Lithography Wars

Chip War 
Bab 32
Lithography Wars

#1: Pertaruhan Eksistensial Intel pada "Cahaya Mustahil" (1992)
Pada tahun 1992, John Carruthers, kepala R&D Intel, menghadap CEO Andy Grove dengan permintaan dana $200 juta yang mencengangkan. Tujuannya bukan untuk pengembangan produk biasa, melainkan untuk riset spekulatif litografi Extreme Ultraviolet (EUV) dengan panjang gelombang 13,5 nanometer.

Langkah ini dianggap gila karena saat itu industri masih menggunakan cahaya 193 nm atau 248 nm. Melompat ke 13,5 nm dianggap "mustahil secara fisika" oleh banyak ilmuwan karena cahaya tersebut akan diserap oleh hampir semua materi (termasuk lensa kaca dan udara). Namun, setelah berkonsultasi dengan Gordon Moore yang bertanya, "Apa pilihan lain yang kamu punya?", Grove menyetujui dana tersebut. Ia menyadari bahwa tanpa lompatan radikal ini, Hukum Moore akan mati, dan Intel akan kehilangan relevansinya. Intel rela membuang miliaran dolar untuk teknologi yang tidak akan pernah mereka jual, hanya demi memastikan seseorang bisa membuat alat tersebut untuk mereka di masa depan.

#2: Tiga Dimensi "Perang Litografi" (1990-an)
Sepanjang dekade 1990-an, industri ini tidak hanya bertarung secara komersial, tetapi terlibat dalam tiga perang sekaligus: Rekayasa, Bisnis, dan Geopolitik.

Secara rekayasa, para ilmuwan berdebat sengit tentang penerus cahaya optik: apakah Sinar-X, Sinar Elektron (E-beam), atau Ion. Secara bisnis, biaya pengembangan yang meroket memaksa konsolidasi brutal; perusahaan litografi AS seperti GCA telah bangkrut, dan Silicon Valley Group (SVG) tertinggal jauh. Secara geopolitik, ini adalah pertarungan untuk menentukan siapa yang memegang kunci gerbang teknologi masa depan: apakah raksasa Jepang (Nikon/Canon) yang saat itu mendominasi, atau kekuatan baru dari Barat.

#3: Strategi "Integrator"
ASML Mengalahkan "In-House" Jepang ASML, yang lahir dari spin-off Philips pada tahun 1984, memulai perjalanannya dengan kondisi finansial yang menyedihkan—tanpa uang dan fasilitas layak. Namun, kekurangan ini memaksa mereka mengadopsi strategi yang justru menjadi keunggulan fatal mereka: Integrasi Sistem.

Berbeda dengan Nikon dan Canon yang perfeksionis dan bersikeras membuat semua komponen (lensa, laser, sensor) sendiri secara in-house, ASML memilih untuk merakit mesin dari komponen terbaik yang dibeli dari pemasok spesialis di seluruh dunia (misalnya lensa Zeiss dari Jerman). Keunggulan ini membuat ASML lebih gesit dalam mengadopsi teknologi baru. Selain itu, status ASML sebagai perusahaan Belanda yang "netral" membuat perusahaan Amerika seperti Micron lebih nyaman membeli dari mereka daripada dari Nikon/Canon, yang dicurigai akan memprioritaskan industri Jepang.

#4: Kebakaran yang Mengukuhkan Poros ASML-TSMC (1989)
Hubungan simbiosis antara ASML dan TSMC bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari struktur kepemilikan dan insiden tak terduga. Karena Philips (induk ASML) adalah investor awal TSMC, pabrik TSMC dirancang sesuai spesifikasi mesin Philips/ASML.

Titik balik terjadi pada tahun 1989 ketika kebakaran besar menghancurkan salah satu fasilitas fabrikasi (fab) TSMC. Dengan uang asuransi di tangan, TSMC memesan 19 mesin ASML sekaligus untuk mengganti peralatan yang rusak. Pesanan massal ini menyelamatkan keuangan ASML yang saat itu masih goyah dan menjadikan TSMC sebagai basis pengguna setia yang tumbuh bersama ASML, menciptakan standar manufaktur yang kelak mendominasi dunia.

#5: Konsorsium EUV: Uang Amerika, Teknologi Belanda (1996 - 2001)
Pada tahun 1996, Intel yang frustrasi dengan lambatnya kemajuan teknologi memprakarsai konsorsium EUV dengan menggandeng Laboratorium Nasional Departemen Energi AS (Lawrence Livermore & Sandia). Karena Nikon dan Canon dari Jepang dilarang mengakses riset ini akibat sentimen perang dagang masa lalu, ASML menjadi satu-satunya mitra komersial yang diizinkan masuk.

Ironisnya, meskipun teknologi dasar EUV (sumber cahaya plasma, cermin presisi) dikembangkan menggunakan uang pajak dan ilmuwan Amerika, tidak ada perusahaan AS yang tersisa yang mampu mengomersialkannya. ASML, dengan kemampuan integrasi sistemnya, diberi "karpet merah" untuk mengambil hasil riset laboratorium AS tersebut dan mengubahnya menjadi mesin produksi massal, sebuah keputusan yang didasari oleh kepraktisan bisnis Intel daripada strategi keamanan nasional jangka panjang.

#6: Penjualan SVG dan Monopoli Total (2001)
Langkah terakhir menuju dominasi mutlak terjadi pada tahun 2001 ketika ASML mengakuisisi Silicon Valley Group (SVG), satu-satunya produsen litografi AS yang tersisa.

Meskipun tiga senator AS dan beberapa pejabat Pentagon memperingatkan bahwa penjualan ini akan membuat AS kehilangan kendali atas teknologi strategis ("seluruh teknologi EUV pemerintah AS akan jatuh ke tangan ASML"), pemerintahan George W. Bush menyetujuinya. Washington saat itu terbuai oleh optimisme globalisasi pasca-Perang Dingin ("Dunia Tanpa Batas"), percaya bahwa perdagangan bebas akan menjamin keamanan. Akibatnya, rantai pasokan paling vital di dunia tidak menjadi terdistribusi secara global, melainkan termonopoli secara tunggal di Veldhoven, Belanda.

Leave a Comment