Chip War
Bab 18
The Crude Oil of the 1980s
#1: Pertemuan "Musuh" di Restoran Ming (Awal 1980-an)
Pada suatu malam musim semi yang dingin di Palo Alto, tiga titan teknologi—Bob Noyce (Intel), Jerry Sanders (AMD), dan Charlie Sporck (National Semiconductor)—berkumpul di Restoran China Ming. Meskipun mereka adalah mantan kolega di Fairchild yang telah menjadi rival sengit selama satu dekade, mereka memutuskan untuk bersatu kembali dan melupakan ego kompetitif mereka.
Langkah ini diambil karena mereka menyadari ancaman eksistensial dari pangsa pasar Jepang yang terus meroket; mereka tidak bisa lagi bertahan sendirian dan harus mengubah sikap dari "koboi" yang mengabaikan pemerintah menjadi kelompok lobi yang meminta bantuan Washington demi menyelamatkan industri semikonduktor Amerika.
#2: Semikonduktor sebagai "Minyak Mentah" Baru
Dalam pertemuan tersebut, Jerry Sanders mendeklarasikan bahwa semikonduktor adalah "minyak mentah tahun 1980-an" dan pihak yang mengendalikannya akan menguasai industri elektronik. Analogi ini sangat kuat karena merujuk pada trauma embargo minyak tahun 1973 dan 1979 yang melumpuhkan ekonomi AS.
Sanders berargumen bahwa karena setiap aspek kehidupan Amerika—mulai dari PC, mobil, hingga senjata militer—kini bergantung pada chip, membiarkan Jepang menjadi "Arab Saudi-nya semikonduktor" adalah risiko keamanan nasional yang sama besarnya dengan ketergantungan pada minyak Timur Tengah.
#3: Statistik Kejatuhan Amerika (1986 - Akhir 1980-an)
Kekhawatiran Sanders terbukti dengan data yang mengerikan bagi Pentagon. Pada tahun 1986, Jepang secara resmi menyalip Amerika dalam jumlah produksi chip. Situasi semakin parah pada akhir tahun 1980-an, di mana Jepang memasok 70 persen peralatan litografi dunia, sementara pangsa pasar Amerika anjlok menjadi hanya 21 persen.
Pergeseran dominasi ini merusak asumsi dasar strategi militer AS; Pentagon menyadari bahwa strategi "Offset" mereka (menggunakan teknologi canggih untuk mengimbangi jumlah pasukan Soviet) kini terancam gagal karena AS menjadi sangat bergantung pada produsen luar negeri untuk komponen paling sensitif dalam sistem pertahanan mereka.
#4: Satuan Tugas Pertahanan dan Pergeseran Belanja Militer
Merespons krisis ini, Departemen Pertahanan merekrut tokoh industri seperti Jack Kilby dan Bob Noyce untuk menyusun laporan revitalisasi. Laporan tersebut menyoroti fakta bahwa pada tahun 1980-an, sekitar 17 persen dari total belanja militer dialokasikan untuk elektronik, naik drastis dari hanya 6 persen pada akhir Perang Dunia II.
Keterlibatan Noyce—yang sebelumnya anti-bantuan pemerintah—menunjukkan betapa gentingnya situasi tersebut. Kesimpulan satuan tugas itu sangat jelas: keunggulan militer AS bergantung pada elektronik, elektronik bergantung pada semikonduktor, dan AS akan segera kehilangan kemampuan untuk memproduksi semikonduktor canggih tersebut secara mandiri.
#5: Bumerang Kebijakan Pasca-Perang (1951 - 1980-an)
Krisis ini juga menyoroti konsekuensi tak terduga dari kebijakan luar negeri AS pasca-Perang Dunia II. Melalui pakta pertahanan tahun 1951, AS membatasi belanja militer Jepang hanya sekitar 1 persen dari PDB mereka, sementara AS menghabiskan 5 hingga 10 kali lipat lebih banyak untuk pertahanan.
Pembagian kerja ini awalnya dimaksudkan untuk mencegah militerisme Jepang, namun justru memberikan Jepang keunggulan ekonomi yang masif. Karena tidak perlu membiayai militer yang mahal, Jepang dapat menginvestasikan seluruh modalnya ke dalam manufaktur teknologi tinggi dan pertumbuhan ekonomi, yang akhirnya menjadikan mereka ekonomi terbesar kedua di dunia dan ancaman utama bagi basis industri pertahanan Amerika.