah yang kelak menjadi fondasi pemahamannya tentang mesin presisi.
#2: Pendidikan di Tengah Perang dan Penangkapan (1941 - 1944)
Pada 1941, Jerman menutup desa kerja tersebut. Meyer (16 tahun) secara ajaib lolos dari pengiriman ke kamp Mauthausen dan diizinkan ke Amsterdam untuk bersekolah di sekolah kejuruan Yahudi setelah lulus tes masuk dengan nilai sempurna. Ia kemudian ditampung keluarga asuh dan bersekolah di SMA Montessori Yahudi, di mana ia diajar oleh para profesor universitas yang dipecat oleh Nazi.
Setelah lulus ujian akhir (yang secara mengejutkan diizinkan oleh Gestapo), Meyer bersembunyi di kota kecil Blaricum. Namun, ia akhirnya tertangkap dan dikirim ke Auschwitz.
#3: Bertahan Hidup di Kamp Konsentrasi (1944 - 1945)
Di Auschwitz, Meyer dipindahkan ke kamp kerja paksa Gleiwitz I karena Jerman membutuhkan tenaga terampil. Pengalamannya sebagai teknisi mesin menyelamatkan nyawanya; ia bekerja memperbaiki gerbong kereta di pabrik yang memiliki pemanas, terhindar dari kerja paksa di luar ruangan yang mematikan.
Meyer lolos dari kamar gas dua kali. Pada Januari 1945, ia selamat dari death march ke sungai Oder saat Soviet mendesak pasukan SS mundur. Ia kemudian kembali ke Belanda dalam kondisi sakit parah. Tragisnya, kedua orang tuanya tidak selamat; ayahnya meninggal karena TBC di Theresienstadt, dan ibunya bunuh diri dengan pil sianida saat diperintahkan ke Auschwitz.
#4: Perekrutan ke Natlab oleh Casimir (1950)
Setelah perang, Meyer mendapatkan beasiswa berkat nilai ujiannya yang sangat baik dan belajar fisika di Universitas Amsterdam. Atas saran profesornya, ia menemui Hendrik Casimir di Natlab pada tahun 1950. Wawancara berjalan sangat lancar karena Meyer sangat menguasai artikel-artikel fisika teoretis Casimir (mengenai momen kuadrupol).
Casimir terkesan dengan antusiasme pemuda 26 tahun tersebut. Meskipun latar belakang Meyer sebagai fisikawan teoretis dianggap sulit untuk diterapkan langsung di Philips, Casimir melihat potensi besar dan mempekerjakannya, awalnya dengan tugas ganda: separuh waktu sebagai editor Philips Technical Review untuk memperluas wawasan, dan separuh lagi di riset eksperimental.
#5: Transisi ke Semikonduktor dan Pelatihan Internasional (1950-an)
Di bawah bimbingan Casimir yang ingin ia mendapatkan pengalaman luas, Meyer bekerja di grup kriogenik dan ditugaskan menulis laporan pertama tentang transistor. Ia kemudian dikirim ke Bell Labs di New Jersey bersama Piet Haaijman untuk mempelajari pembuatan transistor.
Setelah menguasai teknologi tersebut, Meyer mengajarkannya kepada peneliti Natlab lainnya. Ia bahkan menghabiskan waktu 10 minggu di Matsushita, Jepang, untuk mentransfer pengetahuan tentang transistor kepada mitra Philips tersebut. Hubungan pribadinya dengan Casimir semakin erat, sering berdiskusi tentang fisika, musik, dan filsafat.
#6: Menjadi Direktur Bagian dan Masalah Hendrik de Lang (1964)
Pada tahun 1964, Casimir mengangkat Meyer sebagai direktur bagian (section director) menggantikan Eddy de Haan. Meyer bertanggung jawab atas teknologi tabung vakum, senjata elektron, dan yang paling penting: optik.
Tugas pertamanya yang berat adalah menangani Hendrik de Lang, seorang insinyur optik jenius namun sangat keras kepala dan sulit diatur. De Lang memiliki tumpukan 50 proposal paten di mejanya yang tidak pernah diajukan karena ia bermusuhan dengan departemen paten. De Haan menyerahkan masalah ini kepada Meyer dengan peringatan bahwa De Lang adalah orang yang sulit namun karyanya sangat penting.
#7: Penyelamatan Paten Optik dan Visi Presisi (Musim Panas 1964)
Pada suatu akhir pekan di musim panas, Meyer mempelajari tumpukan proposal paten De Lang. Latar belakang unik Meyer sebagai seorang machinist (dari masa pelatihan vokasinya) dan fisikawan membuatnya melihat apa yang tidak dilihat orang lain: ia menyadari bahwa penemuan optik De Lang dapat digunakan untuk menciptakan mesin dengan presisi yang jauh lebih tinggi.
Meyer berhasil memenangkan rasa hormat De Lang karena pemahamannya yang mendalam terhadap materi teknis tersebut. Semua paten akhirnya diajukan. Meyer kemudian mengambil keputusan strategis untuk membentuk grup riset yang menggabungkan tiga disiplin ilmu: optik, mekanika presisi, dan fotokimia.
#8: "Benih" Wafer Stepper dan Pembuat Biola (Akhir 1960-an - 1984)
Keputusan Meyer untuk menggabungkan ketiga disiplin ilmu tersebut terbukti krusial. Grup inilah yang di kemudian hari menjadi tempat lahirnya teknologi Video Long-Play (pendahulu CD) dan Wafer Stepper (mesin pembuat chip). Tanpa visi Meyer yang menghargai teknologi presisi optik De Lang, teknologi dasar ASML mungkin tidak akan berkembang di Natlab.
Hubungan kerja Meyer dan De Lang juga dipererat oleh kecintaan mereka pada musik; keduanya bermain biola. Terinspirasi oleh De Lang yang juga pembuat biola, Meyer menekuni pembuatan biola setelah pensiun pada tahun 1984. Ia membuat sekitar 50 instrumen berkualitas konser dan menerbitkan artikel ilmiah tentang akustik, sehingga ia dikenal di kalangan peneliti Natlab sebagai "Si Pembuat Biola".