“This Is the Future”

Chip War 
Bab 24
“This Is the Future”

#1: Batas Desain Manual dan Pisau Peniti (1971)
Hingga akhir tahun 1970-an, desain chip masih dilakukan dengan metode manual yang melelahkan seperti yang dilakukan Federico Faggin saat merancang mikroprosesor pertama pada tahun 1971. Faggin menghabiskan waktu berbulan-bulan membungkuk di atas meja gambar, menggunakan pensil warna dan memotong film Rubylith dengan pisau peniti untuk membuat masker sirkuit.

Metode "pengrajin abad pertengahan" ini menjadi tidak berkelanjutan karena Hukum Moore menuntut chip dengan jutaan transistor; alat sederhana seperti pinset dan pensil tidak mungkin lagi menangani kompleksitas sirkuit yang tumbuh secara eksponensial.

#2: Revolusi Mead-Conway dan Otomatisasi Desain (Awal 1980-an)
Solusi datang dari kolaborasi fisikawan Carver Mead dan ilmuwan komputer Lynn Conway (yang sebelumnya dipecat IBM karena transisi gender). Menyadari bahwa pembuatan chip membutuhkan kekakuan algoritmik, mereka menyusun "aturan desain" (design rules) matematika yang memungkinkan komputer untuk mengambil alih proses desain.

Inovasi ini menciptakan momen "Gutenberg" bagi industri chip: memisahkan proses desain dari manufaktur. Dengan metode ini, desainer tidak perlu lagi menggambar setiap transistor secara manual, melainkan bisa menggunakan perpustakaan "suku cadang yang dapat dipertukarkan" (interchangeable parts) dalam perangkat lunak, memungkinkan mahasiswa sekalipun untuk merancang chip canggih tanpa perlu menginjakkan kaki di pabrik (fab).

#3: Peran Vital DARPA dalam Ekosistem R&D (sepanjang dekade 1980-an)
Melihat potensi militer dari revolusi desain ini, Pentagon melalui DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency) menggelontorkan dana besar untuk mendanai infrastruktur pendidikan dan riset universitas.

Langkah ini diambil bukan untuk menyelamatkan perusahaan yang gagal, melainkan untuk membangun pasokan perancang chip yang cukup bagi Amerika. Pendanaan DARPA di universitas seperti UC Berkeley dan Carnegie Mellon melahirkan industri baru berupa perangkat lunak desain semikonduktor (EDA tools) yang kini digunakan oleh setiap perusahaan chip di dunia.

#4: Algoritma Viterbi dan Kebuntuan Nirkabel (1967 - 1971)
Di bidang komunikasi nirkabel, Andrew Viterbi telah menciptakan algoritma kompleks pada tahun 1967 untuk memecahkan kode sinyal digital di tengah gangguan gelombang udara. Namun, algoritma ini dianggap hanya bagus di atas kertas karena tidak ada radio yang memiliki daya komputasi cukup untuk menjalankannya.

Situasi tampak suram hingga tahun 1971, di mana para profesor dalam konferensi di St. Petersburg, Florida, dengan murung menyimpulkan bahwa bidang "coding" telah mati dan spektrum radio sudah mencapai batas kapasitas fisiknya.

Para profesor di tahun 1971 merasa pesimis karena menganggap spektrum radio ibarat jalan raya yang sudah macet total; teknologi saat itu tidak mampu memuat lebih banyak data tanpa menyebabkan tabrakan sinyal (interferensi). Meskipun rekan Jacobs, Andrew Viterbi, telah menemukan rumus matematika ("coding") untuk mengemas data dengan sangat efisien, para profesor menganggap bidang ini "mati" karena rumus tersebut membutuhkan daya komputasi masif yang saat itu hanya dimiliki komputer sebesar lemari, sehingga dianggap mustahil diterapkan pada perangkat radio praktis.

Irwin Jacobs menolak kesimpulan ini karena ia melihat satu hal yang diabaikan para akademisi: Hukum Moore. Ia memprediksi bahwa evolusi chip silikon akan segera memungkinkan daya komputasi raksasa tersebut dimampatkan ke dalam chip kecil dan murah. Visi inilah yang melahirkan Qualcomm, di mana algoritma rumit akhirnya bisa dijalankan di perangkat genggam untuk memproses data nirkabel secara massal, membuktikan bahwa hambatan tersebut bukanlah batas fisika, melainkan hanya keterbatasan perangkat keras sementara.

#5: "Ini Adalah Masa Depan" dan Lahirnya Qualcomm
Di tengah pesimisme konferensi tahun 1971 tersebut, Irwin Jacobs berdiri memegang sebuah chip kecil dan mendeklarasikan: "Ini adalah masa depan."

Jacobs bertaruh bahwa pertumbuhan eksponensial transistor akan segera memberikan daya komputasi yang cukup untuk menjalankan algoritma Viterbi secara praktis. Keyakinan ini—bahwa chip canggih dapat memadatkan lebih banyak data ke dalam spektrum radio yang terbatas—menjadi dasar berdirinya Qualcomm, yang kemudian mendominasi teknologi komunikasi nirkabel digital.

#6: Keberhasilan Ekosistem Inovasi (Akhir 1980-an)
Berbeda dengan kegagalan upaya penyelamatan perusahaan sekarat seperti GCA, investasi pemerintah dalam R&D terbukti sangat sukses. Kombinasi pendanaan DARPA dan kecerdasan universitas menciptakan ekosistem inovasi yang tak tertandingi.

Hasil nyatanya terlihat pada akhir dekade itu: Intel meluncurkan mikroprosesor 486 yang berisi 1,2 juta sakelar mikroskopis, sebuah pencapaian teknis yang dianggap mustahil hanya dua dekade sebelumnya saat Lynn Conway pertama kali tiba di Silicon Valley.

Leave a Comment